Kasih Sayang Untuk Aditya

Kasih Sayang Untuk Aditya
Bab 89


__ADS_3

Bismillahirrohmanirrohim


بسم الله الر حمن الر حيم


Allahumma sholli ala sayyidina Muhammad wa ala ali sayyidina Muhammad.


اللهم صلي عل سيدن محمد و عل ال سيدن محمد.


Eris menghentikan mobil yang dia kemudi tepat di depan sebuah rumah sakit terbesar di kota B. Rumah sakit mana lagi kalau bukan rumah sakit Harapan Bangsa.


Hans menyadari mobil yang dikendarai Eris sudah sampai di depan rumah sakit segera turun dari dalam mobil. Tapi sebelum itu dia bicara lebih dulu pada asistennya.


"Er, kamu langsung jemput Azril saja. Tidak usah ikut saya," ucap Hans sebelum keluar dari mobil.


Sepertinya ada yang salah dengan Eris, karena dia saat ini sedang melamun padahal Hans sedang mengajaknya bicara.


"Apa kau baik-baik saja Er, atau ada masalah," ucap Hans lagi sedikit lebih keras dari sebelumnya.


Sontak Eris langsung tersadar dari lamunannya, dia merasa baru saja melakukan kesalahan karena telah mengabaikan sang bos untung Hans tidak mengomel.


"Tuan muda," ucapnya, Hans menaikan sebelah alisnya.


"Kau baik-baik saja?"


"Memangnya ada apa dengan saya Tuan muda," heran Eris, apalagi melihat Hans tak kunjung keluar dari dalam mobil.


"Kamu tahu apa yang saya suruh barusan?" Eris menggeleng pelan.


"Maafkan saya tidak memperhatikan ucapan anda Tuan muda," sesal Eris.


"Berhenti bicara formal denganku, Eris! ini masih diluar jam kerja. Dan jangan terlalu sering kau memanggilku Tuan muda, kupingku sakit mendengarnya." Eris mendengus kesal.


"Sekarang jemput Azril!" tegas Hans tidak ingin dibantah.


"Sekarang?"


'Astagfirullah, bagaimana ini. Kenapa perasaanku menjadi sedikit tidak enak,' batin Eris merasa ada sebuah masalah yang akan menimpa dirinya. Tapi tidak tahu apa?


"Kenapa kamu tidak mau. Apa sedari tadi kamu memang tidak memperhatikanku, Eris! atau ada yang salah dengan dirimu?"


"Tidak saya baik-baik saja, saya akan segera menjemput nona Azril,"


"Nona?"

__ADS_1


"Astagfirullah, salah lagi gue," gumun Eris pelan.


"Udah sono lo turun deh Hans, lo kan nyuruh gue jemput Azril, gue jemput sekarang atau lo juga mau ikut," ucap Eris akhirnya.


Hans mendengus kesal melihat Eris mengusirnya, tapi dia tetap menuruti apa kata Eris. Hans segera turun dari mobil.


"Gue jemput Azril dulu, Assalamualaikum," pamit Eris pada Hans.


"Wa'alaikumsalam, ini baru normal." Hans berucap setelah mobil yang dikendari Eris melaju menuju pesantren Azril.


Memerlukan waktu dua jam agar Eris bisa sampai di pesantren Azril, kini di dalam mobil dirinya tengah pusing memikirkan bagimana caranya agar Azril bisa pulang dengan dirinya nanti tanpa ada kesalah pahaman dari pihak pesantren.


"Astagfirullah, mikirin gini dong kepala gue hampir mau meledak rasanya."


Akhirnya Eris memutuskan untuk istirahat sejenak di sebuah cafe tak jauh dari tempatnya sekarang, sambil memikirkan cara bagaimana agar Azril bisa pulang bersamanya. Masa dia sudah jauh-jauh menjemput Azril nantinya harus pulang dengan tangan kosong.


"Benar bagimana caranya pasti ada cara," ucap Eris pada diri sendiri sambil menikmati minuman yang sempat dia pesan tadi.


Sibuk dengan pikirannya sendiri sampai Eris meraba saku celananya, ada sesuatu yang terletak disana Eris segera mengambilnya. Melihat apa yang dia lihat Eris tersedak ludahnya sendiri.


"Astagfirullah, sering banget gue keselek." Eris menyalahkan dirinya sendiri.


Ternyata yang tadi ada disaku celana Eris adalah sebuah kota kecil yang di dalamnya terdapat kalung sederhana tapi sangat indah.


Kemudian Eris ingat jika kalaung tersebut dia beli untuk melamar Azril, setelah menendegar nasihat dari Aditya, si anak kecil yang terlalu pintar menurut Eris sendiri.


"Apa aku bisa melamar Azril? apa aku punya keberanian itu melakukan hal itu. Aku hanya tidak mau keluarga Kasa memandangku yang tidak-tidak apalagi mereka begitu baik dengan aku yang sebetar kara ini."


Sebuah ide juga muncul di kepala Eris bagaimana dia bisa membawa Azril pulang dan mendapat izin dari pihak pesantren. Buru-buru Eris pergi setelah membayar pesannya tadi.


"Alhamdulillah, dapat juga caranya."


Dia bergegas kembali melajukan mobilnya untung saja kotak kalung tadi sudah kembali Eris simpan dengan rapih.


Eris tidak tahu apakah nanti kalung itu akan sampai pada pemiliknya yang pantas untuk mengenakan kalung dari dirinya atau akan tetap berada di dalam saku celana miliknya.


Waktu bergulir tidak ada 2 jam Eris mengendarai mobil dia sudah sampai tepat di depan pesantren Azril menimba ilmu, tanpa menunggu lama lagi dia segera menemui Azril. Guru Azril mengenali Eris, karena dia sering mengantar nyonya Milda dan Tuan Leka untuk mengunjungi Azril.


"Assalamualaikum," salam Eris.


"Wa'alaikusalam, Nak Eris datang sendiri?"


"Benar kyai, boleh saya bertemu Azril?" tanya dengan sangat sopan.

__ADS_1


"Boleh, tapi harus bicara disini saja tidak apa?"


"Tidak apa Pak kyai itu lebih baik," balas Eris sopan.


"Tunggu sebentar biar Azril dipanggilkan dulu. Mei, panggil dulu Mbak Azril," suruh Kyai Halim pada putrinya.


"Baik Abi, Assalamualikum."


"Wa'alaikumsalam," mereka yang ada di ruang tamu Kyai Halim menjawab kompak.


"Jadi begini Pak kyai sebenarnya saya disini ingin menjemput Azril pulang. Saya tahu mungkin tidak mendapat izin dari kyai, tapi di rumah kami sudah berdiskusi terlebih dahulu. Papa tidak bisa ikut begitu juga Arion dan Hans, Mama juga sama." Eris menjeda perkataannya sejenak.


"Jadi saya terpaksa menjemput Azril sendiri, saya tau status kami. Tapi boleh saya membawa Azril pulang, dia akan duduk di belakang. Tapi jika tidak diizinkan biar nanti ada yang menemani Azril bagimana, masalah balik lagi kesini mereka bisa diantar lagi," jelas Eris.


Kali ini dia tidak ingin berdebat seperti 1 tahun yang lalu. Tampaknya Kyai Halim tidak langsung menjawab beliau sedang berpikir sejenak atas ucapan Eris.


Sampai suara salam membuat mereka menoleh pada pintu rumah. "Assalamualaikum." Mei bersama Azril mengucap salam bersama.


"Wa'alaikumsalam."


Di ruang tamu Kyai Halim ada beliau dan istrinya juga Eris bersama satu anak Kyai Hilam yang laki-laki seumuran Arion.


"Kak kok disini?" ucap Azril pada Eris.


Eris hanya mampu tersenyum samar dia harus mengendalikan diri jangan sampai Kyai Halim tahu jika dirinya menyukai Azril, bisa tambah susuah urusanya nanti, walaupun Eris yakin Insya Allah, dia tidak akan melakukan hal macam-macam.


"Disuruh Mama jemput kamu, Mbak Lia sebentar lagi akan melahirkan." Eris menyadari kebodohannya sendiri.


"Astagfirullah, maaf Kyai saya melupakan hal penting satu ini," ujar Eris merasa tidak enak.


"Tak apa, Azril bersiap lah kemasi barang-barangmu pulang bersama Nak Eris, nanti Mei dan Zidan yang akan menemani kalian."


"Baik Kyai, saya pamit undur diri. Assalamualikum,"


"Wa'alaikumsalam."


Eris bernapas lega karena Kyai Halim mengizinkan Azril untuk pulang walaupun mengutus dua anaknya sekaligus. Eris merasa tidak enak tapi mau bagaimana lagi.


"Nanti kita pulangnya gimana Abi?" tanya Mei pada ayahnya.


"Masalah pulang gampang Nak, nanti kalau sudah sampai di rumah Mbak Azril baru pikirkan cara pulang," sahut Sang Umi yang sedari tadi hanya menyimak obrolan mereka.


"Baik Umi." Zidan dan Mei menjawab bersama.

__ADS_1


(Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Laa ilaaha illallah, Laa ilaaha illallah, Laa ilaaha illallah. Allhamadulilah, Allhamadulilah, Allhamadulilah. Subhanallah, Subhanallah, Subhanallah.)


__ADS_2