Kasih Sayang Untuk Aditya

Kasih Sayang Untuk Aditya
Bab 47


__ADS_3

Bismillahirrohmanirrohim.


Dalam sebuah rumah tangga pasti akan ada cobaan dan ujian menerpa, hanya saja tergantung bagaimana kedua orang yang terlibat di dalamnya menyikapi masalah rumah tangga mereka. Apakah mereka mau melibatkan Allah atau tidak di dalamnya, ini bukan pilihan tapi seharusnya memang selalu melibatkan Allah.


Pada dasarnya manusia adalah makhluk hidup sudah pasti akan mendapatkan ujian dan cobaan dalam kehidupan. Jika seorang selama hidupnya tidak pernah mendapatkan ujian dan cobaan hanya hidup lurus saja, sama saja dia seperti tak bernyawa bukan. Patient monitor untuk pasien saja jika masih bergelombang tandanya pasien masih bernyawa, kalau sudah lurus artinya, sudah tidak hidup lagi.


Kita tak bisa mengatur semau kita akan bertemu dengan siapa dalam kehidupan ini, pada dasanya semua itu rahasia Sang Kuasa.


Hans bersama sang istri hendak masuk ke dalam mobil untuk menyusul ke kantor polisi menyelesaikan masalah yang terjadi, tapi ada seorang yang memanggil nama Ulya membuat Ulya juga suaminya menoleh pada sumber suara.


"Ulya." Panggil orang itu dari jarak yang tidak terlalu jauh.


Hans membalikan tubuhnya lebih dulu saat mendengar suara seorang laki-laki memanggil nama istrinya sangat jelas. Ulya juga ikut berbalik, dari tempat sepasang suami istri itu berada, mereka bisa melihat Zevran yang tengah berjalan menghampiri keduanya. Ulya tak bergerak, dia malah menatap sang suami yang tengah menatap lurus pada Zevran.


"Ulya." Ucap Zevran lagi setelah berada di hadapan Ulya dan Hans. Ada rasa perih di dalam hati laki-laki itu melihat tangan Ulya bertatu dengan tangan Hans.


Hans bahkan menggenggam erat tangan Ulya. Selama ini Zevran tahu betul Ulya tidak pernah mau disentuh oleh laki-laki yang bukan mahramnya, lalu sekarang apa? jangan katakan mereka sudah menikah, masalahnya kapan? tidak ada berita yang tersebar, secara Hans adalah orang terkenal di kota mereka. Atau mereka hanya sepasang kekasih? Tapi semua itu tidak mungkin, jika hanya sepasang kekasih.


Kedua tangan Zevran mengepal erat melihat pemandangan di depannya ini. 'Kenapa Ulya mau jalan berdua dengan tuan Hans, apa hubungan mereka saat ini? Bukankah Ulya seorang gadis yang sangat menjaga marwanya.' Batin Zevran, dia tidak sadar jika tengah melamun di depan sepasang suami, istri itu.


Hmm.


Hans berdeham sebentar sebelum angkat bicara pada Zevran. "Ada yang ingin anda sampaikan pada istri saya, tuan Zevran?"


Sebauh senyum kemenangan terbit disudut bibir Hans, dia memang bukan laki-laki pertama yang mengenal Ulya, Hans juga yakin dia juga bukan laki-laki pertama yang mencintai istrinya, dari tatapan Zevran saja Hans sudah bisa menebak jika laki-laki di hadapan mereka ini menaru rasa pada sang istri. Hans juga tidak tahu apakah dia laki-laki pertama atau bukan yang dicintai oleh sang istri, yang Hans tau dirinya pemenang hati Ulya bukan orang lain.


Sekaan kembali pada alam sadarnya Zevran terkejut mendengar pengakuan Hans tapi dia segera bersikap biasa saja.


"Istri?" cengonya tanpa sadar.

__ADS_1


"Selamat atas pernikahan tuan Hans dan Ulya. Saya kesini hanya ingin meminta maaf pada istri tuan Hans, atas kata-kata saya yang tidak pantas berapa bulan lalu." Zevran berkata dengan sungguh-sungguh.


"Sayang, apa kamu mau memaafkannya?" tanya Hans lembut sekali pada Ulya, padahal diluar sana Hans terkenal kasar pada perempuan.


Deg!


'Ya Allah, Astagfirullah. Malu banget kenapa, Mas Hans harus panggil sayang di depan kak Zevran.' Batin Ulya merasa tidak enak hati.


Memang Ulya bukan tipikal perempuan yang suka memamerkan kemesraannya di depan orang lain, dia terlalu malu. Ulya menatap Hans dalam sekaan meminta izin untuk memberikan jawaban pada Zevran.


Sebuah anggukan dari kepala Hans membuat Ulya seakan mendapatkan jawaban yang disetujui oleh suaminya. "Terima kasih, Mas." Ucapnya pelan.


Lalu Ulya melihat Zevran sejenak. "Bismillahirrohmanirrohim. Insya Allah, Lia sudah memaafkan, kak Zevran tepat saat hari itu juga." Ujar Ulya mantap.


Nyes!


Ya Allah, rasanya Zevran malu sekali. Benar sangat malu, dua gadis yang pernah dia hina kala itu mau memaafkan dirinya. Sebelumnya memang Zevran telah meminta maaf pada Cia, ketika mereka bertemu di taman waktu sore kala itu.


"Sekali lagi maaf Ulya, terima kasih sudah mau memaafkan saya. Saya juga meminta maaf pada tuan Hans. Semoga pernikahan kalian selalu diberkahi Allah." Zevran merasa malu pada Hans maupun Ulya.


"Aamiin." Sahut Ulya juga Hans.


"Belajarlah dari kesalahan anda, tuan Zevran. Saya tahu anda menyukai istri saya. Saya doakan semoga anda mendapatkan pasangan yang mencintai anda dengan tulus. Jika benar anda mencintai dia pasti anda bahagia melihat dia bahagia sekarang. Diacara resepsi pernikahan saya dan Lia nanti, saya mengundang anda secara khusus."


"Terima kasih tuan Hans, saya mengerti maksud anda. Saya pasti akan datang memenuhi undangan tuan Hans."


"Baiklah kami permisi, Assalamualikum." Ucap Hans juga Ulya.


"Wa'alaikumsalam." Jawab Zevran, dia masih tetap di tempatnya melihat kepergian mobil Hans.

__ADS_1


Bohong jika Zevran sudah tidak mencintai Ulya, sudah 4 bulan lebih dia berusaha melupakan gadis itu, sampai sekarang dia tidak bisa melupakan Ulya. Nama Ulya masih menempati ruang spesial di hatinya. Walaupun nyatanya Ulya hanya menganggap dia seorang kakak. Dari tadi di hadapan Ulya, dia berusaha tetap kuat, padahal hatinya amat sakit menerima kenyataan sang pujaan hati telah menjadi milik orang lain.


"Dia pantas bahagia Zevran, kamu juga pantas bahagia walaupun tidak dengan perempuan yang selama ini kamu sebut dalam doamu, mungkin Allah sedang menyiapkan jodoh terbaik untukmu. Jodoh tidak akan pernah tertukar." Ucapnya pada diri sendiri.


Tapi ada rasa lega tersendiri di hati Zevran telah meminta maaf secara langsung pada Ulya, dia berapa bulan ini dia hidup dalam rasa bersalah. Waktu itu jika tidak bertemu dengan Cia, mungkin sampai saat ini Zevran tidak memiliki keberanian untuk meminta maaf secara langsung pada Ulya.


Sedangkan di dalam sebuah mobil yang melaju menuju kantor polisi. Ulya memberikan diri menatap suaminya.


"Terima kasih untuk semuanya, Mas."


"Mas harusnya yang bilang terima kasih, Lia. Mas tahu pernikahan kita baru seumur jagung, tapi ayo kita jalankan dengan sama-sama." Ucap Hans sungguh-sungguh.


"Insya Allah, Mas. Asal kita selalu melibatkan Allah di dalamnya."


"Kamu benar, Allah segalanya. Jika kita tidak melibatkan Allah dalam rumah tangga kita itu artinya kita sudah mengkhianati rumah tangga kita sendiri." Balas Hans.


Tak lama kemudian mobil mewah itu sampai di depan kantor polisi, Hans dan Ulya segera masuk untuk menemui polisi yang sedang menangani Yulia dan Raka.


Brak!


"Lepas! Apa-apaan ini, saya tidak terima! Dia juga bersalah. Bahkan dia yang menyuruh saya melakukan kejahatan ini! Saya tidak mau masuk penjara, lepas!"


"Arkh....Tidak saya tidak mau!"


Mendengar keributan dari tempat interogasi Ulya dan Hans mempercepat langkah mereka ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi di dalam sana.


"Mas, ada apa?"


"Mas juga kurang tau dek, kita liat langsung saja. Ayo." Hans sampai menggandeng lembut tangan sang istri.

__ADS_1


Keduanya berjalan cepat menuju ruang interogasi.


__ADS_2