Kasih Sayang Untuk Aditya

Kasih Sayang Untuk Aditya
Bab 57


__ADS_3

Bismillahirrohmanirrohim..


Di rumah sakit harapan bangsa terjadi kekacauan disana, semua pekerja berkumpul disatu titik yang sama. Hans baru saja tiba di rumah sakit bersama istrinya menatap tajam semua orang.


"Apa yang terjadi disini?" tanya Hans dengan suara dinginya.


Aura di tempat itu tiba-tiba terasa mencengkam setelah kedatangan Hans semua orang menatap takut direktur muda tersebut termasuk Ulya. Baru pertama kali dia melihat suaminya jadi semenakutkan ini.


"Eris!" panggil Hans suaranya semakin terdengar dingin.


"Ya, Tuan muda saya disini." Jawa Eris sedikit gemetar.


"Apa yang sudah terjadi di rumah sakit, baru kemari saya pulang cepat! hari ini sudah ada kekacauan saja."


Eris tak langsung menjawab dia lebih sedikit mendekat posisi pada bosnya itu sambil membisikkan sesuatu.


"Ada yang ingin menghancurkan sistem rumah sakit ini, tuan muda." Bisik Eris. Hans mengangguk paham.


"Kalian semua kembalilah bekerja, saya akan segera menyelesaikan kekacauan yang terjadi disini!"


Mendengar perkataan Hans satu persatu orang-orang itu segera meninggalkan tempat kumpul mereka kembali melakukan pekerjaan yang tertudan.


"Eris, kamu sudah tahu pasti pelakunya."


"Benar tuan muda, orang yang sama."


"Baiklah ikut ke ruangan saya!" ujar Hans, tak lupa dia menggandeng tangan istrinya yang berdiri mematung di sebelah Hans.


"Sayang." Panggil Hans dengan suara pelan tepat di kuping Ulya.


"Astagfirullah." Kaget Ulya menatap suaminya sejenak.


"Apakah aku membuat kamu takut?" Ulya mengangguk membenarkan ucapan Hans, dia memang takut melihat kemarahan suaminya, walaupun tidak begitu parah tapi aura yang Hans keluarkan benar-benar mengerikan.


"Maaf." Sesal Hans.


"Tidak apa mas, bukan mas akan menyelesaikan kekacauan ini." Sanggah Ulya cepat.


Mereka segera menuju ruang direktur. Hans yakin pasti papanya tau masalah ini, tapi ingin dirinya yang menyelesaikan karena sekarang tanggung jawab rumah sakit ada ditangan Hans, tetap masih dalam pantauan tuan Leka. Dibantu Eris, Hans segera menyelesaikan semua masalah yang terjadi, rupanya Eris sudah bergerak cepat dari yang Hans kira.

__ADS_1


Rumah sakit harapan bangsa meruapan rumah sakit pusat. Rumah sakit lainnya di kota B, ada dibawah kuasa rumah sakit harapan bangsa.


"Kamu memang bisa saya andalkan Eris." Puji Hans pada orang kepercayaannya itu.


Menjelang siang barulah semua kekacauan yang terjadi bisa diatasi. Sampai Hans melupakan janjinya pada Aditya, padahal 15 menit lagi waktunya Aditya pulang dari sekolah.


"Mas, biar aku jemput Aditya sekalian minta tolong sama abang saja. Kerjaan mas juga masih belum selesai bukan, kasihan Aditya jika menunggu lama sebentar lagi sekolahnya akan bubar."


Hans menghembuskan nafas kasar, padahal dia sudah berjanji pada Aditya akan menjemput anak itu bersama Ulya. Tapi ada saja hal tak terduga terjadi.


"Baik, tolong sampaikan maafku pada Aditya karena hari ini aku tidak bisa menjemputnya."


"Insya Allah, Mas. Percayalah Aditya pasti mengerti. Lia pamit, Assalamualikum."


"Wa'alaikumsalam." Jawab Hans sekaan tidak rela membiarkan istrinya pergi.


Tadi Ulya sempat menghubungi abangnya terlebih dulu agar menjemputnya di rumah sakit, setelah itu baru mereka menjemput Aditya ke sekolah.


Setelah kepergian istrinya Hans kembali menyelesaikan pekerjaannya yang baru saja tertudan. Eris masih berada di sebelah bosnya itu. Dia siap untuk melakukan tugasnya.


"Eris mana semua data tentang anak tuan Barsa yang saya minta."


"Ini tuan muda." Eris memberikan berkas-berkas tentang informasi keluarga Barsa.


Brak!


"Raka sialan! Saya menyesal telah membebaskanmu, rupanya kau lebih parah dari perempuan itu." Maki Hans setelah membaca semua informasi yang dia dapat dari Eris.


"Ternyata kamu orangnya yang telah mencelakai Rama dan Jeni. Baiklah rupanya kalian ingin bermain-main denganku! Eris kumpulkan semua bukti kejahatan mereka, aku tidak akan memberikan keringan lagi untuk ini." Hans mengelapkan kedua tangannya erat, tatapan amat tajam.


"Eris, majukan semua jadwal yang sudah direncanakan, usahakan acara resepsi pernikahan saya seminggu lagi. Besok hari ulang tahun Aditya, kamu tahu apa yang harus kamu lakukan Eris."


"Saya mengerti tuan muda, saya akan melaksanakan perintah dari tuan muda."


'Ahi, nggak mungkin juga gue nolak apalagi aura ini orang udah kagak enak dari tadi. Rasanya gue mau mati saja.' Keluh Eris dalam benaknya.


Hans menatap tajam Eris. "Bagus! tapi tidak usah kau mengumpat dalam hatimu itu, saya tahu karena ekspresimu!"


Sedangkan di depan gerbang sekolah Aditya anak itu baru saja keluar dari area sekolah tapi anehnya dia tidak melihat mobil daddynya. Aditya mencari kesana kemari mobil Hans, tapi dia tidak melihat mobil sang daddy. Ulya bersama Fahri sedang berada di jalan menuju sekolah Aditya.

__ADS_1


"Dimana daddy? bukankah daddy berjanji tidak akan terlambat menjemputku!"


Seorang laki-laki bertubuh tegap dan memiliki rupa yang menakutkan untuk ukuran anak-anak seumuran Aditya. Orang itu melangkah cepat menghampiri Aditya.


"Hai, adik kecil." Sapa orang tersebut. "Mau permen." Tawarnya karana Aditya tidak menghiraukan dirinya.


"Om ciapa sih! Aku tidak mengenal om."


"Kamu sedang menunggu daddymu bukan, ayo ikut om. Om yang disuruh menjemput kamu."


"Tidak mau!"


"Ayo adik kecil tidak usah keras kepala." Ucap laki-laki itu, Aditya berusaha menghindar, sayang sekali tubuh Aditya yang masih terlalu kecil membuat dirinya susah untuk menghindari om seram ini.


Ingin minta tolong pada siapa, tidak ada orang lagi di sekolah mereka, semua orang telah pulang ke rumah masing-masing tempat itu juga sedikit sepi.


'Ayolah Aditya pikirkan bagaimana caranya kamu kabur dari orang jahat ini.' Batinya, dia tahu pasti om ini ingin berbuat jahat.


Aditya menggulung senyum setelah mendapatkan sebuah ide yang muncul di kepalanya.


"Om ciapa namanya? Katanya om disuruhan daddy untuk menjemput Aditya, kalau begitu Aditya akan percaya jika om mengatakan ciapa nama om."


"Panggil saja saya om Edo."


"Om Edo, Aditya mau ikut bercama om asalkan om Edo mengikuti keinginan Aditya terlebih dahulu."


Edo menggulung senyumnya mendengar perkataan Aditya. "Rupanya ini tidak terlalu sulit."


"Katakan apa yang kamu ingin dari om Edo."


"Tidak sucah, Aditya hanya ingin om jalan melompat seperti kodok, dalam 10 kali putaran baru Aditya setuju ikut bersama om."


"Setuju!" tanpa menunggu lama Edo melompat seperti yang Aditya inginkan, Edo tidak sadar jika sedang dikerjain oleh seorang bocah.


"Hahaha, lagi om, lagi." Aditya tertawa puas melihat Edo benar-benar melakukan apa yang dia ingikan.


Tak jauh dari tempat Edo dan Aditya berada seorang mengumpat kasar Edo di dalam mobil. "Cih! Tubuh saja seperti gajah, tapi otak tidak ada sudah tahu dikerjain sama anak kecil, dia bodoh atau bagaimana. Memang harus aku lagi yang turun tangan." Ucap orang itu.


Dia keluar dari mobilnya mendekati Aditya dan Edo. Hampir saja laki-laki itu ingin memanggil temannya sebuah mobil berhenti tepat didekat mereka.

__ADS_1


"Bodoh bawa anak itu kabur cepat!" teriaknya pada Edo, saat melihat kedatangan Ulya, perempuan yang pernah membuat mereka babak belur.


"Aditya."


__ADS_2