Kasih Sayang Untuk Aditya

Kasih Sayang Untuk Aditya
Bab 61


__ADS_3

Bismillahirrohmanirrohim.


Acara resepsi pernikahan Hans akhirnya berjalan lancar setelah sedikit kekacauan yang terjadi. Semua orang menikmati acara dengan rasa senang. Namun, tidak dengan Zevran dan Hani. Mereka menunggu Ibu Dita yang masih terlihat lemas.


"Boleh saya bicara empat mata dengan Mama kalian." Ucap Milda hati-hati.


Zevran mengangguk, dia menatap adiknya sejenak yang terlihat enggan untuk keluar meninggalkan Mama mereka. "Dek, ikut Kakak sebentar." Ujar Zevran menarik lembut tangan sang Adik.


Hani tidak punya pilihan lain selain mengikuti Kakaknya. Setelah ke pergian Zevran dan Hani, nyonya Milda menatap ramah Ibu Dita.


"Bagaimana sekarang kondisi Ibu?" tanya Milda hati-hati sekali, beliau tahu saat ini suasana hati Ibu Dita tidak baik-baik saja.


Istri mana yang baik-baik saja melihat suami sendiri melakukan kejahatan di depan mata, melihat sang suami ditangkap oleh para polisi. Ibu mana yang tega membiarkan anaknya berada di tangan polisi, semua ini berat bagi Ibu Dita, tapi kekacauan tidak akan terjadi jika anak dan suaminya tidak memulai.


"Alhamdulillah, saya merasa sudah jauh lebih baik nyonya. Terima kasih sudah membantu saya."


Milda tersenyum ramah, beliau tahu betul dari tatapan Ibu Dita sedikit takut pada nyonya besar keluarga Kasa. "Jangan panggil saya nyonya, Bu. Panggil saja saya Milda kalau tidak Ibu Milda."


"Tapi sa-"


"Sudah tak apa, tidak usah merasa tidak enak. Saya kesini mau meminta maaf pada Ibu Dita, atas kejadian yang menimpa keluarga Ibu." Ujar Milda sungguh-sungguh.


Dita menggelengkan kepalanya pelan mendengar perkataan Milda, seharusnya yang meminta maaf adalah keluarganya bukan keluarga Kasa.


"Tidak Ibu Milda, seharusnya keluarga saya yang meminta maaf sebesar-besarnya pada keluarga Kasa. Atas apa yang dilakukan oleh anak dan suami saya."


"Ibu tidak keberatan mereka harus di penjara?"


"Apa yang dikatakan putra kedua saya benar Bu, orang yang bersalah memang harus di hukum. Apalagi mereka telah menghilangkan nyawan anak dan mantu Ibu." Dita menundukkan kepala malu, suara beliau seperti tertahan di tenggorokan.


Harusnya bisa saja sekarang keluarga Kasa membenci seluruh keluarganya atas apa yang dilakukan oleh Raka dan Tuan Barsa.


Sekarang apa, yang beliau lihat nyonya besar keluarga Kasa bahkan bicara dari hati ke hati pada dirinya. Baliau tidak menyangka begitu baiknya salah satu keluarga berpengaruh di kota mereka ini.


"Maafkan kami semua Bu, maaf atas kesalahan yang diperbuat. Hari ini jika saya tidak mendapatkan undangan acara resepsi anak Ibu mungkin saya tidak akan pernah tahu seperti apa kelakuan putra sulung saya dan suami saya sendiri."


Milda bangkit dari duduknya tiba-tiba memeluk ibu Dita, membuat perempuan paruh baya yang masih duduk selonjor di atas kasur terlonjak kaget tiba-tiba mendapatkan pelukan hangat dari nyonya Milda.


"Insya Allah, semua akan baik-baik saja. Kita bisa bejalar dari apa yang terjadi hari ini."

__ADS_1


"Aamiin."


Tanpa disadari obrolan nyonya Milda dan Ibu Dita di dengar oleh Zevran dan Hani. Bukan mereka ingin menguping, hanya saja adik kakak itu berdiri di depan pintu kamar tempat Ibu Dita beristirahat. Mereka tidak ingin meninggalkan mama Dita.


"Kak, aku kira tadi Ibu-Ibu yang bersama mama di dalam mau marah-marahin Mama." Ujar Hani.


Satu tangan Zevran terangkat untuk mengelus pucuk kepala Hani. "Tidak mungkin Dik, lihat saja Mama pingsan mereka rawat dengan baik."


Hari memang sudah semakin sore acara resepsi hampir selesai, acara memang diadakan dari pagi sampai sore saja atas permintaan Ulya dan Hans. Pengantinnya saja sudah istirahat di kamar karena merasa lelah, tapi masih ada orang yang berlalu lalang di kediaman Kasa.


"Aditya, mau kemana kamu!" Arion berlari menghampiri ponakannya.


"Aditya mau cama Erica, kak Arion." Balas tidak menoleh pada Arion.


Hari ini tugas Azril, Arion dan Fahri menjaga Aditya disuruh Tuan Leka, karena daddy dan mommy bocah itu butuh waktu istirahat. Mungkin sampai besok mereka membutuhkan waktu berdua tanpa ada yang mengganggu mereka.


Langkah Arion berhenti saat tak sengaja menangkap sosok Zevran dan Hani yang berdiri di depan pintu kamar tamu.


"Kalian ngapain?" tanya Arion yang memang ketinggalan banyak informasi, anak remaja satu ini entah habis dari mana batang hidungnya baru terlihat sore tiba.


"Lagi nunggu mama di dalam." Jawab Zevran tidak tahu siapa remaja yang terlihat seperti masih duduk di bangku SMA berdiri di depan mereka.


"Mama saya, kak." Jawab Hani akhirnya.


Ceklek!


Tepat saat itu juga nyonya Milda membuka pintu kamar tamu di depan Arion. "Mama." Ucapnya heran.


"Ngapain Ar? Kamu dari mana aja sih, orang di rumah ada acara nggak ngehargain banget sama Mas, Kamu. Kalau dia tahu Mama, nggak mau bantu kamu ya. Buat belain kamu di depan Masmu." Oceh Milda kala hari ini melihat putra bungsunya itu.


"Tau tuh Ma, kayak nggak punya rasa tanggung jawab aja. Sekarang disuruh jaga Aditya malah diem disini. Untung ponakan kamu nggak bener-bener ikut sama Erisa udah nangis-nangis dia mau ikut. Kan, tadi Mbak udah bilang kamu jaga Aditya sebentar, Mbak ada kerjaan Bang Fahri juga masih sibuk." Oceh Azril.


Gadis itu entah datang dari mana sambil menggendong Aditya yang terlihat menangis di dalam pelukan Azril. Mendengar ocehan mama dan kakaknya Arion berdecak, padahal dia baru keluar dari kamar sudah diserbu.


"Nggak asyik emang ya." Keselnya.


"Masya Allah, ini pada ngumpul disini kenapa? Aditya tidur Az."


"Iya Ma, abis nangis barusa." Sahut Azril pada Ibu Rida. Zevran dan Hani hanya bisa terdiam.

__ADS_1


"Sudah sana Ar, bantu papa sama Bang Fahri. kak Eris diluar." Suruh Milda akhirnya, mau tidak mau Arion menuruti perintah mamanya.


"Kalian sudah makan?" tanya Milda pada semua orang. "Ayo kita makan dulu." Ajak Milda.


"Azril nanti saja Ma, mau tidurin Aditya dulu."


"Biar Aditya sama Mama Rida, Az. Kamu temani mama Milda dan tamu makan."


Ibu Rida mengambil alih Aditya dari gendongan Azril. "Saya ke kamar Aditya dulu, Mil." Ujarnya pada sang besan, Milda mengangguk tak lupa tersenyum.


"Maaf menyusahkan."


"Tidak! Aditya juga sekarang cucu saya."


"Ayo makan, ajak mama kamu sekalian, Nak Zevran."


"Tapi Tan."


"Sudah tidak apa, kalian ini tamu disini dari tadi belum makankan, ayo makan dulu."


Di sebuah kamar masih di kediaman Kasa terlihat sepasang suami istri sedang tidur di atas kasur mereka mungkin sangat lelah hari ini, memang banyak tamu yang datang.


"Ada yang kamu inginkan, dek?" tanya Hans lembut pada sang istri.


"Lia mau ambil minum ke bawah dulu, Mas."


"Tidak usah biar, Mas saja. Kamu pasti masih lelah jadi istirahatlah. Biar Mas yang ambil minum, ada lagi selain air minum."


"Mungkin buah boleh Mas, maaf Lia menyusahkan Mas."


"Tidak ada yang disusahkan, kamu istirahat saja dulu. Mas ambil minumnya."


Hans segera turun menuju lantai bawah, dia memang sudah berganti baju santai setelah acara selesai. Sampai di dapur semua orang di ruang makan menatap Hans.


"Ngapain kok pada liatin begitu?" heran Hans cuke saja, dia berlalu mengambil air dan buah untuk istri.


"Kamu bukannya bisa nyuruh para pekerja Hans, kenapa harus turun sendiri." Ucap Leka. Memang sudah ikut bergabung di ruang makan bersama yang lain.


"Tidak apa, Pa. Buat Lia soalnya."

__ADS_1


__ADS_2