Kasih Sayang Untuk Aditya

Kasih Sayang Untuk Aditya
Bab 56


__ADS_3

Bismillahirrohmanirrohim.


Sebuah senyum indah sedari subuh tak hilang dari wajah Hans, hari ini dia merasa lebih cerah dari hari-hari sebelumnya. Hans tak henti-hentinya tersenyum padahal kini di dalam kamar hanya ada dia seorang diri. Ulya sedang membantu mamanya menyiapkan sarapan juga membantu Aditya untuk bersiap-siap sekolah.


Hans sudah rapi mengenakan baju kerjanya yang disiapkan oleh sang istri terletak di atas karus, seperti biasa mereka bangun sebelum adzan subuh berkumandang, bahkan tadi malam Hans bersama Ulya sempat mengerjakan salat malam.


Ceklek.


Pintu kamar terbuka, Hans yang masih sibuk dengan hpnya menoleh kearah pintu kamar melihat istrinya yang datang Hans kembali tersenyum, sementara Ulya masuk ke dalam kamar sambil menundukkan kepala.


"Mau bersih-bersih, dek?" Ulya mengangguk tanpa berani menatap sang suami.


"Kamu, kenapa hmm." Hans bangkit dari tempat duduknya mendekati sang istri.


Merasa suaminya akan mendekati dirinya Ulya buru-buru masuk ke dalam kamar mandi. Sayangnya dia terlambat Hans sudah berada di depan Ulya.


"Kamu kenapa, sayang?" tanya Hans merasa heran, dia takut sudah membuat kesalahan pada Ulya.


"Lia tidak apa, Mas. Lia mau mandi dulu." Pamitnya.


"Tunggu." Cegah Hans menarik pergelangan tangan sang istri.


"Hei, kamu kenapa, apa mas udah buat salah sama kamu." Hans kembali bertanya dengan suara lembut, sebuah gelenggan dari Ulya membuat Hans bingung karena istrinya itu tidak menatap dirinya ketika berbicara.


"Lia tidak papa, Mas." Cicitnya.


Hans memegang dagu istrinya pelan mengarahkan agar mentapa dirinya, kini Hans dapat melihat jelas wajah istrinya yang memerah.


"Kamu kenapa? Wajahnya kok merah."


Duk!


"Lia malu, Mas!" Ulya memukul pelan dada suaminya.


Mendengar pengakuan dari sang istri Hans terkekeh senang. Pantasan dari tadi istrinya itu tidak berani menatap dirinya ternyata dia sedang malu.


Cup!


"Astagfirullah Hal-Addzim!" ucap seorang membuat Ulya mendorong tubuh suaminya dan buru-buru masuk ke dalam kamar mandi.


Fahri bersama Aditya yang berdiri di depan pintu kamar adiknya itu sudah berbalik memunggungi pintu kamar, Fahri menyesal telah menyetujui permintaan Aditya untuk mengantar bocah itu ke kamar sang adik. Untungnya Fahri tadi cepat menutup mata Aditya, kalau tidak anak itu sudah melihat hal yang seharusnya belum boleh dilihat.


"Sembarangan, makanya tutup pintu kalau di dalam kamar!" oceh Fahri.


Hans menghampiri Aditya dan Fahri, dia merasa sedikit bersalah pada abang iparnya. Tadi istrinya memang lupa menutup pintu kamar mereka, Hans juga tidak ngeh, karena dari tadi dia melihat istrinya menunduk saja saat bicara dengan dirinya jadi khawatir.


"Ya maaf bang, namanya juga nggak sengaja." Sesal Hans.

__ADS_1


Dia sudah menutup pintu kamar mereka. "Memangnya ada apa, om ganteng?" tanya Aditya penasaran.


"Tidak ada, anak kecil tidak boleh tahu. Astagfrullah, gue juga nggak boleh tahu dosa, Astaga, Astagfrullah. Bisa gila gue lama-lama kalau begini." Fahri menggelengkan kepalanya berkali-kali.


"Lo harusnya kasih Hans sama yang jombol disini."


"Kan, udah bilang tadi bang khilaf lupa tutup pintu."


"Bilang aja mau pamer."


"Nggak! Soudzon aja sama ipar."


Aditya menatap Hans dan Fahri bergantian kala kedua laki-laki dewasa itu saling berbicara. Dia masih penasaran apa yang sedang mereka bahasa.


"Huh!" Aditya menghembuskan nafas kasar. "Om cama daddy lagi bahas apa sih! Kok dari tadi ribut aja." Kesal Aditya merasa tidak dianggap.


"Tidak ada sayang, daddy sama oma tidak membahas apa-apa. Daddy cuman bilang terima kasih sama om sudah mau merawat kamu." Ucap Hans. Memang benar Hans juga sempat mengucapkan terima kasih pada abang iparnya itu.


Fahri hanya mampu mendengus kesal mendengar jawaban Hans, walaupun benar adanya. Tapi bisa saja cara mengelaknya seorang tuan muda Kasa.


"Terus mommy mana, daddy?"


"Mommy masih di kamar mandi." Aditya mengangguk paham.


Tiba-tiba ibu Rida menghampiri mereka. "Kalian ditunggu dari tadi disini rupanya, ayo sarapan."


"Ciap oma." Jawab ketiganya serentak.


"Lia mana Hans?"


Ceklek!


Tepat saat mama Rida selesai bertanya Ulya membuka pintu kamar, dia menatap heran semua orang yang berdiri di depan pintu kamarnya, tapi saat dia menangkap sosok abangnya jadi canggung sendiri.


"Nah, ini anaknya sudah disini. ayo kita sarapan." Ajak mama Rida pada mereka semua.


"Ayo oma." Aditya mendekati mama Rida.


"Abang." Panggil Ulya ketika hanya ada mereka saja Hans sudah lebih dulu menuju ruang makan.


"Abang nggak lihat apa-apa kok Lia, tenang aja." Ucap Fahri tersenyum mengejek.


Bukannya merasa lega Ulya malah semakin dibuat malu oleh abangnya sendiri. "Serah abang lah!"


Akhirnya setelah drama yang tercipta di pagi hari selesai sarapan mereka melanjutkan kegiatan masing-masing. Hans hari ini mengantar Aditya sekolah, Fahri mengantar mamanya kebutik lebih dulu sebelum menuju bengkelnya.


"Mommy hari ini temani Aditya lagikan."

__ADS_1


"Insya Allah, son mommy juga belum ada kegiatan jadi sama kamu." Ulya menowel hidung bangir Aditya. "Oh iya Mas, nanti pulang sekolah Aditya, aku mau ketemu sama Cia boleh? Udah janji sama dia."


"Boleh, tapi hari ini kamu ikut ke rumah sakit." Ujar Hans, lalu dia mentapa Aditya sebentar setelahnya kembali fokus mengemudi.


"Boleh mommy ikut daddy ke rumah sakit? Nanti waktunya Aditya pulang sekolah daddy sama mommy bakal jemput."


"Tapi mas bukan kasihan kalau Aditya sendirian di sekolah."


"Tidak apa mom, tapi janji perginya setelah Aditya macuk kelas. Terus daddy jemputnya ndak boleh telat."


"Siap boy." Hans mencium sekilas pipi putranya yang berdiri di samping Hans.


Tidak lama kemudian mobil Hans sampai di depan gerbang sekolah Aditya, Hans bersama Ulya mengantar Aditya sampai ke dalam sekolah tentu saja Aditya merasa senang daddy juga ikut mengantara jadi dia bisa seperti anak-anak lain.


"Aditya!" teriak Erisa melihat teman sebangkunya itu sudah datang.


"Erica." Aditya juga ikut berteriak senang.


"Tuan mudah Hans." Sapa ayah Erisa tak menyangka akan bertemu direkrut muda itu di sekolah anaknya.


"Tuan Dafri senang bisa bertemu dengan anda, tolong panggil saya Hans saja rasanya tidak enak sekali."


"Tidak apa tuan Hans, ngomong-ngomong anda sudah menikah?" heran Dafri yang memang mengenal Hans.


"Benar saya sudah menikah hampir 2 bulan, Tapi untuk resepsi memang belum digelar, mungkin dalam waktu dekat ini."


"Wah, selamat atas pernikahan anda tuan Hans, apakah ini istri anda."


"Benar." Hans mengenalkan Ulya pada ayah Erisa begitu juga Dafri mengenalkan istrinya.


Sementara bunda Erisa heran mendengar pernikahan Hans yang baru terjalin kurang lebih dua bulan sudah memiliki anak yang umurnya hampir 5 tahun.


"Apakah dia, Aditya?" tanya Dafri yang memang mengenal baik tuan Leka dan Hans juga Rama.


"Benar tuan Dafri."


"Mommy, daddy, om dan tante Aditya cama Erica masuk kelas dulu." Pamitnya. "Ayo Erica." Sekarang Aditya yang menarik tangan anak perempuan itu.


"ERrisa, Aditya! Bukan ERrica." Kesalnya tidak terima.


"Kamu caja tidak bisa menyebut namamu dengan benar." Ujar Aditya, para orang tua terkekeh mendengar perdebatan dua anak kecil itu.


"Aditya tumbuh dengan baik." Hans mengangguk. Lalu Hans bersama istrinya berpamitan lebih dulu.


Sebenarnya Author bingung buat kelanjutan ceritanya takut bertele-tele jadi untuk episode 56 Author buat begini aja semoga kalian suka.


Jangan lupa like, komen, mawarnya, tonton iklan biar tambah dukung karya ini.

__ADS_1


__ADS_2