Kasih Sayang Untuk Aditya

Kasih Sayang Untuk Aditya
Bab 84


__ADS_3

Bismillahirrohmanirrohim


بسم الله الر حمن الر حيم


Allahumma sholli ala sayyidina Muhammad wa ala ali sayyidina Muhammad.


اللهم صلي عل سيدن محمد و عل ال سيدن محمد.


"Daddy, boleh setelah dari rumah sakit, kita main ke rumah Erisa?"


"Boleh, tapi nanti saat kontrol sama dokter Wira, kamu harus mendengarkan ucapan dokter Wira tidak boleh membantah, paham boy!" ujar Hans pada Aditya.


"Insya Allah, Aditya paham daddy," dia menjawab sambil tersenyum.


Mereka sekarang masih berada di dalam mobil untuk melakukan kontrol Aditya yang wajib dilakukan sebulan sekali setelah dia melakukan transplantasi tulang sumsum waktu itu atasa saran dokter Wira. Kebetulan jadwal kontrol Aditya bersama dengan jadwal cek kandungan Ulya, hanya beda jam sama.


Jadwal kontrol Aditya lebih awal dari pada jadwal cek kandungan Ulya. Hari ini sudah sebulan yang lalu setelah acara wisuda Ulya.


Gantian sekarang Hans bicara pada istrinya. "Yank, Bang Fahri sama Mama kenapa pindah sih? bukan tingga disini lebih baik." Hans menatap istrinya.


Karena sekarang Eris lah yang sedang mengemudikan mobil menuju rumah sakit. Hans bersama keluarga kecilnya duduk di kursi belakang.


"Bukan pindah Mas, kata Bang Fahri mau pulang ke kampung almarhum Papa lebih dulu. Cari pengalaman di kampung, karena nggak tega tinggalin Mama sendirian disini makannya Mama ikut sama Bang Fahri," jelas Ulya pada sang suami.


Dua minggu yang lalu memang Fahri memutuskan ingin tinggal di kampung almarhumah papanya terlebih dahulu dengan alasan ingin mencari suasana baru. Tidak tahu apa tujuan Fahri yang sebenarnya, hanya dia yang tahu kenapa ingin tinggal di kampung, padahal usaha bengkelnya sedang berkembang pesat.


"Berapa lama Oma sama Om ganteng akan tinggal di kampung Mom?" Aditya ikut menimpali.


Tangan Ulya terangkat untuk mengelus pucuk kepala Aditya, tak lupa dia tersenyum pada Aditya yang terus mengelus perut Ulya sudah semakin besar.


"Mommy kurang tahu sayang, mungkin sedikit lama. Karen Om kamu belum bisa menjelaskan berapa lama tingga di kampung." Aditya mengangguk paham.


"Boleh kapan-kapan kita main kesana."


"Insya Allah, jika daddymu mengizinkan." Hans mengangguk.


"Tapi yank, bukan Bang Fahri sama Mama punya usaha sendiri-sendiri disini? terus siapa yang urus semua itu." Hans kembali membuka suara.


"Bang Fahri punya orang kepercayaan Mas, nanti katanya sebulan sekali dia pasti kesini untuk melihat perkembangan bengkelnya," ujar Ulya menjeda sejenak penjelasannya.


"Kalau butik Mama diserahin sama Lia, tapi ada Mbak Kasih yang mengurus semuanya, Mbak Kasih udah lama kerja sama Mama."

__ADS_1


Disaat Hans ingin bertanya lagi mobil telah sampai di parkir rumah sakit, dari tadi Eris hanya jadi pendengar setia mereka.


"Tapi kalau kamu...."


"Kita sudah sampai Tuan muda, Nyonya muda," ucap Eris tidak mendengar Hans bicara.


"Baik," jawab Hans.


Mereka segera turun dari mobil, jadwal kontrol Aditya tidak boleh terlambat.


"Tadi Mas waktu di mobil mau ngomong apa?" tanya Ulya sambil mereka sedang menuju ruang dokter Dika.


Hans yang menggendong Aditya, menoleh pada sang istri. "Mas, lupa yank. Sudah nanti saja," sambung Hans.


Kebetulan mereka telah berada di depan pintu kerja dokter Wira. Langsung saja Hans dan Ulya masuk bersama Aditya, sedangkan Eris menunggu mereka diluar.


Setelah bertemu dengan dokter Wira segera melakukan pengecekan kondisi Aditya.


"Alhamdulillah, kondisi Tuan muda Aditya terlihat semakin membaik untuk saat ini," ucap dokter Wira.


Ulya dan Hans menghela napas lega, mereka sangat bersyukur dengan keadaan Aditya yang semakin membaik.


"Seperti biasa saja Tuan muda Hans, yang terpenting tidak boleh terlalu lelah, apalagi anak seumur Tuan muda Aditya masih aktif-aktifnya bermain," jawab dokter Wira.


"Saya mengerti dok, kalau begitu kami permisi. Assalamualaikum," ucap salam Hans diikuti Ulya dan Aditya.


"Wa'alaikumsalam."


Setelah dari dokter Wira mereka langsung pergi kedokter kandungan untuk memeriksa kandungan Ulya. Sampai saat ini, baik Hans dan Ulya belum mengetahui jenis kelamin anak mereka.


Ingin menjadi kejutan entah calon anak mereka laki-laki maupun perempuan, Hans dan Ulya akan sangat bersyukur. Atas amanah yang diberikan oleh Sang Maha Kuasa.


"Bagimana dok?"


"Seperti bisa bayi dan ibunya setah," sahut sang dokter dengan tersenyum ramah pada Ulya dan Hans.


Kali ini Aditya tidak ikut bersama kedua orang tuanya, dia menunggu diluar bersama Eris yang terus mengikuti mereka. Selama kehamilan Ulya semakin naik bulan, Hans selalu memperhatikan istrinya. Jadi hampir semua tugas Hans, Eris lah yang mengerjakan, walaupun tidak semua juga.


Waktu bergulir.


Setelah urusan di rumah sakit selesai sesuai janji Hans pada Aditya, jika mereka akan datang ke rumah Erisa. Sekarang mobil telah melaju menuju rumah teman sebangku Aditya, anak laki-laki itu terlihat antusias sekali, wajahnya berseri akan bertemu teman.

__ADS_1


"Om Eris kita mampir ke mall sebentar," ucap Aditya.


"Loh, mau ngapain son?" heran Hans, bukan mereka akan ke rumah Erisa.


"Mau beli kado daddy! hari ini Erisa ulang tahun, Aditya lupa kasih tahu Mommy, kemarinkah yang temenin Aditya sekolah grandma. Aditya sudah bilang sama grandma, mungkin grandma juga lupa bilang sama Aditya," jelasnya membuat Ulya merasa bersalah.


"Maafkan Mommy, Aditya. Tidak tahu akan hal ini," sesal Ulya.


"No Mom, semua ini bukan salah Mommy, Aditya yang lupa."


"Kita akan mampir ke Mall lebih dulu, sekarang keberadaan kita dengan Mall sudah hampir dekat," ucap Hans akhirnya.


"Jangan lupa Eris."


Eris yang sedang fokus mengemudi mengangguk sambil berkata. "Baik Tuan muda Hans," jawabnya.


Tak lama mereka sampai di Mall, segera mencari kado ulang tahun untuk Erisa, hanya Aditya dan Eris yang berkeliling dia menyuruh sang Mommy beristirahat saja di temani oleh Hans tentunya.


"Kita mau cari kado apa, Tuan muda Aditya?"


Aditya bukannya menjawab malah melengos. "Dengar Aditya baik-baik Om Eris, jangan panggil Tuan muda Aditya! Apa itu Tuan muda! panggil saja nama Aditya!" tegasnya.


"Tapi...."


"Sudahlah Om tidak akan ada yang marah, Om Eris tenang saja Aditya jamin itu, sekarang ayo kita cari kadonya." Aditya menarik tangan Eris, membuat Eris hanya mampu mengikuti kemana Aditya melangkah.


Sampai mereka berada di tempat penjual tas.


"Kenapa tidak beli boneka saja Aditya," usul Eris saat mereka berada di depan penjual berbagai macam tas.


"Tidak Om, boneka tidak ada manfaatnya. Aditya ingin memberi yang bemanfaat!"


"Anak perempuan bukan suka boneka," ucap Eris lagi.


"Mungkin, tapi Aditya tidak akan membeli boneka. Beli buku, tas dan sepatu saja,"


"Baiklah, karena ini untuk temanmu jadi kamu memang berhak memutuskan."


"Ayo bantu pilih Om," lagi-lagi Aditya menarik tangan Eris.


(Jangan lupa istighfar, Astagfrullah Hal-Adzim. Sekalian Allhamadulilah, Subhanallah, Allahu Akbar 🤗)

__ADS_1


__ADS_2