Kasih Sayang Untuk Aditya

Kasih Sayang Untuk Aditya
Bab 22


__ADS_3

Bismillahirrohmanirrohim.


"Mbak Lia, mommy."


'Pasti cudah ada yang tidak berec di kampuc mbak Lia.' Batin Aditya yang peka akan keadaan di kampus Ulya saat ini, dia juga menatap Cia untuk memastikan.


'Aditya haruc bantu mbak Lia.' Tekadnya benar-benar sudah bulat.


"Iya, ada apa, Aditya?." Usapan lembut Ulya berikan pada kedua pipi Aditya.


"Ndak papa mbak Lia, heheh."


"Kamu ya." Ulya mencubit gemas hidung Aditya, bocah 4 tahun itu ada dalam gendongannya.


Pemandangan itu tak luput dari netra Zevran dan Cia, mereka berdua memiliki pemikiran yang berbeda akan interaksi Aditya dan Ulya.


Deg!


Jantung Zevran seakan berheti tak berdetak lagi melihat interaksi Ulya dan Aditya, dia juga mengingat berita yang viral hari ini tentang Ulya.


'Apa benar Ulya, anak laki-laki ini anak kandungmu.' Batin Zevran merasa tidak terima.


Sudah bertahun-tahun dia memendam rasa pada Ulya, tapi kenyataan pahit harus Zevran terima gadis yang dia sukai sudah memiliki seorang anak, tidak tahu kenapa setelah mendengar berita dan melihat langsung interaksi Ulya bersama Aditya, hati Zevran sekarang percaya akan berita yang tersebar luas di kampus.


'Benar kata anak-anak, lo sama aja kayak banyak gadis di kampus kita 'lo itu Murahan' padahal gue udah jatuh hati sama lo.' Zevran masih berbisik dengan hatinya sendiri.


Sekarang tidak ada tatapan teduh yang dia tunjukkan untuk Ulya, hanya ada tatapan kecewa dan benci dari kedua sorot mata Zevran untuk Ulya.


Berbeda dengan Zevran, Cia malah tersenyum melihat sahabatnya begitu sayang pada anak kecil, sifat keibuan Ulya membuat gadis itu merasa senang. Akhirnya Cia kembali bersuara.


"Lia, hari ini kamu pulang ya jangan ke kampus dulu."


"Sebanarnya ada apa, Cia? Oh iya, kak Zevran barusan nyari aku, ada perlu apa ya kak? waktu kemarin Lia juga minta maaf udah ninggalin kak Zevran." Sesalnya. Ulya meminta maaf sungguh-sungguh.


Tapi respons Zevran tidak seperti biasanya membuat Ulya dan Cia merasa bingung, kedua gadis itu tahu betul jika Zevran tidak pernah berkata kasar pada mereka berdua ataupun bersikap dingin.


"Nggak! Gue cuman mau mastiin berita yang viral di kampus ini bener atau salah. Setelah gue lihat langsung interaksi lo sama anak ini gue jadi percaya sama berita yang tersebar. Ternyata lo sama murahnya kayak cewek-cewek gatel di kampus ini."

__ADS_1


Deg!


Sakit sekali hati Ulya dikatakan cewek murahan oleh seorang laki-laki yang sudah lama Ulya anggap seperti kakaknya sendiri. Ulya memang menganggap Zevrna sama seperti abangnya Fahri. Zevran selalu baik pada dirinya dan Cia. Hari ini Ulya tidak akan menyamakan Zevran dan Fahri mereka sangat jauh berbeda.


Cia maupun Ulya menatap Zevran tak percaya setelah laki-laki itu mengeluarkan kata-kata yang membuat sakit hati dua orang gadis sekaligus.


"Maksud kak Zevran apa?" tanya Ulya dengan suara tenangnya seperti biasa.


"Udah lah Ulya, nggak usah sok polos. Anak laki-laki ini, anak lo kan sama cowok yang belum halal buat lo. Nyesel selama ini gue suka sama lo, lo itu nggak jauh beda kayak ja***ng tau nggak!" Zevran tersenyum sinis pada Ulya.


"Jaga mulut kamu ya, Zevran! Bisa saja semua foto sama video yang tersebar di wab kampus cuman editan, atau kalau benar iya, apa buktinya jika Ulya gadis murahan seperti yang kamu katakan! Aku mengenal Ulya lebih dari siapapun yang ada di kampus ini." Nafas Cia mulai mengebu.


Dia tak menyangka orang yang selama ini dia kira baik ternyata tega mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan hati sahabatnya sendiri. Melihat keributan di depannya Ulya segera menutup mata dan telinga Aditya menggunakan tangannya.


"Udah lah Cia, nggak usah ngebela orang yang jelas-jelas munafik bukti udah ada, apalagi coba yang harus dibuktikan? Atau jangan-jangan lo juga sama kayak sahabat lo ini murahan."


Deg!


"Astagfirullah hal-adzim." Segera Ulya mengucap istighfar, kalau tadi dia diam saja telah dihina oleh seorang laki-laki. Maka kali ini Ulya tidak akan diam melihat sahabatnya dihina.


"Kamu boleh menghinaku dan menuduhku kak Zevran! Walaupun tuduhan itu belum tentu benar. Tapi jangan pernah sekali-kali kamu menghina sahabatku. Aku tegaskan kak Zevran, ingat semua yang keluar dari mulutmu akan dipertanggungjawabkan dan fithanmu itu sangat menyakitkan hati Cia termasuk aku! Jika saja kekerasan diperbolehkan dalam agama kita, aku tak akan segan untuk menampar dan menghajarmu!"


Cia memegang lembut tangan Ulya, dia tidak ingin sahabatnya itu kebablasan menghajar seorang.


"Mbak Lia."


Deg!


"Ya Allah, kenapa aku bisa melupakan Aditya yang masih ada di dalam gendongan lku." Sesal Ulya, dia kembali menetralkan wajahnya.


"Iya sayang, maaf kan mbak Lia, Aditya." Aditya menggeleng pelan.


"Kita pergi dari cini mbak Lia, mbak Cia." Ulya dan Cia mengangguk kompak.


'Hari ini Aditya pactikan om Zevran akan menyecali cemua kata-katanya yang dilontarkan untuk mbak Lia juga mbak Cia.' Aditya menatap tajam Zevran seakan dia sedang mengintimidasi Zevran.


'Ada apa, dengan bocah ini. Kenapa dia menatapku seperti itu.' Zevran sedikit merinding akan tatapan Aditya.

__ADS_1


"Assalamuaikum." Ucap salam Ulya sebelum pergi, Zevran hanya diam saja.


Tiba-tiba banyak mahasiswa-mahasiswi yang melihat kehadiran Ulya langsung melempar kata-kata yang seharusnya tidak di dengar oleh gadis itu.


"Ooh ini orangnya, jadi cewek kok murahan."


"Jadi benar hijab sama gamisnya buat nutupin kuburukannya aja."


"Nggak malu masih berani datang ngampus."


Masih banyak lagi kata-kata menyakitkan yang ditunjukkan untuk Ulya.


"Pilss jangan dengerin omongan mereka Lia, semua itu nggak bener. Aku percaya kamu Lia."


"Insya Allah, Cia. Makasih bangat aku yang jadi omongan tapi kamu khawatir, kamu emang sahabat aku Cia, thanks you my frind." Ulya memeluk erat tubuh Cia.


Dia juga butuh sandaran untuk menenangkan diri dari semua hal yang menimpanya hari ini.


'Allah ingin kamu semakin mendekatkan diri pada-Nya Ulya, jadi jangan lemah berlari dan curhatlah pada Allah.' Ucap Ulya pada diri sendiri.


"Mbak Lia tenang saja, ada Aditya juga yang Incya Allah akan membantu mbak Lia."


"Terima kasih, Aditya."


"Cama-cama mbak Lia." Mereka segera menuju cafe yang jarang didatangi oleh para anak kampus Nasional.


Zevran masih berdiri di tempatnya.


"Lo udah tau kan sekarang gimana sifat asil, cewek yang selama ini lo suka, lo bangga-banggakan."


Zevran tak bergeming saat Ria yang tiba-tiba mengajaknya bicara. Laki-laki itu masih memikirkan kata-kata Ulya, jika gadis itu hanya menganggapnya seorang kakak. Lalu setiap ucapan yang keluar dari mulut Ulya seakan menohok hati Zevran.


"Argh....Sial!" Zevran meremas rambutnya kasar, dia segera pergi dari tempat itu tanpa menggubris ucapan Ria.



Mampir sama yang diatas ya🙏

__ADS_1


__ADS_2