
Bismillahirrohmanirrohim.
Laju mobil yang dikendari Eris akhirnya sudah memasuki pekarangan mansion keluarga Kasa, dia sedikit bisa menghela nafas lega. Usai juga hanya berdua dalam mobil bersama Azril. Untung saja Eris bisa tetap bersikap biasa saja tanpa ada yang aneh di depan Azril.
"Ayo turun kak, emang nggak mau ketemu sama Mama, Papa dulu." Ajak Azril sudah lebih dulu turun dari mobil.
"Kamu duluan saja Az, nanti nyusul," ujar Eris tanpa menatap Azril.
Gadis berbalut gamis syar'i ini tidak banyak bertanya lagi pada Eris, Azril berlalu masuk ke dalam mansion meninggalkan Eris yang masih berada di dalam mobil sendirian.
"Astagfirullah, Astagfirullah, Astagfirullah hal-adzim." Berkali-kali Eris mengucap istighfar setelah kepergian Azril.
Dirasa sudah lebih tenang baru Eris ikut turun dari mobil menyusul Azril yang sudah lebih dulu masuk ke mansion keluarga Kasa. Sebenarnya Eris tidak ingin mampir, dia ingin langsung pulang saja, karena takut tidak sopan akhirnya Eris ikut masuk ke mansion.
"Assalamualaikum." Salam Eris berlalu masuk karena pintu masih terbuka sempurna.
Melihat semua orang masih berada di ruang tamu kegugupan kembali menghampiri Eris, apalagi masih ada Azril di ruang tamu yang sedang menghampiri Milda dan Leka.
"Wa'alaikumsalam." Jawab mereka semua kompak.
"Itu muka kenapa, kak? merah amat kelihatannya." Ucap Arion semakin membuat Eris gugup.
"Ah, tidak apa-apa." Jawab Eris pendek saja.
Langkah Eris mendekati nyonya Milda dan Tuan Leka, memberi salam pada kedua paruh baya tak lain orang tua bosnya.
"Ma, Pa. Eris mau pamit pulang dulu."
Sebenarnya hanya berpamitan saja pada nyonya Milda dan Tuan Leka, membuat Eris segugup itu, biasanya juga dia tidak pernah seperti sekarang ini.
"Loh, kamu nggak tidur disini, Er?"
"Eris tidur di apartemen saja, Ma." Jawabnya sopan.
Melihat Eris yang bersikap tidak seperti biasanya membuat Tuan Leka merasa aneh, tapi beliau tetap bersikap biasa saja, walaupun ada yang aneh dari Eris.
"Kak Eris besok pagi juga udah disini lagi pasti Ma. Jadi biar saja tidur di apartemen." Sambung Arion yang fokus dengan hpnya.
Baru dapat menghirup nafas segar rasanya Eris, Arion kali ini menyelamatkannya. Suatu saat dia pasti akan sangat berterima kasih pada Arion, karena malam ini sudah benar-benar menyelamatkan dirinya.
"Eris pamit semua, Assalamualikum."
"Wa'alaikumsalam."
"Ingat Er, pulang langsung istirahat jangan keluyuran kemana-mana." Pesan Milda kala Eris baru saja akan melangkah keluar dari pintu.
__ADS_1
Eris menoleh pada semua orang di ruang tamu. "Iya Ma, Eris juga pengeng langsung istirahat kok."
Lalu dia kembali melangkah menuju mobilnya segar meninggalkan kediaman keluarga Kasa. Baru kali ini Eris tidak dapat menguasai dirinya sendiri, susah mengontor diri.
"Azril ke kamar dulu Ma, Pa." Pamitnya membuat semua orang mengangguk.
"Ar, istirahat jangan main hp mulu, besok sekolah. Atau sekalian hpmu mau Mama sita juga mau!"
"Enak aja, nggak lah Ma. Arion istirahat sekarang kok. Good night my mother and my father." Arion segera berlalu dari hadapan kedua orang tuanya.
"Night too Ar." Balas nyonya Milda.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi tiba semua orang kembali menjalankan aktivitas masing-masing. Di rumah sakit tepatnya di kamar rawat Aditya, Hans sudah terlihat lebih bugar dari sebelumnya.
"Mas badanya sudah enakan?" Ulya memperhatikan suaminya itu yang sudah mulai melakukan aktivitas seperti biasa.
"Alhamdulillah, yank lumayan. Kita sarapan dulu kalian mau makan apa." Tawar Hans.
"Aditya mau ketoprak!" rekomendasi dari Aditya membuat Hans dan Ulya sama-sama menoleh pada brankar tempat Aditya tidur.
Pasalnya tadi Ulya melihat Aditya masih tidur dengan sangat nyengak, Hans pun melihat tadi jika putranya masih tidur. Sekarang kenapa tiba-tiba ingin makan ketoprak baru bangun tidur.
"Mimpi apa mom! siapa yang mimpi, Aditya memang ingin makan ketoprak kok. Tapi harus daddy yang beliin tidak boleh orang lain. Kalau orang lain Aditya tidak mau makan pokoknya."
Hans bersama istrinya saling menatap satu sama lain, mereka berdua seperti memiliki pikiran yang sama tapi tidak mungkin juga.
"Oke, daddy belikan ketoprak! mom sama dede mau makan apa?"
"Bubur ayam sama somay, bubur ayamnya harus banyak ayam suirnya, Mas. Somaynya juga yang banyak isinya."
"Kalian berdua tidak bisa minta makanan yang lain, hmm..."
"Lia cuman mau itu nggak yang lain!"
"Aditya juga daddy! pokoknya ketoprak tidak mau makan kalau bukan ketoprak. Ingat satu lagi harus daddy yang beli."
"Baiklah, daddy pegi cari makannya dulu. Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Hans bingung sendiri dari mana Aditya tahu tentang makanan bernama ketoprak itu, selama ini Hans tahu Aditya tidak pernah memakan, makanan tersebut. Kalau Ulya wajar mungkin dulu di kampus ada somay dan bubur ayam dijual di kantin kampus.
Tadi pagi sekitar jam 7:30 sebenarnya Ibu Rida sudah menawarkan mereka untuk membeli makan, tapi belum ada yang lapar. Akhirnya Hans menyuruh mertua dan iparnya pulang dulu, karena dia merasa badanya sudah jauh lebih baik dari kemarin. Dia yang akan menemani Aditya dan Ulya.
__ADS_1
"Aditya, tahu tidak foto segi empat yang ada didompet daddy." Ulya bertanya kala Hans sudah tidak ada bersama mereka.
"Tahu mommy, itu foto perempuan mirip mommy tapi masih pake baju sekolah."
"Aditya tahu daddy dapat fotonya dari mana?" Aditya menggeleng lemah sebagai jawaban.
"Tapi Aditya tahu daddy baru narok foto itu di dalam dompet setelah menikah dengan mommy, sebelumnya Aditya hanya pernah melihat sekali di kamar bunda dan ayah."
Ulya terdiam sejenak mendengar penjelasan yang dia dapat dari Aditya.
Apa mbak Jeni yang memberikan fotoku pada Mas Hans, tapi kenapa? untuk apa pula mbak Jeni memberikan foto itu pada Mas Hans. Apa Mas Hans tahu kalau foto gadis SMA itu fotoku?
"Mommy, mommy, mommy!" panggil Aditya sedari tadi karena Ulya malah ngelamun.
"Mom jangan melamun, apa yang sedang mommy pikirkan."
"Tidak ada sayang, sambil nunggu daddy datang beli makan mommy bersihin tubuh Aditya dulu ya, dilap saja."
"Baik mom." Patuhnya.
Ulya segera membersihkan tubuh Aditya yang perlu diberikan secara perlahan-lahan saja. Sepuluh menit Ulya melakukan tugasnya keluar juga. Malah Hans yang tak kunjung datang dari membeli makan.
"Daddy kok lama ya, kak?"
"Aditya juga kurang tahu mom."
"Jangan-jangan daddymu nyasar ini, tidak tahu harus beli ketoprak, somay sama bubur ayam dimana."
Baru ingat Ulya jika suaminya seorang sultan apa pernah membeli makanan yang dipesan dia dan Aditya tadi.
Ceklek.
"Assalamualaikum." Ternyata yang datang Azril bersama nyonya Milda.
"Wa'alaikumsalam." Aditya dan Ulya tersenyum pada dua orang yang datang.
"Hans mana Li?"
"Lagi beli sarapan Ma." Jawab Ulya merasa bersalah.
"Ada apa, Mbak?" Azril menyadari ada yang salah pada Ulya.
"Tadi aku sama Aditya pesen ketoprak, somay sama bubur ayam. Apa Mas Hans tahu tempatnya."
"Ohh itu, Mbak Lia tenang saja pasti orangnya akan kembali sebentar lagi tak lupa membawakan pesan kalian."
__ADS_1