
Bismillahirrohmanirrohim
بسم الله الر حمن الر حيم
Allahumma sholli ala sayyidina Muhammad wa ala ali sayyidina Muhammad.
اللهم صلي عل سيدن محمد و عل ال سيدن محمد.
Azril sudah membereskan beberapa barang-barangnya, dia tidak membawa banyak barang karena di rumah memang sudah ada perlengkapan miliknya.
Setelah semuanya selesai Azril kembali menemui Kyai Halim dan Ibu Nyai Aliza. Azril tidak tahu kenapa dia diizinkan pulang bersama Eris, padahal 1 tahun yang lalu Azril tidak mendapat izin pulang bersama Eris.
"Assalamualaikum." Azril berucap salam kembali masuk ke dalam.
"Wa'alaikumsalam, sudah beres Mbak Azril?"
"Allhamadulilah, sudah Umi," jawabnya sopan.
"Pulang lah, Nak Eris sudah menunggumu,"
"Baik Umi, Abah Azril pamit pulang dulu. Assalamualikum."
"Wa'alaikumsalam." Kyai Halim bersama istrinya mengantar mereka berempat keluar rumah.
"Hati-hati dijalan, Nak."
"Insya Allah, Kyai."
Mereka segera menuju gerbang pesantren AN-Nur dengan Zidan dan Eris yang berjalan lebih dulu diikuti Azril dan Mei di belakang mereka.
"Astagfirullah, Bang kalian duluan saja. Nanti Zidan nyusul," pamitnya segera pergi terburu-buru tidak tahu mau kemana.
Eris hanya melihat datar tingkah Zidan lalu melanjutkan langkahnya menuju mobil, Azril dan Mei kembali mengikuti Eris di belakang. Sampai di depan gerbang ada seorang yang memanggil Mei.
"Ning Mei," teriak orang itu membuat Mei mencari sumber suara.
"Mbak sebetar ya aku temuin Lisa dulu."
"Tapi jangan lama Ning, Gus Zidan juga belum kembali."
__ADS_1
"Insya Allah," jawab Mei berlalu meninggalkan Azril yang tampak gelisa.
Jika bukan dilingkungan pesantren Azril bisa bersikap biasa saja pada Eris, tapi sekarang tempat mereka berada bukan di kediaman Kasa, Azril hanya takut terjadi salah paham oleh orang-orang terhadap dirinya dan Eris.
Rupanya ketakutan Azril akan benar-benar terjadi. "Az ayo naik,"
Bruk!
Apa yang terjadi?
Mungkin pertanyaan itulah yang kini ada di otak Eris maupun Azril, semuanya terjadi sangat cepat tanpa keduanya bisa ceran apa yang sedang terjadi sekarang. Mereka belum sadar jika posisi keduanya saat ini akan benar-benar membuat banyak orang salah paham, mereka terlihat sedang berpelukan.
Eris sangat yakin sekali jika ada seorang yang mendorongnya tadi, tapi siapa pelakunya? tidak ada orang di tempat itu kecuali dia dan Azril, lalu tadi siapa? kepala Eris mulai terasa sedikit pusing entah apa sebabnya, Eris sendiri tidak tahu.
Semua yang terjadi padanya barusan begitu cepat sampai tidak bisa diceran olehnya. Eris tidak sadar jika ada seorang yang sedari tadi bergetar di dalam pelukannya.
"Astagfirullah, Mbak Azril, Bang!" kaget Zidan melihat pemandangan di depannya sekarang ini. Zidan kenal seperti apa Azril orangnya.
Sedangkan orang yang tadi telah mendorong tubuh Eris sampai memeluk Azril telah pergi menuju kediaman Kyai Halim dengan tersenyum senang membawa bukti foto Azril dan Eris sedang berpelukan sempat dia ambil dengan cepat tadi.
"Astagfirullah, maaf Az," sesal Eris segera menjauhkan dirinya dari Azril lalu dia menatap Zidan menggeleng untuk menjelaskan kebenarannya.
"Gus Zidan, Ning Mei ini tidak seperti yang kalian lihat. Saya tidak sengaja memeluk Azril karena tadi ada yang mendorong tubuh saya dengan sangat keras," klasifikasi Eris tidak ingin membuat kedua anak guru Azril salah paham pada mereka.
"Walaupun Bang Eris mengatakan sebuah kejujuran tapi orang yang melihat perilaku barusan pasti tidak akan percaya dengan ucapan Bang Eris, disini hanya ada kalian."
"Tapi Gus saya juga sempat melihat sekilas orang yang mendorong kak Eris." Azril buka suara.
Padahal sedari tadi dia terus menunduk takut seluruh tubuhnya juga bergetar hebat untuk pertama kalinya Azril begitu dekat dengan yang bukan mahramnya berpelukan dengan sang kakak sulung saja Azril sangat jarang sekali.
"Kalian tidak bisa pulang sekarang!" Mei menatap teduh Azril. "Maafkan saya, Mbak Azril. Saya harus membuat keputusan ini agar tidak terjadi fitnah."
"Syukur kalian masih disini, ayo ikut Abi masuk. Kamu juga ikut Nak Eris."
Eris hanya mampu mengangguk pasrah, dia tak memilik keberanian untuk menatap Azril, Eris merasa sudah menghancurkan kepercayan gadis itu pada dirinya.
'Maaf aku tidak sengaja, aku tidak berniat memelukmu. Maafkan aku Azril jika telah menyakiti dirimu, maaf!' Eris merasa bersalah pada Azril.
Ingin sekali Eris menangis menyesali semuanya, semua itu tidak mungkin Eris lakukan. Sekarang segala hal buruk telah bersarang menjadi satu di kepalanya.
__ADS_1
Takut? tentu saja, dia takut Azril membencinya setelah kejadian ini. Mungkin jika mendengar Azril hanya menganggapnya seorang kakak sama seperti Hans, Eris masih tetap senang. Tapi jika gadis yang dia cintai membencinya Eris tidak tahu harus bagaimana.
"Hemmm, Nak Eris bisa tolong jelaskan foto ini?"
Kedua bola mata Eris membolak sempurna saat netranya melihat foto yang ditunjukkan oleh kyai Halim.
"Saya bisa jelaskan Kyai! semua ini salah paham. Ada yang mendorong tubuh saya kuat sampai menabrak tubuh Azril, bukan saya yang sengaja memeluknya! saya tahu batas saya Kyai." Eris bicara dengan sangat tegas.
Kyai Halim menghembuskan napas kasar, beliau tahu Eris mengatakan yang sebenarnya. Mungkin beliau juga tahu siapa pelaku yang sudah membuat fitnah untuk Eris dan Azril.
Tapi apa yang dilakukan Eris tadi memeluk Azril dalam waktu yang cukup lama membuat orang-orang disana sudah salah paham melihatnya. Memang ada beberapa warga yang melihat tindakan Eris pada Azril.
"Insya Allah, saya percaya sama kamu, Nak Eris, tapi apa yang dikatakan Zidan tadi benar. Walaupun kamu mengatakan yang sejujurnya, tapi orang-orang akan percaya pada fakta yang mereka lihat."
Kyai Halim menatap Eris dan Azril secara bergantian yang sedari tadi terus menunduk tak berani menatap dirinya.
"Maafkan saya, mungkin saya harus membuat keputusan besar. Tolong hubungi Tuan Leka."
Eris mengangkat kepalanya menatap Kyai Halim tidak percaya, apa maksudnya ini.
"Untuk apa Kyai? saya sudah mengatakan yang sejujurnya, jika semua kejadian ini hanyalah salah paham! saya dan Azril telah difitnah."
"Kamu bisa bilang begitu Bang, tapi Abang tidak bisa membuktikan siapa yang telah memfitnah Abang, tolong hargai Abi disini juga Abang masih berada di lingkungan pesantren," ucap Zidan hati-hati.
"Argh!"
"Astagfirullah, apa salahku. Ya Rabb, rupanya ini lah yang akan terjadi pantas saja aku merasa tidak enak dari berangkat tadi," guman Eris pelan sekali.
"Apa saya yang harus menghubungi Tuan Leka?" Eris bertanya dengan ragu, karena dia takut Azril tidak setuju dengan keputusannya.
Lalu dia beralih menatap Azril sejenak yang duduk di tengah-tengah Mei dan umi Aliza. Tidak ada keberanian untuk Azril walaupun hanya sekadar mengangkat kepalanya, kejadian beberapa menit lalu membuatnya merasa kecewa pada diri sendiri.
"Azril, boleh saya menghubungi Tuan Leka? Atau pun Tuan muda Hans."
Azril mengangkat kepalanya mendengar Eris tidak lagi memanggil papanya dan sang kakak dengan sebutan seperti biasanya. Melainkan memanggil dengan sebutan 'Tuan.'
'Apa kak Eris marah padaku, Astagfirullah kenapa semuanya bisa jadi begini.'
(Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Laa ilaaha illallah, Laa ilaaha illallah, Laa ilaaha illallah. Allhamadulilah, Allhamadulilah, Allhamadulilah. Subhanallah, Subhanallah, Subhanallah.)
__ADS_1
Bentar ya sebelum Ulya lahiran kita fokus dulu sama cople satu ini Azril dan Eris (Ade)