Kasih Sayang Untuk Aditya

Kasih Sayang Untuk Aditya
Bab 94


__ADS_3

Bismillahirrohmanirrohim


بسم الله الر حمن الر حيم


Allahumma sholli ala sayyidina Muhammad wa ala ali sayyidina Muhammad.


اللهم صلي عل سيدن محمد و عل ال سيدن محمد.


Semua masalah yang menimap Azril dan Eris tepat malam itu bisa diselesaikan secara tuntas. Lisa telah mendapatkan hukumannya, dia terpaksa di pulangkan oleh pihak pesantren.


Untuk Mira yang sudah menolong Lisa, dia juga mendapatkan takziran tapi tidak sampai di pulangkan ke rumah seperti Lisa.


"Ingat Ustadzah, ini pelajaran untuk kamu. Jadi jangan membuat kesalahan lagi."


"Baik Ning, sekali lagi afwan," ucapnya benar-benar menyesal.


Untung Leka menyikapi dengan baik masalah ini tidak sampai kerana hukum. Sebenarnya Leka juga sedari dulu punya niatan untuk menjodohkan Eris dan Azril, tapi beliau tidak melakukan hal tersebut karena tidak ingin merusak kebahagiaan Azril. Sama seperti kedua kakak Azril, Leka juga ingin putrinya memilih kebahagainnya sendiri.


Sejujurnya Eris geram mendengar Lisa dan Mira yang telah menjebak dirinya dan Azril. Disisi lain dia juga bingung apakah harus berterima kasih, jebakan yang direncanakan Lisa telah menjadikan Azril miliknya.


"Entahlah." Eris mendesah pelan memikirkan semua kejadian hari ini.


Malam ini Eris tidur di kamar tamu yang terletak tepat di sebelah rumah Kyai Halim, ada rumah lagi, Leka dan Dika juga tidur di rumah tersebut khusus tamu, sayangnya Eris belum bisa bersama istrinya. Azril tidur di tempat santir putri, kamar biasa miliknya.


"Astagfirullah, gue nggak tahu sekarang harus bilang apa. Masih nggak nyangka Azril benaran jadi istri gue," molong Eris.


Memikirkan kejadian hari ini sampai dia tidak bisa tidur, Eris masih bingung untuk menghadapi besok pagi seluruh keluarga Kasa.


"Bagimana dengan Hans, apa dia bakal nonjok gue karena udah nikahin adiknya, tanpa bilang dulu sama dia,"


"Arkh! lagian juga ngapain gue harus mikirin semua ini yang entah akan seperti apa besok..." Eris meremas rambutnya kasar.


Sejujurnya dia sudah berapa kali berusaha untuk memejamkan mata, sayangnya otak Eris tidak ingin berhenti berpikir, otaknya terus saja berputar menebak-nebak apa respons semua orang besok.


"Astagfirullah, Astagfirullah, Astagfirullah, nggak bisa kayak gini gue harus tidur! ayo dong otak singkron dikit gue butuh istirahat setelah hari yang melelahkan ini. Yah, walaupun melelahkan gue dapat kejutan tak terduga."


Sekarang Eris jadi senyum-senyum sendiri membayangkan setelah ini hari-harinya akan selalu bersama Azril, dari tidur hingga bangun tidur dia akan melihat Azril.


"Allhamadulilah, terima kasih Ya Allah. Telah memberikan Azril sebagai jodohku, Allhamadulilah, Allhamadulilah, Allhamadulilah, Allhamadulilah."


Sampai Eris terlelap dalam tidurnya baru lafal hamdalah yang dia ucapan terhenti.


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


Pagi menyapa orang-orang sudah melakukan aktivitas mereka, selesai sarapan di kediaman Kyai Halim. Tuan Leka, dokter Dika, Eris dan Azril bersiap untuk pulang setelah berpamitan pada pemilik pesantren.


"Saya mengucapkan terima kasih untuk semuanya, Pak Kyai."

__ADS_1


"Sama-sama Pak Leka."


"Kami semua pamit pulang, Assalamualikum."


"Wa'alaikumsalam,"


Azril satu mobil bersama Eris, Pak Leka bersama supirnya menaiki mobil berbeda, dokter Dika mengendarai mobilnya sendiri.


Di dalam mobil yang kendari Eris kini suasana terlihat hening baik Eris maupun Azril tetap diam pada posisi mereka masing-masing.


Azril sibuk menatap jalan, Eris sibuk mengemudi, di dalam kepala dua insan itu memikirkan cara agar suasana sepi di dalam mobil terpecahkan tapi tidak ada yang berani mulai angkat bicara.


"Az."


"Kak."


Keduanya berucap bersama sambil saling menatap satu sama lain, tatapan keduanya bertemu Eris lebih dulu memalingkan mukanya karena dia harus fokus mengemudi.


Deg...Deg...Deg...


Jantung keduanya berdebar tak karuan untuk pertama kalinya Eris bisa menatap sejenak mata indah milik Azril.


"Kamu mau ngomong apa Az?"


"Kak Eris duluan saja."


"Ngomong apa sih kak, siapa yang tahu semua akan jadi begini. Mungkin ini mamang takdir kita."


Eris memutar kepalanya menoleh pada Azril. "Kamu tidak menyesal menikah denganku, Az?" tanya Eris penasaran.


"Menyesal kenapa? sekarang yang harus kita pikirkan bagaimana nasib kita sampai rumah nanti."


'Aku jelas bahagia bisa bersamamu, Kak,' batin Azril.


Tak terasa mobil Eris sudah masuk diperkarangan mansion Kasa menyusul mobil Tuan Leka dan dokter Dika yang sudah sampai lebih dulu. Suami istri itu segera turun dari mobil berjalan menuju pintu rumah.


"Assalamualaikum," ucap Eris dan Azril bersama.


"Wa'alaikumsalam," semua menjawab sambil netra mereka hanya tertuju pada Eris dan Azril yang baru saja datang.


Gleg!


Baik Eris juga Azril menelan kasar ludah mereka melihat semua orang sedang berada di ruang tamu. Hari ini adalah hari libur.


Yang paling mengerikan dari setiap orang di ruang tamu itu adalah tatapan tajam dari Hans untuk Eris.


"Sepertinya gue akan segara diterkam." Eris berguman pelan yang masih bisa di dengar oleh Azril.

__ADS_1


"Tak apa kak kita berdua hadapi sama-sama," ucap Azril, Eris menoleh terpaku pada istrinya yang memberi dia semangat, detik kemudian Eris mengangguk.


"Mbak Azril, Aditya kangen," anak kecil itu berlari mendekati Azril dan Eris.


Aditya memeluk erat Azril. "Mbak Azril juga kangen kamu, ayo kita temui yang lain," ajaknya pada sang ponakan.


Aditya berdiri di tengah-tengah Azril dan Eris lalu tangannya menggandeng tangan kedua orang dewasa di sebelahnya, Aditya mendongokan kepala menatap Eris yang ikut menatap dirinya. Eris tahu pasti ada yang akan Aditya katakan pada dirinya.


"Jangan takut Om Eris, harus bisa menghadapi Daddy dan Grandma. Om tenang saja Aditya akan membela Om Eris."


Mendengar itu Eris mengangkat tangannya untuk mengelus pucuk kepala Aditya.


"Om tahu itu Aditya, Insya Allah, Om Eris bisa menghadapi Daddymu dan Grandma. Terima kasih untuk semuanya."


Mereka bertiga berjalan mendekat pada nyonya Milda dan yang lainnya.


"Ma," sapa Eris dan Azril bersama keduanya bergantian menyalami Milda.


"Kalian berdua jahat dengan Mama!"


"Eris minta maaf Ma, semua itu terjadi begitu saja semua ini bukan salah Azril, Eris yang patut disalahkan."


"Mama tahu! tapi kenapa kamu tega menikahi putri Mama tanpa memberitahu Mama, hah! kamu jahat sama Mama, Er," ucap Milda lagi.


Dan Eris semakin merasa bersalah pada Milda. "Eris minta maaf Ma saat itu pikiran Eris benar-benar kacau tiba-tiba disuruh menikah dengan Azril."


"Oh, jadi kamu tidak mau menikah dengan putri, Mama."


"Astagfirullah salah ngomong kayaknya gue," guman Eris pelan. "Bukan begitu Ma, Eris justru berniat untuk melamar Azril."


"Pokoknya Mama tidak mau tahu harus dihukum, dalam satu minggu ini kamu dan Azril tidak boleh bertemu."


"Ma," protes Azril.


"Jangan bela suamimu Az,"


"Eris terima hukumannya Ma,"


"Tidak boleh telepon juga." Eris mengangguk pasrah walaupun hatinya memberontak.


'Ini namanya penyiksaan, masa baru nikah udah dipisah aja.' Eris hanya berani protes dalam benak saja.


Sekarang Eris sudah berhadapan dengan Hans yang terus menatapnya tajam dari Eris datang tadi, tatapan tajam Hans tak teralihkan pada Eris.


"Hans, gue..."


"Lo, Er..." Hans memotong perkataan Eris, tapi perkataan juga terpotong karena suara seorang.

__ADS_1


"Mama...Mama....Perut...Lia...Sakit...Ma...." ucapnya pada Ibu Rida sambil memegangi pertu buncitnya.


__ADS_2