
"Siapa yang kamu bilang membual."
Bariton tegas dan juga dingin itu membuat semua mata menuju pada sosok pria paruh baya yang kini ada di belakang Meilin dan juga Sukro.
"Pak Andra!" seru Meilin dan Sukro secara bersamaan, keduanya terlihat memberikan kode untuk mendekat kepada pria paruh baya jutawan tersebut.
"Dia, Pak, orang itu mengaku jika dia anak Bapak, mana mungkin orang yang berpakaian lusuh dan juga kelayapan bersama kami dulunya adalah putra Bapak," adu Meilin dengan senyum menyeringai.
"Dia benar, Pak, kemarin dia dikejar warga kerena ketahuan nyopet di jalanan," imbuh Sukro dengan wajah yang dibuat-buat.
Shane menghembuskan napas kasarnya, dua mantan temannya itu ternyata benar-benar racun dan gila akan harta.
Pak Andra menyipitkan kedua matanya, dilihatnya sang putra memeluk pinggang seorang gadis yang terlihat menunduk dan memakai pakaian tertutup.
"Dia memang putra semata wayangku yang beberapa hari tidak pulang karena kecewa dengan keputusanku yang sepihak," jelas pria paruh baya itu pada dua orang yang kini tambah mati kutu.
"Sayang, rasanya hawanya semakin panas, Acnya tidak menyala, aku merasa gerah," ucap Shane yang ingin sekali menghindari ayahnya.
"Tunggu, Pak, apa benar dia anak Bapak?" tanya Meilin lagi dengan nada yang manja.
"Iya dia putraku, semua aset hartaku bahkan mall besar ini adalah miliknya.
Bagai angin segar, Meilin berjalan kedepan Shane dan mencoba mendorong Flora yang sedari tadi dipeluk erat oleh pemuda tampan tersebut.
Tubuh Flora hampir saja terhuyung ke belakang, namun Shane dengan cepat menolong istrinya tersebut.
"Berani sekali kamu mendorongnya?" tegas Shane dengan kilatan api.
"Dia tidak pantas bersanding denganmu, Shane," bujuk Meilin dengan nada manja.
"Siapa kamu merayuku!"
__ADS_1
"Aku teman lo, bukankah kita susah senang bersama," goda gadis berpakaian ketat itu pada pemuda yang merupakan anak dari jutawan.
"Maaf, aku tidak punya teman yang tak punya etika seperti kamu, bahkan jika dunia ini hampir menghilang sekalipun," tegas Shane yang marah karena ulah Meilin.
"Bro gue 'kan juga sohib lo, kita bahkan tidur diemperan toko dan makan sebungkus nasi bersama-sama," terang Sukro dengan nada yang ramah dan mencoba mencari keuntungan dari Shane.
Pria paruh baya itu sedikit memijit kepalanya yang terasa pening, putra kesayangannya malah mirip orang yang tidak punya tenpat tinggal dan susah, namun dirinya enggan untuk bertanya pada putranya sebelum ada di rumah, menurutnya jika ada masalah antara mereka, harusnya duduk bersama dan membicarakan kesalahan masing-masing agar bisa dimengerti pada lawan bicara.
"Jangan sebut nama sohib di depanku, saat aku dikeroyok warga dikira pemcopet, kalian berdua malah berlari menyelamatkan diri, entah ponsel dan dompetku kemana saja aku tak tahu, lantas dimana kesetiakawanan kalian selama aku berada di antara kalian?" tanya Shane dengan nada dingin.
Dia sudah kehabisan kata jika menjelaskan kepada dua makhluk yang sering membuatnya susah.
Shane akhirnya pergi membawa Flora menjauhi kerumunan orang yang memang iri terhadap istrinya.
Kini keduanya sudah ada di dalam mobil, Flora tampak lebih diam daripada saat keluar dari rumah tadi.
"Sayang, apa yang sedang kamu pikirkan sekarang ini?" tanya pemuda itu dengan nada lembut dan penuh cinta pada istrinya.
"Selama aku menjadi istrimu, rasanya aku selalu spot jantung tiap detik, ada saja kejutan yang kamu berikan padaku, Shane," ujar Flora yang masih melihat lampu jalan yang berjejer menghiasi kota diwaktu malam.
"Maaf, tapi aku tidak bermaksud untuk membohongimu, Sayang. Selama ini tidak ada satupun wanita yang tulus berteman denganku karena aku merahasiakan identitasku, baju yang kemarin aku pakai adalah baju yang aku pinjam dari pak satpam untuk mencari cinta sejati, dan dari itu aku menemukanmu. Tapi jujur saja...."
Shane menghela napasnya kasar, "Duniaku dulu memamg gelap, sering pergi ke diskotik hanya untuk menghamburkan uang, balapan liar, dan bahkan ikut tawuran. Aku juga selalu buat masalah di kampus hanya untuk mencari perhatian dari orang tuaku," terang Shane pada Flora.
Gadis cantik disamping dirinya seakan tahu bagaimana rasanya menjadi suaminya.
Flora hanya diam dan tanpa bicara, dia masih mendengarkan suara hati dari Shane-pemuda yang sudah menjadi bagain hidupnya kini.
Mereka kini ada di lampu merah, namun sesuatu mengalihkan atensi pemuda tampan itu. Sebuah panggilan masuk, di sana tertera sebuah nama yang sering membuatnya kesal.
["Iya, Yah, ada apa?"]
__ADS_1
Tanpa ada salam pembukaan, Shane mengangkat panggilan itu dengan nada dingin.
Entah apa yang dia bicarakan oleh ayahnya, pemuda itu segera menutup ponselnya dan kini menghembuskan napas kasar.
"Dari Ayahmu?" tanya Flora dengan nada lembut.
Shane mengangguk, "Iya, dari Ayah."
"Beliau bicara apa?"
"Dia ingin kita mampir dirumahnya, desas desus kita menikah sudah sampai ditelinganya, mungkin dia akan memberikan kita beberapa pertanyaan bagaimana bisa kita menikah," tutur Shane yang masih fokus pada jalanan yang ramai.
"Jika begitu, baiknya kita mampir saja di rumah beliau, mungkin beliau juga rindu denganmu, mau bagaimanapun juga beliau adalah kelaurgamu, Shane," bujuk Flora yang ingin suaminya menemui ayahnya.
"Jika itu permintaanmu, aku akan mampir, tapi hanya sebentar saja," sahut Shane tanpa ekspresi. Pemuda itu melajukan mobilnya menuju rumah mewah dan besar bak istana kerajaan.
Shane menghela napasnya dalam, sudah beberapa bulan dia tidak lagi menemui ayahnya karena masalah perjodohan yang membuatnya kesal.
Flora memegang tangan suaminya, menyalurkan energi positif agar suaminya tersebut tenang.
"Jangan jadikan emosimu untuk membentengi diri dari ayahmu, dia adalah orang yang berjasa atas dirimu, beliau pasti punya alsan yang belum kamu tahu," jelas Flora yang membuat wajah tegas itu sedikit teduh.
Tidak ada jawaban dari Shane, dia hanya berharap tidak ada lagi perjodohan yang membuatnya kesal.
"Apa kamu sudah siap untuk semuanya, bahkan jika Ayahku menentang pernikahan kita?" tanya Shane sedikit ragu.
Flora terdiam sejenak, namun dia akhirnya mengangguk tanda siap.
"Apapun itu aku tidak akan lari, meski tanpa restu beliau, aku akan tetap berusaha menjadi istri terbaik dan menantu terbaik untuk beliau, Mas."
Kata 'Mas' yang Flora ucapkan begitu membuat hati Shane berbunga-bunga, baru kali ini seseorang memanggiilnya dengan begitu lembut dan penuh rasa untuknya, meski awalnya tidak ada rasa cinta bagi gadis cantik yang ada disamping dirinya.
__ADS_1
"Baiklah, kita masuk secara bersama-sama, tetaplah di sisiku dan jangan pernah pergi dariku," pinta pemuda itu dan mereka melangkah bersama.
Di dalam rumah, ayah Shane memandang keduanya dengan tatapan datar.