Kekasihku Bad Boy Milyuner

Kekasihku Bad Boy Milyuner
Monster Kutub


__ADS_3

Wajah ramah Shane yang tadi terlihat begitu menawan, kini terlihat begitu menyeramkan, meskipun mereka daring antara kantor dan juga rumah sakit, namun aura dari pemimpin perusahaan Gemilang Corporation tersebut sampai juga di dalam ruangan para pemegang saham.


"Sebelum kita mulai, mungkin ada sesuatu yang ingin kalian selesaikan lebih dulu," tawar Shane saat melihat beberapa orang terlihat tidak tenang.


Shane memberikan waktu pada orang yang ingin keluar dari ruangan untuk menyelesaikan masalahnya, namun tidak ada satu pun dari mereka yang ingin keluar dari ruangan.


"Jika tidak ada yang keluar, kita mulai rapat hari ini."


Suasana mulai tampak tegang entah apa yang akan terjadi nanti, hanya Shane yang tahu.


Dirinya memulai memberikan sebuah presentasi, banyak orang yang setuju dengan ide dari pemuda tampan itu.


Slide per slide dia tayangkan lewat layar laptop miliknya. Hingga sampai ujung acara, pemuda itu mulai dengan wajah serius.


"Ada yang keberatan dengan presentasi saya hari ini?" tanya tegas Shane kepada seluruh pemegang saham di. perusahaan yang dia pimpin.


Tidak ada yang menjawab, mereka hanya menundukkan wajah saja.


"Berarti kalian semua setuju dengan peraturan baru bagi karyawan?" tanya Shane lagi dengan wajah datar, tidak ada senyum ramah yang dia tampilkan di layar besar yang ada di ruangan rapat.


"Setuju, Pak Shane," sahut mereka serentak.


"Jika begitu, kali ini saya akan bertanya kepada kalian tentang gaji masing-masing."


Tatapan tajam itu membuat orang yang ada di sana mendadak membeku.


"Apa ada diantara kalian yang ingin gaji tinggi namun dengan pekerjaan ringan?" tanya Shane dengan tegas.


"Jika ada, angkat tangan," perintah pemuda yang menjabat sebagai CEO muda di Gemilang Corporation tersebut.


"Baiklah, jika tidak ada yang keberatan dengan pekerjaan kalian saat ini, namun ada satu hal yang pasti dan juga harus ddipahami oleh semuanya....."


Shane menjeda ucapannya, dia tersenyum menyeringai, "Tidak ada kesempatan kedua untuk mereka yang ingin bermain dengan saya bahkan untuk bernapas saja, saya pastikan dia akan sulit menghirup segarnya oksigen."


Bagai sebuah sindiran untuk seluruh pemegang saham, Shane kemudian menutup rapat dengan wajah yang kembali ramah dan dia meminta asistennya untuk mencatat semua hasil dari rapat tadi, tidak lupa meminta laporan anggota yang mau protes karena keberatan.


Selesai dengan rapat pagi, dia merenggangkan ototnya dan juga tangannya.


"Mas sudah selesai kerja."

__ADS_1


Panggilan lembut itu membuat wajah Shane melihat ke sumber suara.


"Kamu sudah bangun, Sayang?" sahut Shane sambil duduk di tepi ranjang istrinya.


"Sudah dari tadi, bahkan aku melihat Mas yang sedang bekerja, ternyata suamiku punya banyak bakat ya," puji Flora dengan senyuman manis.


"Bakat apa, Sayang? Ini sudah menjadi pekerjaan ku setiap hari, jadi bagiku mudah saja," jawab pemuda tampan itu sambil tersenyum lembut.


"Banyak bakat yang aku sendiri tidak tahu apa saja selain merayu dan berkata manis padaku," goda gadis cantik itu pada Shane.


"Kamu itu bikin aku tambah gemas, Sayang. Kalau tubuhmu sudah fit, akan aku pastikan untuk mendapatkan hukuman dari suamimu ini."


"Hukuman! Aku bahkan tidak melakukan kesalahan apapun, Mas, kenapa mesti dihukum?" protes Flora yang kini memberengut kesal pada suaminya.


"Karena semua yang kamu miliki, membuat ku menjadi candu, Sayang, jadi jaga dirimu hanya untukku," pinta Shane pada kekasih halalnya.


"Ngerayu!" balas Flora yang pipinya merona.


"Tidak apa 'kan merayu kekasih halal."


Keduanya tampak menggoda satu sama lain, tiba-tiba pria paruh baya datang dengan seseorang yang Shane dan Flora kenal.


"Pagi Shane?" sapa Rikha dengan senyum mengembang.


Flora menyenggol lengan pemuda yang merupakan suaminya tersebut untuk membalas sapaan dari Rikha, namun hal itu tidak berhasil.


"Maaf, ayah membawa Nak Rikha tadi, dia pagi-pagi sekali sudah ada di rumah dan menanyakan Shane," tutur pria paruh baya itu sedikit tidak enak dengan menantunya.


"Tidak apa, Yah," sahut Flora dengan senyum ramah.


Pria paruh baya itu duduk di sofa panjang, namun sebelum dirinya merebahkan tubuhnya, Ayah Shane memberi sebuah paper bag yang berisi makanan.


"Makan yang banyak, Nak biar lekas sembuh," ujar pria paruh baya itu pada anak menantunya.


"Terima kasih, Yah."


Rikha mulai mendekati Shane yang sedang duduk ditepi ranjang istrinya.


"Jangan pernah mendekat, kamu bukan istriku," tegas Shane yang menolak dekat dengan Rikha.

__ADS_1


Rikha menangis, dia melihat Flora dengan tatapan tidak suka.


"Mengapa kamu mau bersama dengan dia, jelas aku lebih baik, cantik, serta kaya dari dia."


Rikha mulai menyombongkan dirinya sendiri di depan pasangan halal tersebut.


"Ck kamu terlalu sombong dan percaya diri Rikha, bahkan jika kita tidak ditakdirkan untuk berjodoh, apa yang akan kamu lakukan?" tanya Shane pada teman masa lalunya.


"Aku tidak akan melepaskan mu, Shane," sahut Rikha dengan nada tegas.


"Ck, kamu bilang apa? Tidak melepaskan aku, apa kamu lupa 4 tahun yang lalu sudah meninggalkanku bersama harapan kosong yang kamu janjikan, sekarang aku sudah bahagia dan kamu melarang ku untuk tidak bersama pilihan ku sendiri."


Shane tertawa, "Bagiku kamu itu tidak lebih dari masa lalu, yang ada sekarang adalah Flora, masa depanku yang sangat istimewa," puji Shane di hadapan Rikha.


"Tidak Shane, berikan aku kesempatan lagi untuk membuktikan jika rasa itu masih ada," rengek Rikha pada Shane.


Bruk


Tubuh Rikha ambruk, Shane hanya diam dan memandang rendah gadis uang sudah dia duga sedang berakting.


"Sayang, bantuin teman kamu itu, dia membutuhkan pertolongan," ucap Flora yang panik.


"Jangan mudah tertipu dengan aktingnya, Sayang, dia itu artis yang mudah saja bersandiwara, dia bahkan bisa menagis dengan sendirinya. "


Sambil memberikan makanan untuk Flora, Shane memilih untuk memencet tombol darurat, beberapa dokter tergopoh masuk ke ruangan inap Flora.


"Ada apa, Tuan muda?" sapa salah satu dokter pada Shane.


"Periksa orang yang tergeletak itu sekarang," ucap dingin Shane pada dokter yang kini melihat Rikha yang ada di lantai.


"Mas, jangan galak sama dokter," protes Flora pada suaminya.


"Hmmm."


Hanya jawaban itu yang terdengar oleh gadis cantik berhijab itu.


Dokter berjongkok dan mulai meneriksa keadaan Rikha. Selesai mengecek kesehatan gadis berbaju salem berkerah v-neck yang memperlihatkan dada putihnya itu segera menggeleng.


Shane memberikan kode untuk keluar dari ruangan dan membiarkan Rikha masih ada di sana.

__ADS_1


"Mas, apa tidak kasihan sama Rikha, nanti kedinginan loh," bujuk Flora pada suami super komplitnya tersebut.


"Biar saja, Sayang, aku membutuhkan kamu, bukan orang lain."


__ADS_2