
Perjalanan pulang Flora terasa begitu lama, sang sopir juga diam tanpa memberikan pertanyaan pada dirinya. Hingga akhirnya sang sopir memberhentikan kendaraan roda empat mewah warna hitam itu ke sebuah salon.
"Lho, Pak kenapa kita berhenti di sini?" tanya gadis berkerudung merah muda itu dengan nada bingung.
"Saya disuruh tuan muda untuk membawa Nona merias diri di salon sekalian perawatan," sahut sosok bertopi itu tanpa melihat pada lawan bicaranya.
Tanpa merasa aneh, Flora turun, dirinya kini masuk ke dalam salon untuk perawatan sesuai dengan yang Shane siapkan. Sedangkan orang yang mengantarkan dirinya beranjak pergi.
Shane sudah selesai dengan kegiatannya hari ini, dia juga yang mengantarkan istrinya untuk ke salon, sementara dirinya mandi dan menyiapkan buket bunga untuk Flora.
Namun dia juga menyiapkan dua kado istimewa yang akan membuat istrinya tambah bahagia, dan hal itu sudah dia simpan dengan sangat rapi.
Selang berapa jam, swmua sudah siap, dia merenung melihat kembali kilas balik kebodohannya.
Duduk di atas kursi kerjanya di kantor, Shane tengah termenung menatap kosong ke luar jendela kaca besar di ruang kerjanya. Pikiran pria itu penuh dengan kilasan kejadian kemarin.
Semakin dia memikirkannya, semakin besar rasa bersalah yang dirasakan oleh Shane karena telah salah paham dan menuduh istrinya sendiri selingkuh dengan pria lain. Shane semakin gelisah memikirkan perasaan sang istri yang pastinya kini tengah sakit hati dan kecewa terhadap dirinya.
"Apa yang harus aku lakukan, ya Allah," keluh Shane mengacak rambutnya sendiri.
Seandainya saja, dia tidak terpengaruh oleh Rikha dan terhasut kata-kata wanita itu, semua ini tidak akan terjadi. Istrinya, Flora, juga tidak akan sakit hati dan kecewa pada dirinya seperti saat ini. Bahkan sudah beberapa hari Flora mendiamkan Shane. Ini membuat Shane sangat frustasi.
"Ini semua gara-gara kamu, Rikha!" maki Shane mengumpat kasar pada udara sunyi di kantornya.
Tidak. Ini bukan sepenuhnya salah Rikha. Ini juga salah Shane sendiri. Seandainya saja dia lebih percaya pada istrinya, dia tidak akan terhasut oleh orang lain. Andai dia langsung menanyakan dan meminta penjelasan kepada istrinya, pasti Flora tidak akan marah seperti saat ini.
Benar-benar dibuat frustasi oleh keadaan, Shane tidak bisa konsentrasi untuk bekerja. Sementara setumpuk dokumen telah menunggu di atas meja kerjanya untuk ditangani, Shane mengabaikan semua itu.
Ditengah rasa gelisah nya, tiba-tiba Shane duduk tegak. Sorot matanya memancarkan tekad yang kuat, yang membuat sinarnya yang sempat layu kini kembali terang dan jernih. Sebuah tekad untuk meminta maaf kepada sang istri dengan menunjukkan ketulusan dari dalam hatinya yang terdalam.
Meraih ponsel miliknya di atas meja, Shane menghubungi seseorang.
["Aku butuh bantuanmu,"] ucap Shane langsung begitu sambungan telepon terhubung.
__ADS_1
Tanpa basa basi lagi, dia segera mengatakan apa yang dia inginkan, bahkan sebelum pihak lain sempat menyapanya lebih dulu.
["Aku ingin semuanya siap sebelum nanti malam. Tidak ada kesalahan yang bisa diterima,"] kata Shane tegas sebelum menutup panggilan tersebut.
Senyum percaya diri perlahan terlihat di wajahnya. Memutar kursinya kembali, Shane meraih salah satu dokumen yang sejak tadi telah diabaikan begitu saja di sana. Dia mulai mengerjakan pekerjaannya dengan semangat. Berharap semuanya cepat selesai dan dia bisa melakukan rencananya sesegera mungkin.
Sebuah ketukan membuyarkan lamunannya di dalam kamar.
"Tuan Muda."
Terdengar panggilan dari luar pintu kamarnya. Bergegas pemuda tampan dengan baju formal itu membuka pintu.
"Iya ada apa?" ujar Shane dengan nada tegas.
"Sudah waktunya untuk menjemput Nona Muda," ingat sopir yang dia utus untuk memberitahu kegiatan istrinya.
"Baik, kembalilah ke pekerjaan mu dulu, setelah selesai lekas istirahat atau kamu boleh pulang, karena aku memberikan libur selama satu minggu untuk kerja keras mu," tutur Shane dengan nada ramah meskipun tampak begitu tegas.
Sopir itu segera pergi meninggalkan Shane setelah memberikan hormat. Sedangkan Shane segera pergi ke salon, guna menjemput istri tercintanya.
Senyum mengembang tidak lepas dari wajahnya yang begitu tampan. Sesampainya di salon tempat Flora berias, pemuda itu terpaku melihat bidadari yang nyata berada di depannya, sosok wanita cantik yang bebrapa hari ini menjadi murung karena ulahnya.
Sedikit teriris namun dia ingin hari ini masalah mereka selesai. Dengan sangat lembut pemuda itu mengulurkan tangan untuk Flora, berharap istrinya itu mau menyambut uluran tangannya.
Meskipun wanita berhijab itu masih dalam keadaan marah, dia masih menghargai suaminya tersebut. Flora menyambut dengan senyum tipis namun masih ada jejak luka.
Dengan lembut, Shane mengarahkan istrinya untuk masuk ke mobil pribadi miliknya, pemuda itu membuka kan pintu dan meminta Flora untuk masuk.
"Silahkan masuk, Ratu ku," rayu Shane pada istrinya.
"Terima kasih."
Jawaban singkat dengan tatapan luka itu membuat Shane semakin merasa bersalah.
__ADS_1
"Sudah siap, Sayang, kita pulang ya."
"Sayang, apa kau masih marah padaku?"
Shane mencoba membuka percakapan diantara mereka saat mereka sudah berada di dalam mobil yang melaju menuju rumah mereka.
Akan tetapi, Flora memalingkan wajahnya. Tidak ingin berbicara dengan Shane.
Melihat ini, Shane tersenyum miris. Dia tahu dia salah, jadi dia tidak memaksa lagi. "Aku minta maaf, Sayang. Aku tahu kalau aku salah. Kau berhak marah padaku," lirih Shane sebelum fokus pada jalanan di depan mereka.
Tidak berapa lama kemudian, mereka telah tiba di depan rumah mereka sendiri. Melihat keadaan rumah yang agak gelap, Flora mengernyitkan dahinya bingung. Menoleh pada Shane, menatap suaminya dengan penasaran.
"Kenapa rumah gelap? Apa listriknya mati, atau kau lupa menyalakan lampu, Mas?" tanya Flora penasaran.
Namun Shane hanya tersenyum kecil. Pria itu turun dari mobil dan membukakan pintu untuk istrinya. Menunggu Flora turun dari mobil dengan sabar. Kemudian dia menutup kedua mata Flora dengan kedua tangannya.
"Apa ini, Mas? Kenapa kau menutup mataku?" pekik Flora kaget dengan kejadian yang tiba-tiba itu.
"Tenang saja, Sayang. Percayalah padaku," bisik Shane mesra di telinga Flora.
Dengan perlahan, Shane menuntun Flora berjalan memasuki rumah. Shane tidak melepaskan tangannya sampai mereka tiba di halaman belakang rumah mereka.
"Kau siap?" bisik Shane bertanya pada Flora.
"Apa yang–"
Flora tidak melanjutkan ucapannya saat kedua matanya yang telah bebas, melihat pemandangan di depannya. Itu adalah meja makan yang dihias sedemikian rupa sehingga menimbulkan kesan romantis.
"Candle light dinner," ucap Shane tersenyum lembut pada sang kekasih hati.
Flora menatap wajah sang suami dengan sorot mata yang rumit. Ada kebahagiaan dan juga haru di sana, melihat suaminya telah menyiapkan semua ini untuk dirinya seorang.
"Mas …"
__ADS_1