
Langkah kaki Shane segera dipercepat. Dia melihat ada teman masa kecilnya berada di sana.
"Kenapa kamu ada di sini?"
Pertanyaan dingin itu membuat gadis cantik dengan gaun merah marun selutut itu mengernyitkan dahi.
"Kamu tidak suka aku ada di sini? Padahal sudah jauh dari Amerika untuk bertemu denganmu lagi, Shane," tutur lembut Rikha yang tersenyum penuh cinta, namun lawannya hanya bersikap biasa saja.
"Ayah menyuruh ku kesini cuma ketemu dia saja, membuang waktuku yang sangat berharga," ketus Shane yang pikirannya masih memikirkan Flora.
"Jaga sikap mu dengan tamu, Shane," tegas pria paruh baya itu pada. putranya.
"Aku mau keluar dulu, Yah, mau mencari bidadari dunia akhirat," pungkas Shane yang segera meninggalkan kantor untuk mencari keberadaan kekasih halalnya.
"Shane tunggu," teriak dari gadis yang dia temui tadi di dalam ruangan ayahnya.
"Kenapa kamu seakan menghindari ku?" tanya Rikha dengan mata memerah, seakan ingin menangis.
Shane tidak menjawab, dia hanya diam dan memikirkan nasib istrinya yang belum dia temukan.
Rikha memeluk tubuh Shane erat, menyembunyikan wajahnya dengan tangis yang begitu keras.
__ADS_1
"Jangan seperti ini, ini di kantor bukan di rumah," ketus Shane yang mencoba melerai, dia memegang bahu Rikha dengan erat, namun sayangnya Flora datang di waktu yang kurang tepat. Hingga kejadian itu membuat hubungan Shane dan Flora semakin mamanas.
"Maaf, jika aku mengganggu kalian, silahkan dilanjut."
Flora segera berbalik arah dengan bulir bening di pipinya yang semakin deras.
"Flora, tunggu!" seru Shane yang kini mendorong tubuh Rikha dengan keras, dia meninggalkan teman masa lalunya untuk mengejar masa depannya.
"Shane aku butuh kamu, bisakah kamu ada di sini menemaniku lagi," ujar lemah Rikha dengan mencekal lengan pemuda yang sudah frustasi karena istrinya sedang marah, namun saat Shane melepaskan cekalan tangan teman masa lalunya, tubuh kecil itu terhuyung ke belakang dan membentur lantai.
"Rikha," teriak Shane yang panik, dia menggendong tubuh mungil itu di dekapannya dan memasukkan gadis dari masa lalunya itu ke dalam mobil, dengan kecepatan tinggi dia melajukan kendaraan miliknya menuju rumah sakit terkemuka di kota itu.
Tanpa Shane sadari sepasang manik hitam melihat dirinya yang menggendong wanita lain tanpa canggung dan meninggalkannya di lobi seorang diri.
Disisi lain, Flora tampak sedih dan begitu terpukul, dia masih punya masalah dengan suaminya namun tidak tampak raut menyesal dari pemuda yang sudah sah menjadi kekasih halalnya tersebut.
'Mungkin aku harus bisa sendiri tanpa Shane,' batin Flora yang menghapus air matanya yang semakin deras.
"Nak, kenapa kamu ada di sini?" tanya pria paruh baya itu sambil tersenyum manis pada menantunya.
"Tadi Rara mencari kantor Bapak lewat aplikasi map, karena Shane katanya ada urusan yang penting," dusta Flora sambil tersenyum terpaksa.
__ADS_1
"Jangan panggil aku bapak, panggil ayah seperti apa yang Shane lakukan, karena kamu juga anak ayah yang paling cantik sekarang," sahut pria paruh baya itu pada anak menantunya.
"Iya, Ayah, Rara akan mencoba untuk memanggil dengan sebutan Ayah."
"Kamu sudah makan?" tanya Pak Andra pada menantunya.
Flora menggeleng pelan, "Belum, Yah, tadi Rara belum sempat makan," terang gadis cantik itu pada mertuanya.
"Kalau begitu ayo kita pulang ke rumah ayah saja, biar Shane nanti menyusul mu ke sana."
"Iya, Yah."
***
Setelah drama di rumah sakit yang membuat Shane tertahan karena Rikha yang mengancam untuk bunuh diri, membuat wajah tampan itu semakin gusar, dia berulang kali mengusak kasar rambutnya karena Flora belum ada kabar.
Namun sebuah notif chat masuk membuat garis melengkung di wajahnya yang begitu tampan.
"Kamu mau ke mana Shane?" tanya Rikha yang berbaring di ranjang rumah sakit.
"Mau pulang, Ayah meminta ku untuk segera kembali ke rumahnya sekrang," sahut Shane dengan nada tegas.
__ADS_1
"Jangan pergi, nanti aku sendirian di sini?" rengek Rika yang membuat Shane ingin menghempaskan tubuh mungil itu.