
Flora tersenyum menanggapi ucapan dari lawan bicaranya, "Maaf jodohku sudah ada di sampingku saat ini, Anda bisa mencari lagi wanita lain yang sempurna untuk Anda miliki, buatku, Mas Shane merupakan jawaban dari setiap doaku, karena tanpa takdir kita tidak akan bersama seperti ini, dan satu lagi jauhi saya!"
Penolakan dari Flora membuat panas hati pemuda yang merupakan mantan kepala sekolah tempat di mana Flora sempat magang.
"Anda bahkan sudah mendengar sendiri 'kan perkataan istri saya, untuk apa Anda masih berada di sini? Saran saya kamu segera mundur untuk mendekati istri saya, dan satu lagi pintu keluar ada di sebelah sana."
Tampak wajah kesal terlihat jelas dari mantan kepala sekolah tempat Flora sempat magang jadi pengajar di sana.
"Ternyata istriku begitu menyeramkan saat marah, terlihat dari nada tegas dan penolakan yang begitu tepat menyinggung lawan bicara."
Shane berkata dengan sedikit nada memuji dan mencibir, membuat Flora hanya tersenyum tipis.
"Aku hanya melindungi hati pasangan ku agar dia tidak terluka, satu goresan luka kepercayaan itu sulit untuk sembuh, jadi jangan pernah mencoba untuk berbuat yang membuat pasanganmu terluka semakin dalam, Mas!" ancam Flora meskipun menggunakan nada yang sangat lirih, namun bisa diartikan itu sebuah peringatan dini. Bukan BMKG yang memperingati akan ada musibah besar, tetapi tatapan tajam sang istri yang membuat nyali Shane begitu ciut.
Selesai acara salam-salaman, Flora meminta izin untuk duduk di kursi pelaminan, kakinya sudah lelah sejak tadi pagi saat acara mulai berlangsung silih berganti.
Shane mengangguk paham, dia lantas memberikan ruang untuk Flora istirahat dulu, sedangkan pemuda itu berjalan ke depan, menyapa rekan bisnisnya yang terlihat banyak yang hadir.
"Selamat ya, Pak Shane akhirnya Anda menikah juga, saya kira bakal lama Anda menikah, karena tidak terlihat menggandeng wanita mana pun," tutur rekan bisnisnya membuat Shane tersenyum.
"Bagaimana Pak Shane berpikir menikah, dia saja selalu sibuk dengan tumpukan kertas dokumen, tapi tahu-tahu menyebar undangan dadakan pada kita, saya kira sebuah lelucon tetapi ini beneran terjadi," timpal salah satu rekan bisnis yang memang kurang suka dengan kesuksesan dari Shane.
"Apa karena pasangan Anda ham....."
__ADS_1
Shane masih memberikan senyum manisnya kemudian, "Anda terlalu berimajinasi, Pak Leonard, saya sudah menikah 3 bulan yang lalu secara agama dan negara, tidak banyak yang datang hanya kerabat dekat saja, pesta ini memang rencana saya agar semua orang tahu jika saya sudah menikah, agar para jomblowati yang di luaran sana tidak mencoba mendekati saya dan membuat luka istri saya nantinya-Kesetiaaan itu mahal, Pak Leonard," sindir Shane tepat pada pemuda yang lebih tua dari dirinya.
Tamu undangan yang ada di dekat Shane menahan tawa saat pemuda tampan itu membalas lawan bicaranya dengan nada halus sekaligus menyindir.
Sadar jika Leonard kalah, pemuda itu akhirnya pergi dari pesta Shane, detik kemudian para rekan bisnis yang mendoakan pernikahan Shane dan Flora langgeng mulai tertawa.
"Duh kayak dicubit ginjalnya ya, malu banget pasti, ingin nyindir tapi kena mental balik, memang Tuan Shane itu pintar membalas lawan dengan cara lembut dan menusuk relung hati," puji pria paruh baya yang menjadi rekan bisnis Shane.
"Terima kasih pujiannya, Pak. Saya tidak akan melukai lawan tanpa sebab."
Shane masih sibuk menyapa para tamu yang hadir, hingga dia lupa jika istrinya sendirian di ruang tunggu VIP.
Lalu detik kemudian, sebuah panggilan masuk ke dalam ponsel miliknya.
["Nak lekas temani istri mu, apa kamu tega membiarkan dia menunggu sendiri di ruang tunggu."]
"Iya, Yah. Aku akan segera ke dalam."
Shane menyimpan lagi ponsel pintar miliknya, dan meminta izin untuk ke ruang ganti meski sebenarnya bukan itu yang dia cari.
Semua orang yang tadi berbincang hangat dengan Shane mengangguk paham, pemuda itu mungkin sudah lelah sedari tadi menyempatkan diri bertegur sapa dengan para rekan bisnis.
Pada waktu yang sama, Shane yang berjalan santai untuk menemui Flora terkejut, dengan sosok bertopeng yang ingin membawa lari istrinya tersebut.
__ADS_1
Flora mungkin tidak sadar dengan bahaya yang menimpa dirinya, namun Shane dengan cekatan memberikan tendangannya tepat ke perut lawan.
Tubuh Flora yang masih digendong oleh sosok bertopeng itu hampir jatuh, untung saja suaminya dengan sigap segera menangkap wanita yang sangat dia sayangi itu.
Berulang kali Shane menepuk lembut pipi Flora, namun tidak ada respon sama sekali, akhirnya pemuda tampan itu membawa Flora ke kamar mereka dan meminta salah satu dokter pribadi keluarganya untuk datang ke hotel tempat resepsi mereka dilangsungkan.
Mau tidak mau Shane membebaskan sosok yang tidak dia ketahui itu kabur dengan bebas.
Pemuda itu menunggu dokter pribadinya dengan begitu cemas, hingga beberapa jam kemudian sosok wanita paruh baya datang dengan alat medis yang dia bawa.
"Kenapa bisa seperti ini?" hanya dokter yang usianya sekitar 45 tahun tersebut.
"Aku juga tidak tahu, ada orang yang ingin membawa kabur istriku tadi, untungnya aku tadi tidak terlambat datang, jika iya aku tidak tahu harus bagaimana," terang Shane dengan wajah yang masih diliputi kepanikan.
Dokter Mina menghela napas kesal, sambil memeriksa keadaan wanita cantik yang masih mengenakan gaun pernikahan dengan aksesorisnya itu, "Untung hanya diberi sedikit obat bius saja, istrimu tidak apa-apa, tapi tetap jangan sampai lengah sedetikpun, Shane, ingat, sekarang lawan bisnismu bisa saja mengincar Flora dan membuatmu menentukan sebuah pilihan," tutur wanita paruh baya itu pada Shane, setelah memeriksa keadaan Flora.
"Iya, maaf aku lengah, kali ini aku akan mengawasi Flora 24 jam, bahkan saat berada di kampus aku akan memberikan beberapa bodyguard yang akan melindungi dirinya, meski dengan menyamar agar tidak terlalu menyolok," ujar Shane berpikir jauh ke depan.
"Idemu memang bagus, Shane tapi kamu tidak akan bisa mengakses satu tempat jika sewa bodyguard."
Pemuda itu mengernyit kan dahinya, "Mana ada tempat yang tidak bisa aku akses jika ada bodyguard?"
Shane malah balik bertanya pada wanita paruh baya tersebut, dengan gemas dia menjewer telinga Shane hingga merah.
__ADS_1
"Dengar Tante baik-baik, tempat yang tidak bisa kamu masuki adalah toilet wanita, maka apa yang akan kamu lakukan jika kamu meminta bodyguard seratus pun, jika akhirnya Flora akan kena jebakan di sana, apa mungkin bodyguard kamu tahu jika ada sesuatu yang kurang beres terjadi pada istrimu."
Shane tampak berpikir keras, "Lalu apa yang harus aku lakukan?"