
Shane masih duduk di ruang tunggu, dia setia menanti kekasihnya yang ditangani oleh dokter.
Selama itu dia menggunakan waktunya untuk berdoa, berdzikir pada Sang Pencipta untuk melindungi istrinya yang ada di dalam sana.
Namun sebuah pesan membuat pemuda itu tampak geram.
[Seret dia di rumah sakit sekarang, jangan biarkan orang yang melukai istriku bisa tertawa dengan bahagia.]
Shane mengirimkan pesan pada seseorang yang memberikan sebuah bukti CCTV di kampus tadi. Pemuda tampan itu melihat jika Lisa mengajak Flora untuk jalan bersama setelah selesai mata pelajaran, awalnya tidak ada sesuatu yang mencurigakan, tetapi saat ada di gudang pintu tertutup dan beberapa menit kemudian Lisa keluar tanpa Flora dengan mengunci dari luar dan meninggalkan istrinya seorang diri.
"Jangan pernah salahkan aku untuk menggunakan cara kasar, cara yang sama dengan apa yang kamu lakukan pada istriku," monolog Shane dengan emosi.
Pemuda itu mondar mandir menunggu Sang kekasih keluar dari ruangan. Detik kemudian seorang dokter keluar dan mendekat pada Shane.
"Tuan muda, istri Anda mengalami trauma, bagian tubuhnya ada banyak memar dan juga luka, mungkin sebaiknya istri Anda di rawat dulu untuk melihat bagaimana hasil visumnya keluar, jika begitu saya permisi pamit dulu Tuan Muda."
Pria paruh baya dengan setelan jas putih dan stetoskop yang menggantung di lehernya tersebut segera pergi dari hadapan Shane setelah berbicara pada putra pemilik rumah sakit.
Shane hanya bisa menatap punggung pria paruh baya itu yang semakin menghilang dari pandangannya.
Tidak berapa lama, Flora yang masih ada di atas ranjang dorong itu keluar bersama para tiga orang perawat, mereka dengan hati-hati membawa Flora ke ruang khusus kelurga Andrawijaya.
Tatapan tajam Shane membuat tiga orang perawat itu tampak tidak nyaman. Bagi mereka beberapa detik dengan anak dari pemilik rumah sakit adalah hal yang begitu menakutkan, tidak ada senyum ramah atau juga tatapan yang ramah.
Beberapa detik kemudian mereka sudah beras di ruang khusus, para perawat membantu memasang infus dan membenarkan selimut yang dipakai oleh Flora.
Setelah itu mereka pamit dan keluar dari ruangan tersebut dengan perasaan lega, meninggalkan Shane yang melihat istri cantiknya tidak bergerak sama sekali, membuat hatinya semakin teriris.
Suara adzan maghrib mulai menggema, Shane mengambil air wudhu dan mulai melakukan tugasnya sebagai seorang muslim, dia tampak khusuk dan juga serius saat berdoa, memohon untuk kesembuhan bidadari cantiknya.
Tidak lama kemudian, pria paruh baya yang tadi ada di rumah datang, dia membawakan beberapa makanan untuk putranya karena pasti tidak akan ada waktu untuk makan lebih dulu.
"Ayah segera ke sini karena kamu memberi tahu bagaimana kondisi Rara saat ini, jadi karena terburu, ayah hanya membawa makanan kecil itu untuk mu, Nak."
__ADS_1
"Aku tidak berselera, Yah."
Suara Shane tampak lemas, dia masih memikirkan istrinya yang belum juga sadar.
"Jangan bandel, kalau Flora siuman dan kamu gak mau makan, apa dia harus jalan dan melayani mu seprti sebelum dia sakit," ujar pria paruh baya yang mulai kesal dengen tingkah putranya yang sedikit kekanakan.
Shane menggeleng lemah, "Tidak, Yah, aku tidak akan membiarkan dia melayani ku karena dia sakit," sahut Shane malas berdebat, tapi yang dikatakan oleh ayahnya adalah benar adanya.
"Kalau begitu jangan pernah merepotkan Flora."
Tegas dan membuat Shane malu, tapi dia suka jika ayahnya seperti itu terhadap dirinya.
Setelah berbicara panjang lebar pada ayahnya, pemuda itu kini mulai memantau gerakan lawan, dirinya fokus dengan apa yang sudah teman satu kampusnya itu lakukan pada kekasihnya.
Hingga dia tersenyum menyeringai setelah mendapat sebuah notif dari ponsel pintar miliknya.
[Semua sudah beres, Tuan.]
Shane beranjak dari tempat duduknya, dirinya melihat wajah kekasih halalnya yang masih belum sadarkan diri sedari tadi, sebelum dia pergi keluar, dirinya menyempatkan diri untuk mengecup lembut kening Flora.
"Aku pergi sebentar ya, nanti aku akan kembali setelah urusan pekerjaan selesai," bisik Shane lagi.
Pemuda itu keluar dari rumah sakit membawa mobil pribadi miliknya, hingga dia sampai di sebuah gedung yang terbengkalai dengan beberapa pengawal yang menjawab tempat itu.
Langkah Shane yang panjang membuat dirinya sampai di sebuah kamar yang bercat coklat dengan warna yang sudah memudar.
Tanpa ada rasa lembut, Shane menendang paksa pintu tersebut dan terlihatlah seorang gadis yang takut, wajahnya yang tadinya memucat mendadak berseri ketika melihat ada sosok yang dia kagumi ada di depannya.
"S-Shane apa kamu ke sini demi menolong ku?" ucap Lisa dengan nada ceria, dia bagai tokoh utama yang mendadak diselamatkan oleh pangeran tampan dan kaya raya.
Pemuda itu tidak menjawab, hanya tatapan dingin dan juga tajam mengarah pada gadis yang tampak senang melihat dirinya.
Shane berjongkok di depan Lisa dengan tatapan tajam, dia melepaskan ikatan Lisa.
__ADS_1
"Terima kasih, Shane, kamu......"
Lisa ingin memeluk pemuda di depannya namun alih-alih mendapatkan pelukan, Lisa malah di dorong dengan kasar oleh Shane.
"Sssshh, sakit Shane," keluh manja Lisa pada suami Flora.
Belum sempat dirinya berdiri, Lisa diikat lagi pada kursi yang sempat digunakan untuk mengikat dirinya.
"Apa-apaan kamu, Shane, aku ini wanita bukan lawan sepadan yang bisa kamu....."
Lisa mencoba membela diri, namun Shane memegang dagunya dengan erat, "Aku hanya ingin membalas sebuah tragedi untuk istriku, bukankah hal seperti ini biasa untuk mu, Lisa," tekan Shane dengan nada geram.
"A-apa maksud mu, apa yang sudah aku lakukan."
Wajah Lisa tampak begitu pucat dan takut, dia merasa jika tidak melakukan apapun yang membuat Shane marah kepada dirinya.
"Jangan sok suci, bukankan kamu yang membuat istriku luka?" tanya lembut Shane pada Lisa, namun bagi gadis di depan Shane itu adalah suara yang mengerikan.
"A-apa yang kamu bicarakan, aku tidak mengganggu istrimu," tolak Lisa yang masih belum sadar arah dari pembicaraan Shane padanya.
"Ingat gadis berhijab yang kamu lukai di gudang tua, sudah ingat."
"Kamu pasti ingat dengan sebuah nama Flora bukan? Dia adalah istri sahku," tegas Shane dengan intonasi yang menekan kata istri.
"Tidak mungkin, dia hanya orang yang......"
Plak
Sebuah tamparan membuat Lisa meringis sakit, bukan Shane yang melakukan tindakan tersebut, namun orang kepercayaan Shane yang sedari tadi menjaga Lisa di dalam ruangan.
"Sssh."
"Cuma luka kecil saja sudah mengeluh, lantas bagaimana kamu membuat istriku hingga seperti di keroyok massa," bentak Shane yang hilang kesabaran.
__ADS_1
Pemuda itu berdiri dan memberi kode pada orang kepercayaannya, namun sebelum dia pergi, pemuda itu berbisik di telinga Lisa, "Akulah malaikat mautmu."