
Setelah pria paruh baya dan juga dokter cantik yang sempat memeriksa keadaan Flora tadi keluar kamar, dengan Pak Andrieijaya yang bilang pada sang putra untuk mengantarkan dokter Amanda sampai depan pintu, Shane mengunci rapat kamarnya menenangkan diri.
Sementara di dalam kamar, Shane masih menemani istrinya dengan berpikir. Dirinya mengambil ponsel dan menghubungi seseorang.
["Halo, aku punya tugas penting untuk mu hari ini,"] ucap pemuda tampan itu setelah komunikasinya mulai terhubung.
["Tidak ada kata tapi, cari orang yang sudah mengusik ketenangan ku kali ini."]
Shane menutup ponsel miliknya dan meletakkan diatas nakas, dirinya berniat untuk mandi lebih dulu agar pikirannya lebih jernih.
Di dalam kamar mandi dirinya masih berpikir, sesuatu yang jarang terjadi pada hidupnya, "Kenapa orang itu menyerang Flora, bahkan dia tahu di mana istri ku ditempatkan," monolog Shane yang menggosok badannya dengan sabun mandi sambil berendam dalam bathtub.
"Setelah ini aku akan mencari tahu sendiri apa yang sudah terjadi."
Shane yang sudah selesai mandi, dirinya hanya melilitkan handuk di bagian bawah, lalu keluar dengan percaya diri. Tak disangka istri cantiknya sudah siuman, dia duduk dengan tegap dan menatap tajam sang suami.
"Alhamdulillah, Sayang kamu sudah siuman, aku ganti baju dulu ya, setelah itu ganti kamu yang mandi," ujar Shane yang berjalan melalui Flora menuju lemari pakaiannya.
"Mas, tunggu dulu," sahut Flora dengan nada lirih.
Shane menghentikan aktivitasnya, menatap wajah istri cantiknya dengan bahagia.
"Mas, bisa duduk di sini sebentar saja," mohon Flora pada pemuda yang mendadak mematung.
"Mas!" seru Flora lagi, kini nadanya tampak begitu menggoda.
"Aku mau ganti baju dulu, Sayang biar gak masuk angin," jawab Sang suami yang ingin memakai pakaian yang ada ditangannya kini.
"Jangan dulu memakai baju, Mas, sini," pinta Flora lagi, kini wajahnya tampak ingin menangis.
Mau tidak mau Shane mengikuti ucapan istri yang sangat dia sayangi tersebut.
Pemuda tampan itu duduk di tepi ranjang dan melihat Flora yang tidak jadi menangis.
__ADS_1
"Ada apa, Sayang, adakah yang sakit di bagian tubuh mu?" tanya Shane dengan begitu ramah.
Flora menggeleng pelan, lantas wanita cantik itu menempelkan kepalanya di dada bidang suaminya yang menguar aroma vanila lavender.
Mendadak kaku, Shane bingung dengan tingkah absurd istrinya yang berbeda jauh saat sebelum hamil.
"Mas, apakah aku masih terlihat cantik kalau aku nanti sudah berperut buncit."
Pertanyaan mendadak dan bagai jebakan betmen itu membuat Shane mendadak tidak bisa berpikir jernih, bahkan si Jenius yang kata orang memiliki banyak akal itu tidak bisa menjawab ucapan dari pasangannya.
"Mas kenapa hanya diam saja, aku bertanya lho, butuh jawaban," oceh Flora sambil memainkan jari telunjuknya pada dada sang suami.
"Sayang, jangan mancing deh, nanti kamu akan menyesal loh kalau raja singanya mulai bangun," peringat Shane pada Flora.
"Bangun ya tinggal boboin lagi dong, Mas 'kan aku tidak lagi main sama singa," jawab polos Flora pada suaminya.
Karena Shane sudah tidak lagi bisa mengontrol keinginannya, dirinya segera mambaringkan sang istri dan memainkan bibir merah milik wanitanya dengan bibirnya.
Dengan lembut Shane bermain lama di sana, lalu memberi jeda dengan pandangan cinta pada pasangannya.
"Tapi, Mas juga mau 'kan, buktinya malah Mas yang duluan main," goda wanita cantik yang tersenyum penuh kemenangan tersebut.
"Bagiku untukmu itu adalah prioritas, Sayang apapun yang kamu mau akan aku berikan, selama itu sesuai dengan kemampuan ku."
Mereka mulai melaksanakan kewajiban suami dan istri di dalam kamar.
***
"Mas sebenarnya ada apa sih, kenapa keliatannya kamu sibuk terus, apa aku salah?" tanya Flora ketika dirinya sudah bersih-bersih.
"Tidak ada yang salah dari kamu, Sayang. Aku hanya khawatir tentang kesehatan kamu dan juga calon anak kita," terang Shane saat dirinya duduk disamping Flora mengusap lembut surai panjang istrinya.
"Baiklah, aku percaya sama kamu Mas. Aku berdoa semoga apa yang sedang membuat kamu seperti ini segera selesai, jika masalahnya terlalu rumit dan juga sulit, yang aku minta Mas tetap menjalankan kewajiban sebagai seorang muslim dan berserah dan minta pertolongan pada Sang Pencipta," ujar Flora panjang lebar kepada suaminya.
__ADS_1
"Iya, Sayang. Aku selalu ingat dengan kewajiban kita, sekarang waktunya kita keluar dan makan malam dulu, jangan lupa pakai hijab mu, Sayang."
Wanita cantik yang memakai gamis warna pastel itu mengangguk patuh, dirinya segera mengenakan hijab segi empat dan merapikannya.
Selesai dengan hijab yang sudah tersemat rapi menutupi surai indahnya, dirinya yang digandeng oleh Shane turut menuruni anak tangga untuk makan malam bersama.
"Malam anakku yang cantik," sapa pria paruh baya yang selalu sayang pada menantunya tersebut.
"Malam juga, Yah," sahut Flora yang kini duduk disamping kursi Shane.
"Bagaimana kabarmu hari ini, apakah masih sakit?" tanya mertua Flora dengan ramah.
"Alhamdulillah, Yah, aku sehat kok, Mas Shane juga selalu membantu semua yang aku perlukan," terang istri Shane dengan wajah bahagia.
"Alhamdulillah jika begitu. Kalau anakku nakal bilang saja sama Ayah, Nak."
Flora mengulas senyum indahnya lalu berkata, "Terima kasih banyak, Yah."
"Ehm ini mau makan apa curhat," pungkas Shane yang sedari tadi diam menyimak pembicaraan antara kedua orang yang paling dia sayang tersebut.
"Maaf, Nak jangan cemburu, iya kita makan sekarang.'
Mereka mulai menikmati makan malam setelah berdoa terlebih dahulu, ketiganya tampak hening menikmati sajian yang sudah di masak oleh ART yang setia pada keluarga Pak Andri.
Hingga setelah mereka selesai makan, Shane meminta Kepala Asisten Rumah Tangga keluarganya mengupaskan buah untuk Flora, tidak lupa dengan air putih untuk istri cantiknya itu minum obat yang tadi diberikan oleh Dokter Amanda.
"Sayang, jangan lupa untuk minum vitamin dan juga buah segar setiap hari dan satu lagi....."
Shane segera berdiri dan menuju dapur, entah apa yang sedang dia kerjakan di sana, hingga detik berikutnya pemuda itu membawa nampan berisi segelas susu coklat dengan wajah bahagia.
"Lupa tadi, Dokter Amanda meminta aku membuatkan mu segelas susu setiap hari," terang Shane dengan meletakkan gelas di depan Flora.
"Terima kasih, Mas sudah berjuang seperti ini demi aku."
__ADS_1
Flora tampak bahagia melihat dua orang yang memperlakukan dirinya dengan sangat baik, mereka membuat wanita cantik itu merasa sempurna.
"Sudah tugas Shane untuk melayani istrinya seumur hidup, karena kewajiban dirinya tidak hanya mencari nafkah tetapi juga membahagiakan istrinya hingga ajal menjemput dirinya nanti."