Kekasihku Bad Boy Milyuner

Kekasihku Bad Boy Milyuner
Main Yuk


__ADS_3

Selesai dengan makan malam dan minum obat sesuai dengan permintaan Shane, wanita cantik yang sedang bahagia tersebut memilih melihat televisi di dalam kamar dengan duduk ditemani oleh sang Suami.


"Bagaimana keadaan mu, Sayang adakah keluhan?" tanya Shane yang kini mengusap lembut pucuk kepala Flora yang masih tertutup hijab.


"Tidak ada keluhan yang berarti, Mas aku malah terlihat gembul sekarang, menurut Mas bagaimana?" tanya Flora dengan begitu manja.


"Meskipun gembul aku tetap sayang dan cinta sama kamu, Sayang, tidak ada yang bisa membuatku menghilang dari mu."


Ucapan manis Shane membuat Flora tersipu malu, dirinya begitu terpesona setiap suaminya memuji dirinya dengan tulus.


"Terima kasih, Mas."


"Asal kamu bahagia tidak ada hal yang sulit untuk aku ciptakan demi melihat senyum manis mu."


Berasa panas pipi Flora dirinya begitu bucin kepada suaminya, namun kewajiban tetap tidak dia lupakan.


"Sayang, main yuk!" goda Shane sambil membuka kancing bajunya sendiri."


"Hah, apa?"


"Kita main tebakan, Sayang," ucap Shane sambil tertawa.


"Tapi kenapa buka kancing baju, Mas?"


"Gerah, Sayang."


"Oh begitu, aku kira--"


Senyum simpul terlihat manis dari rona wajah ibu hamil tersebut.


"Aku ngantuk, Mas pengen tidur," goda Flora yang pura-pura menguap.


"Yah sebentar saja lah, Sayang."


"Besok, Mas 'kan harus kerja tidak boleh begadang, karena begadang itu gak baik buat kesehatan."

__ADS_1


Menghela napas kesal tapi mau bagaimana lagi, Shane hanya bisa mengikuti ucapan yang keluar dari bibir istrinya tersebut, mood wanita cantik yang dia cintai itu masih belum stabil, pemuda tampan yang kini merupakan pemilik Phoenix Gold Corporation itu hanya bisa mengikuti apa yang diucapkan sang istri.


"Ya sudah, Sayang kalau beg__."


Belum selesai pemuda itu berbicara, dengkuran halus dari Flora membuat hatinya kembali melembut.


"Selamat malam, Sayang."


Tidak lupa kecupan lembut mendarat di dahi Flora dengan penuh kehangatan.


Bukan malah tidur, Shane malah mencari kesibukan yang membuat dirinya semakin begadang.


Dirinya mulai bicara dengan sekretaris sekaligus asisten pribadinya di dalam via telepon.


["Apa kamu sudah mencari apa yang aku inginkan?"] tanya Shane dengan nada santai dengan pemuda yang menjawab telepon dari dirinya.


"Maaf, Bos aku belum menemukan bukti yang mencurigakan, bagian CCTV di rumah sakit mendadak juga rusak sebelum kejadian tersebut," jawab Pandu dengan nada ramah.


["Kelihatannya ini sudah direncanakan begitu lama, namun aku dan kamu tidak menyadari sesuatu,"] terang Shane yang ada di balkon kamarnya, melihat taburan bintang yang menghiasi kegelapan malam.


Pandu tertawa saat berbicara dengan Shane lewat komunikasi jarak jauh.


["Jangan gegabah dan selalu jaga dirimu, kita tidak tahu 'kan jika sewaktu-waktu akan ada hal yang mengejutkan kita secara tiba-tiba, aku minta jaga diri dan jaga kesehatan."]


Panggilan di tutup, Shane beranjak ikut tidur memeluk tubuh istrinya dengan kehangatan.


"Jaga kesehatan ya, Sayang, karena saat kamu sakit aku yang bingung tanpa ada yang memberikan ceramah ini itu saat diriku lepas kendali," tutur Shane dan mencoba untuk memejamkan matanya.


Seperti biasa sebelum adzan subuh berkumandang Flora sudah selesai mandi dan mengenakan mukenah, tak lupa membangunkan sang Suami untuk sholat sunnah bersama.


"Mas ayo bangun, katanya mau sholat Sunnah dua rakaat dan meminta petunjuk sama Sang Pencipta," bisik lembut Flora kepada suaminya.


Lenguhan kecil Shane mulai terdengar berat meskipun begitu pemuda itu segera mengambil air wudhu sesaat setelah dirinya duduk dari tidurnya, sementara Flora sudah menggelar sajadah untuk dirinya dan juga Shane-Sang suami tercinta.


Pemuda yang kini sudah memakai baju koko dan sarung tak lupa dengan peci tersebut menjadi imam bagi istri cantiknya.

__ADS_1


Mereka mengerjakan sholat sunnah Fajar dengan khusuk, setelah salam, Flora menyempatkan doa di dalam hatinya dengan penuh ke khusuk-an, begitu juga dengan Shane yang meminta untuk selalu menjadi imam dalam keluarganya dengan baik tentunya sesuai syariat agama yang mereka yakini.


Shane dan Flora mulai melanjutkan membaca ayat suci Al-Quran secara bergantian. Membenarkan bunyi dan tajwid jika pasangannya salah. Alunan merdu mereka membuat rumah besar tersebut menjadi tenang dan juga nyaman.


Pak Andri yang tidak sengaja terbangun karena ingin meminum segelas air putih tampak berkaca-kaca ada rasa syukur dan juga bahagia di balik air mukanya yang mulai menua.


'Sayang lihatlah anak dan menantu mu itu, mereka membuat rumah ini semakin sejuk dengan lantunan ayat suci yang mereka bacakan, anak kita sungguh sangat berubah, perubahan yang baik dan semoga kamu di sana tenang dan bahagia," menolong pria paruh baya yang kini menyeka air matanya.


Masih menikmati suara indah yang keluar dari bibir putra semata wayangnya tersebut. Hingga doa penutup membuat dirinya segera meninggalkan pintu dan menuju dapur agar tidak dikira menguping.


Flora dan Shane menyempatkan diri untuk cerita satu sama lain, komunikasi antara suami dan istri sangatlah penting, agar tidak membuat pasangan merasa sendiri dan kesulitan.


"Mas!"


Flora memulai berbicara setelah selesai memindahkan Al-Quran pada rak buku minimalis di atas nakas.


"Iya, Sayang ada yang ingin kaku bicarakan padaku?" tanya ramah Shane sambil tersenyum pada lawan bicaranya.


"Mas apakah aku ini berubah ya, jadi manja, ngeselin, dan suka memerintah?"


Pertanyaan tersebut membuat Shane menelan salivanya dengan susah payah, memang benar apa yang dikatakan Flora tidak sepenuhnya salah tetapi jawaban yang terlontar dari bibir Shane sedikit saja salah akan merubah mood dan sikap istrinya tersebut.


"Mas!" seru wanita cantik yang masih memakai mukena itu pada suaminya.


"Mau jawaban jujur apa jawaban manis saja?" tanya sosok suami yang begitu sempurna di depan wajah Flora.


"Jawab jujur, Mas."


Terlihat Flora mulai mencebik, dia kesal dengan jawaban suaminya.


"Masalahnya begini, Sayang, kata dokter Harun mood seorang wanita hamil itu labil, tidak selalu stabil, ada kalanya kadang manja, kadang marah tidak jelas, kadang menangis, kadang ngomel dan lain sebagainya, tetapi hal itu wajar karena perubahan hormon," terang Shane yang mencari kata aman.


"Oh begitu ya, Mas, tetapi Mas terganggu tidak sama mood aku yang tidak stabil seperti itu, aku takut jika Mas bosan padaku karena aku aneh."


Wanita cantik itu menundukkan wajahnya takut untuk melihat lawan bicaranya yang kini tersenyum lembut kearah Flora.

__ADS_1


Shane memegang dagu istrinya, seakan meminta dirinya untuk melihat wajahnya yang begitu tampan. Setelah kedua wajah itu bertemu, Shane berkata, "Meskipun sifat kamu berubah jadi singa pun aku tetap mencintai mu apa adanya, karena kamu yang mengajarkan aku tentang arti hidup yang sesungguhnya, Sayang."


__ADS_2