
Acara selesai dengan lancar, Flora dan juga Shane kini tertidur dengan lelap selesai mandi dan juga sholat wajib.
Tidak ada lagi pikiran negatif yang membuat pemuda tampan itu merasa cemburu atau iri hati, pernikahan keduanya sudah tersebar ke semua kota bahkan mancanegara.
Esok harinya keduanya sudah bersiap untuk liburan setelah pesta pernikahan yang lumayan mewah, mereka menyebut dengan Honeymoon, di dalam pesawat pribadi Flora menggenggam erat tangan Shane.
"Kamu kenapa, Sayang? Takut?" tanya Shane pada istrinya tersebut.
Wanita cantik itu mengangguk tanda dia benar-benar takut.
"Tidak apa, Sayang, ini hanya sebentar saja kok, tetap tenang dan selalu berdoa agar kita selamat sampai tujuan," ujar Shane dengan nada lembut kepada istrinya itu.
"Iya, Mas aku sedari tadi sudah membaca doa dan sholawatan, karena ini baru pertama kalinya aku naik. pesawat," terang Flora pada suaminya.
"Tidak apa, kalau kamu masih takut coba tidur saja, sini."
Shane menepuk bahunya, dia ingin kekasih halalnya itu nyaman berasa di sisinya saat itu.
Saat pesawat lepas landas Flora menggenggam erat tangan suaminya, sedangkan Shane dengan cekatan menangkup kepala istrinya untuk bersandar di bahunya.
"Jangan pernah takut, ada aku yang selalu melindungi mu."
"Terima kasih, Mas."
Kini mereka sudah berada di atas awan, Flora melihat dari jendela pemandangan indah yang terhampar di sana.
"Seperti lapangan kapas ya, Mas, tapi itu gumpalan air," tutur Flora takjub.
"Ciptaan Yang Maha Esa selalu indah dan juga baik, Sayang, bukankah kamu yang mengajarkan aku untuk tetap bersyukur atas semua karunia-Nya," sahut Shane yang melihat wajah istrinya semakin cantik.
"Iya, Mas kamu benar."
"Apa kamu masih takut, Sayang?" tanya pemuda itu pada istrinya.
Wanita cantik berhijab itu menggeleng pelan, "Aku menikmati pemandangan indah ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, Mas, jadi aku lupa sama takut."
"Sang Pencipta itu baik ya, buktinya aku mempunyai pendamping yang indah paras serta suci hati dan tingkahnya," puji Shane pada wanita cantik disamping dirinya.
__ADS_1
"Semua hanya titipan, Mas, bersyukur itu memang perlu tetapi kita tidak boleh terlalu bucin sama ciptaan Tuhan, kita boleh mencintai pasangan tapi tetap Sang Maha Esa lah yang utama," terang Flora memperingatkan suaminya.
"Iya, Sayang aku paham."
Setelah lelah menikmati pemandangan dari jendela, akhirnya Flora tertidur juga, untung pesawat yang mereka naiki merupakan milik Shane pribadi, jadi Flora bisa leluasa tidur tanpa ada gangguan.
Sedangkan Shane masih memantau perkembangan pekerjaan lewat layar mini di tangannya.
[Tuan muda, orang yang kemarin kecelakaan itu terus menyebut nama Nona muda.]
Meski kesal karena istrinya masih dipuja oleh banyak orang tapi dia tetap menahan amarahnya, semuanya bukan kesalahan dari istrinya, tetapi para pemuja Flora lah yang terlalu berangan terlalu tinggi untuk mendapatkan cinta dari istrinya.
"Berikan saja pengobatan yang baik sampai dia sembuh, kalau sudah sembuh kasih kartu merah untuk pekerjaan yang dia banggakan dan sedikit terapi kejut untuk jantungnya agar tidak menyukai istri orang lain dan secara sengaja ingin merebutnya."
[Baik, Tuan.]
Shane melanjutkan pekerjaannya, melihat laporan yang asistennya kirim lewat sebuah email, satu per satu dibaca dengan sangat teliti, lalu tersenyum setelah melihat wanita cantik disampingnya tidak terganggu karena suara pesawat.
"Kamu pasti lelah, Sayang."
Pemuda itu mengalihkan pandangannya pada layar mini lagi, dia mengotak atik pesan sebelum dirinya ikutan tertidur di dalam pesawat.
"Kita sudah sampai mana?" tanya Shane pada pilot yang bertugas.
"Setengah jam lagi kita sampai di pulau merah muda, Tuan," sahut pilot yang berkomunikasi dengan Shane.
"Baiklah jika begitu."
Shane masih fokus dengan layar mininya, lalu atensinya mulai melihat sesuatu yang membakar hati hingga rasanya panas. Saat itu pemuda tampan yang sedang menjelajahi sosial media membuka sebuah pesan, tampak dari lawan bicaranya diujung sana merupakan teman yang cukup dekat.
[Wah, menikah gak undang sahabatmu ini, takut ke tikung ya,] tuding seorang pemuda yang mempunyai paras tampan khas bule Eropa
"Sejak kapan dia pulang dari London," gerutu Shane seorang diri sambil kesal.
"Bukan urusan kamu juga, 'kan lagian buat apa aku harus mengundang makhluk yang suka mengambil kekasih temannya sendiri," balas Shane yang kesal dengan pemuda yang mengirimkan pesan padanya.
[Tapi kalau dilihat-lihat istrimu lumayan juga, dia cantik, pasti kepincut dengan pesona ku yang sangat memesona ini,] terang lawan bicara Shane yang dulu pernah menjadi sahabat tersebut.
__ADS_1
"Kamu terlalu percaya diri Nick, dia berbeda dengan wanita yang sudah kau tinggalkan setelah kau renggut kesuciannya."
[Aku tak. percaya, aku akan membuktikan sendiri omong kosong mu itu, aku pikir kamu takut jika istrimu memilihku.]
Shane menutup media sosial miliknya, dia masih kesal dengan temannya tersebut, lalu atensi pemuda itu beralih ketika pendengarannya menangkap suara wanita yang sangat dia cintai.
"Mas, apa sejak tadi kamu tidak tidur?" tanya Flora dengan nada lembut.
"Aku tidur sebentar, Sayang lalu ingat ada sesuatu yang harus aku kerjakan, jadi kebangun," jelas Shane yang sebenarnya jujur tetapi ada yang dia rahasiakan.
"Mas, seberapa lama lagi kita akan sampai tujuan?" tanya wanita cantik itu dengan begitu lembut pada suaminya.
"Kita hampir tiba, Sayang, lima menit lagi sudah sampai pulau merah muda kok."
"Aku sudah tidak sabar ingin segera turun dan main di sana, Mas, pasti pemandangannya indah 'kan?" tanya gadis itu lagi yang tampak senang.
"Sangat langka dan jarang pemandangan indah itu ditemui di kota, rumah yang berjejer rapi di atas air dengan membentuk hati, namun pasir pantainya berwarna merah muda, ditengah perumahan ada taman kecil yang sengaja di bangun dengan tampilan transparan, tempatnya bertingkat dan yang paling atas ada sebuah restoran mewah yang langsung mengarah ke pemandangan laut biru dan hamparan pasir merah muda," terang Shane pada istrinya.
"Apa kamu sangat senang, Sayang?"
Flora mengangguk lalu tersenyum, "Apapun itu tempatnya yang penting selalu bersamamu, liburan berdua dengan mu, Mas."
Kata manis itu membuat mood Shane kembali lagi, dia lupa dengan kekesalannya pada teman masa lalunya.
Lalu tak berapa lama, pesawat mulai turun, tepat di lapangan besar bagai lautan hijau.
Flora yang terpesona akan keindahan pulau merah muda kemudian berucap, "MasyaAllah, indah banget, Mas, ini di Indonesia bukan?" tanya takjub Flora pada suaminya.
"Iya, Sayang, ini di Indonesia, pantai pasir merah muda memang terlihat begitu indah dan memanjakan mata."
"Terima kasih sudah membawaku ke sini, Mas."
"Iya, Sayang semoga kamu suka liburan kecil ini ya, nikmatilah bulan madu kita seminggu ini."
Flora mengangguk dan tersenyum dengan indahnya.
"Mas ayo kita main air," ajak wanita berhijab dengan gamis panjang berwarna coklat susu tersebut sambil menggenggam erat tangan suaminya.
__ADS_1
Pemuda tampan itu mengikuti di mana istrinya membawa langkahnya, hingga saat mereka sampai di tepi pantai, netra Shane mulai memanas.