
Mobil mulai meninggalkan kampus biru, kini Shane ingin menebus kesalahannya dengan cara membuat hati istrinya senang.
"Sayang apa kamu lapar?" tanya Shane mencoba membrikan tawaran pada Flora.
"Tidak."
Singkat dan jelas, membuat Shane dilanda frustasi, dia kapok sudah membuat istrinya menjadi seperti itu.
"Sayang maukah kita mampir melihat pemadangan di taman kota, suasanaya begitu indah dan juga menenangkan," tawar pemuda tampan itu lagi.
"Tidak."
Lagi-lagi ucapan yang sama keluar dari bibir istrinya, Shane memutar otak dan mulai membuat rencana agar istrinya memaafkan tingkahnya tadi.
Sebuah ide jahil terlintas di pikirannya yang mendadak kemabli bar-bar.
"Sayang nanti mampir sebentar di apartemenku ya, ada berkas penting yang harus aku bawa untuk mengajukan kerjasama sama ayah."
"Hmmm."
Deheman itu membuat dirinya semakin gemas pada istrinya.
Flora dan Shane mampir ke sebiah apartemen yang luamyan luas dengan nuansa putih, awal istri Shane itu masuk, dia tampak terpukau engan semua yang ada di sana, namun dia urungkan karena masih ada rasa kesal pada suaminya.
"Kamu duduk dulu saja, aku akan mengambil kamu minum sekalian mencari berkas yang aku taruh di mana."
Shane tertawa tanpa dosa sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Sebenarnya bagi Flora hal itu sangat lucu, namun dia urungkan untuk senyum karena rasa kesalnya.
Shane menghilang ke dalam ruangan dirinya kini mulai mencari minuman dingin untuk Flora, namun saat dia kembali menemui istrinya, gadis cantik itu memegangi perutnya yang begitu sakit, sambil menangis dan sekuat tenaga Flora menahan sakit.
Bruk
Dua kaleng minuman bersoda di lempar Shane begitu saja, dia segera menghampiri istrinya yang begitu kesakitan di sana.
"Kamu kenapa, Sayang," tanya Shane yang bingung dengan apa yang terjadi pada istrinya secara tiba-tiba.
"Sssa-kit," desis Flora dengan nada terbata.
"Apanya yang sakit, aku panggilkan dokter ya?" tawar Shane saat melihat istrinya begitu keakitan, dia begitu khawatir dengan keadaan istrinya, takut sesuatu terjadi pada bidadari yang merubah pandangannya.
"Tidak usah, aku hanya lagi datang bulan, jadi bagini," terang Flora dan membuat Shane mendadak tanpa pikiran.
"Padahal aku ingin melakukannya agar kamu mau memaafkanku, eh ada tamu dadakan."
Antara kesal dan juga menahan tawa, akhirnya pertahanan Flora runtuh juga.
"Mas mau apa?" goda istri cantiknya itu pada Shane.
"Ingin meluluhkan mu sekali lagi," sahut Shane malu.
__ADS_1
Flora tertawa melihat raut wajah suaminya yang ingin marah namun tidak bisa.
"Maaf, Mas, kamu puasa hari ini," sahut Flora dengan alis yang dinaik turunkan.
"Seminggu," imbuh gadis itu dengan tatapan menggoda.
"Awas kamu, ya."
"Mas, aku boleh minta tolong gak sama kamu," pinta Flora pada suaminya.
"Bisakah kamu buatkan aku air jahe, agar perutku lebih baik," mohon Flora dengan wajah imutnya
"Iya aku buatkan, kamu tunggu di sini dulu ya."
Pemuda itu melangkahkan kakinya ke dapur, membuat sesuatu yang istrinya inginkan.
Belum selesai, Flora memanggilnya dari kamar mandi.
"Mas bisa kah aku merepotkan mu lagi?" tanya gadis cantik itu pelan.
"Minta tolong apalagi?"
"Belikan aku roti yang tidak bisa basi."
"Henggg apa itu."
"Itu."
Flora mengetik sesuatu dan memberikannya pada Shane.
"Kalau aku yang pergi lalu apa aku harus memperlihatkan noda merah yang tercetak di baju belakang bagian bawah," jelas istri pemuda itu tegas.
"Ya sudah kalau begitu, aku saja yang pergi."
Akhirnya Shane memberanikan diri. pergi ke minimarket dan meminta karyawan di sana mencarikan dua buah benda putih yang gambarnya dikirim oleh Flora ke ponselnya.
Wanita berhijab di kasir itu tersenyum lucu, tapi salut mau membelikan benda itu untuk wanitanya.
"Terima kasih."
Setelah mendapatkan apa yang dia inginkan, pemuda itu segera pulang ke apartemennya sambil membawa bungkusan benda yang sudah di bungkus oleh mbak-mbak minimarket.
"Sayang, aku pulang," seru Shane dengan senyum mengembang.
"Aku masih di kamar mandi, Mas, bisakah bawa benda itu ke sini?" ujar istrinya dengan nada lemah.
"Iya sayang sebentar."
Shane segera memberikan kantong plastik itu pada istrinya, dirinya sibuk menyiapkan air hangat untuk istri cantiknya tersebut.
Ceklek
__ADS_1
Pintu kamar mandi terbuka, Flora tampak pucat saat kedatangan tamu hari pertama.
Shane yang melihat wajah Flora tidak seceria saat pulang, membuat rasa bersalahnya membuncah.
'Seharusnya tadi aku bisa mengontrol diri agar dia nyaman berada di dekatku, tapi karena sifatku yang terlalu tergesa membuatnya seperti ini,' batin Shane yang menyesal karena membuat istrinya tampak tidak ceria.
"Sayang, ada yang bisa aku bantu?" tawar Shane pada istrinya kini. Dia sudah membawa pesanan Flora yaitu jahe hangat dengan gula merah.
Flora menggeleng cepat, "Rasanya aku malas untuk kemana-kemana, Mas," ujar Flora dengan nada pelan.
"Apa karena tadi aku menghajar ketua BEM yang menggoda mu?" selidik Shane membuat wajah Flora kembali diliputi rasa kesal.
"Jangan bilang jika Mas menuduhku mempunyai hubungan dengan ketua BEM yang sok cakepan itu?" sahut istrinya dengan nada marah.
"Kenapa kamu yang marah, seharusnya aku yang marah kepadamu, sudah membuat pemuda lain yang buka mahram kamu jadi seperti itu," bentak kesal Shane yang membuat Flora semakin marah.
"Terserah kamu, Mas, aku mau pulang saja, malas berdebat sama orang yang lebih mementingkan egonya sendiri."
Flora beranjak dari tempat duduk, dia menyambar tas dan keluar dengan perasaan marah.
"Lakukan saja apa yang ingin kamu lakukan, aku tidak peduli."
Keduanya masih meninggikan pendapat pribadi, hingga dering ponsel Shane mulai berbunyi nyaring.
["Nak, kamu jadi tidak ke kantor bersama Flora."]
Shane yang ceroboh segera menyusul istrinya, dia mematikan panggilan sepihak tanpa salam atau minta maaf.
Pemuda itu mengejar kepergian istrinya, namun yang dikejar sudah menghilang.
Berulang kali dia menghubungi Flora, namun istrinya tidak sekalipun mengangkat panggilannya. Rasa gelisah mulai menghantui pemuda itu. Dia mengumpat di dalam hati karena tidak bisa menjadi suami yang dewasa.
Dengan frustasi dia mengelilingi jalanan untuk menemukan Flora yang bahkan tidak tahu jalan pulang.
"Sayang, kamu ada di mana?" monolog pemuda itu seorang diri.
"Maafkan aku, aku janji tidak akan lagi membuat mu bersedih dan tidak lagi egois. Tolong kembali lah."
Shane yang tidak menemukan jejak istrinya, mulai menghubungi ayahnya.
Namun sebelum pemuda itu berbicara, pria paruh baya yang ada diujung telepon mulai memarahi anak satu-satunya.
["Bagaimana bisa kamu mengabaikan istrimu dan membiarkan dia pergi seorang diri."]
Shane mematung, bagaimana bisa ayahnya tahu tentang hal itu.
"Bagaiamana bisa Ayah ta...."
Belum sempat Shane bertanya, pria paruh baya diujung telepon sudah memberikan mandat.
["Lekas datang ke kantor tanpa tapi."]
__ADS_1
Shane sudah pasrah jika dirinya akan kena omel dari ayahnya nanti. Pemuda itu melajukan kendaraan roda empat nya menuju gedung tinggi yang menjadi pusat dari perusahaan yang hebat.
Lankahnya pelan seakan tidak ada lagi tujuan hidup, hingga sampai di dalam ruangan itu dirinya kaget dengan tatapan tajam sang ayah yang bagai pisau yang siap membunuhnya.