
Setelah mereka berdua selesai berbincang serius, waktunya dokter Mina yang masih merupakan kerabat dekat keluarga Andriwijaya pamit, dia ingin segera istirahat karena malam semakin larut dan besok masih ada jadwal kerja. Shane menutup tubuh Flora dengan selimut tebal, sembari menunggu istrinya siuman, pemuda itu memilih untuk membersihkan diri dari keringat dan juga rasa panas yang sedari tadi dia rasakan.
"Sudah siuman, Sayang?" ucap Shane setelah selesai mandi, lengkap dengan pakaian santai yang dia kenakan.
"Apa yang terjadi padaku, Mas, tadi aku sedang duduk di ruang tunggu, kok sekarang ada di kamar?" tanya Flora dengan nada bingung.
"Tadi, aku lihat kamu tiduran di sofa, karena tidak tega buat bangunin kamu, ya akhirnya aku gendong kamu sampai sini, Sayang," dusta Shane yang tidak ingin membuat istrinya takut akan bahaya yang akan mengancamnya.
"Begitu ya, Mas, maaf jika aku merepotkan tadi, pasti lelah gendong aku sampai kamar," ujar Flora yang merasa tidak enak hati.
"Harusnya, aku yang minta maaf sama kamu, Sayang, pasti lelah menungguku sendirian di ruang tunggu, hingga ketiduran," sahut Shane yang kini ikut duduk disamping ranjang mereka.
"Tidak apa, Mas. Acaranya sudah selesai apa masih ada lagi nanti, Mas?" tanya Flora dengan ingin tahu.
"Sebenarnya masih ada, Sayang untuk malam nanti, hanya menjamu tamu saja dari kalangan pebisnis, makanya kamu harus istirahat dulu biar tidak lelah nanti, tapi......."
Shane melirik nakal istrinya, "Kamu gak gerah dan gak mau mandi, Sayang," sambung Shane sambil tertawa.
"Ah iya, aku lupa, padahal badanku sudah lengket ini."
Dengan terburu Flora menyibak selimut dengan kasar, turun dari ranjang dan masuk ke kamar mandi.
Dari luar Shane tersenyum melihat tingkah lucu istrinya tersebut.
"Sayang perlukah aku membantu untuk melepas gaunmu itu, kelihatan sangat sulit jika melepas sendiri."
Antara tawaran dan godaan dari pemuda tampan itu, namun Flora membuka sedikit pintunya dan menyembulkan kepala yang kini masih memakai hijab dengan aksesoris lengkap di kepalanya.
"Mas beneran mau bantu, aku, aku gak bisa melepas baju ini sendirian," mohon Flora pada akhirnya.
"Tentu saja akan aku bantu, Sayang."
Flora keluar dari kamar mandi dan berdiri tepat di depan Shane.
"Mas tolong bukain resleting gaun ini ya," pinta wanita cantik itu memohon pada suaminya.
Shane tidak menolak, dia membantu Flora membuka gaun mewah itu dengan sangat hati-hati, setelah dirasa sudah bisa dilepas, Flora meminta untuk menghentikan aktivitas pemuda itu.
__ADS_1
"Terima kasih, Mas, sudah membantu melepas gaun ini."
"Iya, sama-sama."
"Aku lanjut mandi dulu ya, Mas."
Shane mengangguk setuju, saat Flora sedang sibuk di kamar mandi, pemuda itu mengecek ponselnya, dirinya menghubungi seseorang lewat chat sosial media.
[Segera kasih tahu aku, apapun itu, jangan sampai terulang lagi hal yang seperti tadi terjadi pada istriku.]
Pesan terkirim, Shane menunggu seseorang mengirimkan informasi pada dirinya detik itu juga.
"Tuan muda, saya mendapatkan sebuah video yang mungkin bisa Anda jadikan barang bukti untuk mengantar sosok yang tadi ingin mencelakai Nona muda."
Tring
Sebuah pesan masuk lagi kali ini sebuah video yang membuat Shane benar-benar geram.
"Kamu sudah salah memilih lawan, baiklah jika itu yang ingin kamu mau, esok hari aku akan memberikan kejutan untuk mu," monolog Shane lirih bagai berbisik namun tidak ada lawan bicara yang ada di depannya.
Senyum menyeringai tampak dari wajahnya yang tampan, hampir semua kaum wanita memuja dan juga menginginkan Shane, pewaris tunggal keluarga Andriwijaya yang kekayaannya tak terhingga.
"Kamu cantik, Sayang."
Shane mendekat kepada Flora dan memeluknya dengan mesra.
"Mas kita nanti masih harus menemui tamu 'kan, tolong jangan minta hak dulu ya," mohon Flora pada suaminya.
"Maaf, Sayang."
Shane melerai pelukannya dan menundukkan pandangannya, merasa bersalah pada istrinya tersebut.
"Maaf, Mas bukannya aku menolak, tetapi aku tidak mau kita kelelahan nantinya, sebaiknya kita istirahat saja."
Shane mengikuti apa kata istrinya tersebut, dirinya memilih untuk diam. "Selamat tidur, Mas."
Flora sudah terlelap dalam tidurnya, sedangkan Shane masih belum bisa memejamkan netranya.
__ADS_1
"Pasti kamu lelah, semoga setelah bangun tidur nanti kondisimu lebih membaik."
Pemuda itu memilih duduk di sebelah meja rias. Dia mengotak atik ponsel dengan melihat video yang dikirimkan oleh seseorang.
"Berani mengusik ku, berarti siap untuk menerima konsekuensinya."
Shane mengirim pesan pada orang kepercayaannya. Setelah itu berbaring memeluk erat istrinya yang sudah masuk ke alam mimpi.
***
Di tempat lain, seorang pemuda masih tampak kesal, orang yang dia bayar tidak mendapatkan sosok pujaan hatinya.
Dia merupakan mantan kepala sekolah tempat Flora magang dulu sebelum menikah dengan Shane.
"Kalian semua tidak pernah becus bekerja," bentak pemuda yang memakai jas rapi saat datang ke resepsi pernikahan Flora.
"Maaf, Bos, aku tadi sudah membawa wanita itu tapi sayangnya keduluan dilihat sama suaminya, jadi aku lari dari pada babak belur dan masuk penjara," ujar jujur pria yang terluka di bagian dahinya sambil menatap wajah lawan bicaranya.
"Kamu 'kan membawa senjata tajam kenapa takut jika babak belur, dasar tidak berguna."
Kata umpatan itu menyinggung pemuda yang membayarnya, karena tidak suka jika pekerjaannya diragukan akhirnya pria yang luka itu menyerang orang yang sudah membayarnya.
"Apa yang kau lakukan," protes Andi pada orang bayarannya, dia dengan sigap hendak menghindar tetapi pemuda yang merupakan mantan kepala sekolah Flora itu malah terlambat.
Senjata raja menggores kulit bersihnya membuat pemuda itu meringis kesakitan. Pelaku yang menggores mantan kepala sekolah Flora kabur dengan temannya membawa dompet pemuda yang meringis sakit tersebut.
Hingga sebuah lampu mendekat kepadanya dan, "Aaaaaaaaa."
Pemuda itu menjerit histeris dan kini bersimbah darah ditepi jalan.
Dia tersenyum dan berkata, "Aku kalah dua kali."
Di tempat lain, seorang pemuda tampan dengan pakaian serba silver sedang bersanding dengan istrinya, duduk di pelaminan dengan tersenyum manis, setelah bangun tidur dia berhasil menggoda istrinya dan meminta haknya di dalam kamar mandi. Meskipun istrinya kesal tetapi Shane meyakinkan bahwa dia akan baik-baik saja saat berada di panggung pelaminan, tidak banyak yang akan datang karena mereka hanya datang saat resepsi saja.
Flora duduk dengan tenang sambil tersenyum manis. Saat itu ponsel Shane bergetar, menandakan sebuah pesan masuk dari orang yang dia pekerjakan.
Senyumnya lebar menandakan berita baik yang dia terima saat itu.
__ADS_1
'Karmamu dibayar kontan saat ini,' batin Shane setelah membaca pesan.