
“Haruskah aku melakukan apa yang disarankan oleh Rikha?”
Pertanyaan itu terus berputar-putar di kepala Shane begitu dia keluar dari mobilnya dan menatap lurus bangunan yang menjadi tempat tinggalnya dengan Flora.
Hal ini pun tak lepas dari saran yang dilontarkan oleh Rikha sebelumnya saat mereka berbicara panjang lebar di kantor Shane.
“Huh! Mungkin saja, saran yang dia berikan itu bisa aku gunakan.”
Setelah mengatakan itu, Shane akhirnya masuk ke dalam rumah. Dari awal dia di kantor sampai pulang ini, tak sekali pun dia mengecek ponselnya. Sebab, dia sendiri juga mengaktifkan mode hening pada ponselnya.
Semua panggilan penting telah dia serahkan dan alihkan sepenuhnya pada sang asisten ataupun sekretaris. Jadi dia tidak perlu khawatir kalau-kalau ada panggilan penting berkaitan dengan urusan pekerjaan yang terlewat.
Hanya saja, dengan keputusan yang dia buat itu, Shane justru telah mengabaikan notifikasi penting dari seseorang yang sangat penting melebihi apa pun. Yaitu Flora, sang istri.
Semua pesan yang dia sebelumnya kirimkan pada Shane, tidak satu pun dari mereka yang dibuka ataupun terbaca oleh Shane. Dan itu membuat Flora cemas bukan kepalang.
Sebab, sampai sekarang hampir tengah malam, Shane belum pulang juga.
“Ke mana Mas Shane? Kenapa sampai sekarang belum pulang juga? Apa ada sesuatu yang terjadi dengannya? Harusnya dia baik-baik saja, kan?”
Namun, bagaimana pun Flora mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri, dia tetap saja cemas dan berpikir sangat jauh. Dia mondar-mandir sambil terus mengecek ponselnya kalau-kalau sang suami mengirimkan pesan atau menelepon.
Sampai tiba-tiba, pintu kamar yang dibuka mengejutkannya!
Spontan saja Flora menolehkan kepalanya karena kaget sekaligus bingung. Namun, tatkala sosok Shane terlihat di ambang pintu, raut wajah Flora langsung berubah drastis. Senyum seketika terbit di wajahnya yang cantik.
“Mas? Mas akhirnya pulang!”
Mendengar nada semringah sang istri, ditambah senyuman hangat yang terulas di wajahnya yang begitu meneduhkan, hati Shane tentu saja goyah.
Bahkan tanpa sadar, sudut bibir Shane hendak terbit secara otomatis sebagai refleks saat dia melihat senyuman hangat Flora. Kebiasaan kecil yang sudah cukup lama terbentuk.
__ADS_1
Sayangnya, Shane langsung menghapus jejak bibit senyumannya itu setelah dia melihat sekaligus mengingat bagaimana cara Flora berinteraksi dengan Adrian ketika di kampus. Semua senyumannya lenyap total.
“Mas kenapa nggak ngabarin aku sama sekali? Aku pikir Mas kenapa-kenapa. Kerjaan di kantor semuanya beres 'kan?”
Shane menyipit sedikit, sebelum mengangguk.
“Semuanya aman. Aku emang nggak pegang HP tadi. Aku capek, mau tidur.”
Dengan saran yang dia dengar dari Rikha sebelumnya, Shane mulai mempertimbangkan cara untuk mengeksekusi saran tersebut pada Flora. Dan ini adalah waktu yang tepat untuk melakukannya.
***
Di tempat lain, tepatnya sebuah cafe bar, seorang wanita cantik dengan penampilan glamor nan mewah tengah duduk santai di depan bar dengan tangan memainkan gelas berisi whiskey yang baru saja dia pesan.
Sementara itu, tangannya yang lain kini tengah memegang ponsel yang dia tempelkan di telinga kirinya. Dari gelagatnya, sudah jelas kalau dia tengah menelepon seseorang.
Dan pada dasarnya, wanita itu adalah Rikha yang tengah menelepon seseorang misterius.
“Yahh, apa yang ingin kau katakan sekarang? Bukankah aku sudah memintamu untuk bertindak lebih jauh dari ini? Kapan kau akan melakukannya, Adrian?” tanya Rikha dengan nada rendah, tegas mengancam.
Pihak yang ditelpon ternyata adalah Adrian, sosok yang sama dengan yang menjadi teman baru Flora di kelas!
Adrian sendiri di seberang sana, menghela nafas pendek setelah mendengar desakan sekaligus sedikit ancaman yang ditekankan oleh Rikha kepadanya sebagai seorang 'bos'.
Di kepalanya, wajah cantik Flora yang disandingkan dengan senyuman hangat itu melintas dan melekat dengan sangat jelasnya. Sampai-sampai, hal ini membuat Adrian mengulas senyumnya tanpa sadar.
“Adrian!!!”
Mendengar tidak ada suara yang terdengar dari Adrian, mau tak mau Rikha harus memanggilnya dengan sangat keras. Dia tidak mau sampai Adrian itu justru merusak rencananya karena sekarang dia tengah berada di lingkup Shane dan Flora yang sedang memanas sepenuhnya.
Dia tentu tidak mau kalau sampai semuanya berantakan hanya karena Adrian!
__ADS_1
Akan tetapi, Adrian menanggapinya dengan sangat santai. Hingga membuat semua omelan yang siap keluar dari mulut Rikha.
“Ada apa? Tidak perlu berteriak, bukan? Aku tidak tuli sama sekali. Pendengaranku berfungsi sangat baik,” balasnya mengabaikan perkataan Rikha paling awal.
Bukan karena Adrian tidak mendengar atau bagaimana. Tapi hal itu dia lakukan supaya Rikha tidak mengusiknya mengenai Flora lagi. Apalagi sampai memintanya untuk menghabisi nyawa Flora seperti rencana awal Rikha memberikan tugas pada Adrian.
Karena memang, Rikha awalnya menghubungi Adrian dan memintanya bekerja untuk dirinya sendiri adalah demi melenyapkan Flora dari kehidupan Shane seutuhnya. Dengan demikian, Rikha bisa kembali mendapatkan Shane lagi setelahnya.
Sedangkan di sini, Adrian telah secara tidak sengaja, jatuh hati pada Flora dalam prosesnya. Entah dari kapan, Adrian sendiri tidak tahu. Tapi yang pasti, dia kini benar-benar tidak bisa turun tangan untuk mengeksekusi rencana awal yang sudah disepakati antara dirinya dengan Rikha.
Dia tidak bisa menyakiti Flora sedikit pun!
“Lalu kenapa kau tidak menyahut? Kenapa kau diam sana seperti itu? Apa kau tahu bahwa apa yang aku bicarakan ini berkaitan dengan tugasmu sebagai seorang yang sudah aku bayar?”
Adrian kembali menarik nafasnya dan berjalan menuju balkon apartemennya. Dia mengamati sejenak pemandangan malam di kota ini, sebelum akhirnya tersenyum miring dengan beberapa pemikiran di kepalanya.
“Untuk apa terburu-buru? Jangan membuat orang lain terutama Shane itu curiga kepada kita. Pergerakan ini harus tetap aman, bukan?”
Perkataannya berhasil membungkam Rikha yang sedari awal begitu terburu-buru untuk menghabisi Flora selagi hubungan antara Flora dengan Shane sedang tidak baik seperti sekarang.
“Apa? Kenapa kau diam? Tidakkah apa yang aku katakan itu benar adanya?” celetuk Adrian sekali lagi.
Mendengar ini, Rikha berdeham sedikit. Dia mencoba memperbaiki posisi duduknya dan bertanya pada Adrian apa yang dipikirkannya kali ini.
“Apa yang kau pikirkan, Adrian? Aku ingin tahu rencanamu mengenai tugas yang seharusnya kau eksekusi dalam waktu dekat ini!”
Adrian dengan santainya berbalik untuk bersandar pada pagar balkon.
“Aku hanya berpikir bahwa demi keamanan ku sebagai seorang yang mengeksekusi rencana ini secara langsung, keamananku sendiri adalah hal yang paling penting.”
“Tidak mungkin bagiku untuk bertindak sembarangan sampai mencelakai Flora sedangkan aku baru saja dekat dengannya akhir-akhir ini.”
__ADS_1
“Ditambah dengan renggangnya hubungan antara Flora dan Shane sekarang, jika aku mengeksekusi rencana itu, tidakkah semua orang akan tertuju padaku?"