
Shane beralih dari sofa panjang tempat Flora tertidur dengan jas yang digunakan Shane untuk menutup tubuh bagian bawah istrinya.
Kini dia ada di posisi kursi kebanggaan.
"Kenapa Nicko ada di sini?" tanya pemuda tampan itu dengan wajah dingin.
"Maaf, Pak Shane tadi dia bilang ingin bertemu Anda dan memberikan hadiah pernikahan, dia meninggalkan kado di atas nakas dekat lemari pendingin mini," terang asisten yang merangkap menjadi sekertaris Shane dengan nada ramah tanpa rasa takut.
Pemuda tampan itu menelisik ke segala arah dan menemukan sebuah kotak berbungkus kertas kado bergambar bintang. Shane beranjak dari tempat dirinya duduk dan kini mendekati benda tersebut.
"Apa lagi yang akan dia berikan padaku sekarang," monolog Shane seorang diri sambil melihat kado tersebut.
Mau tidak mau dia membuka kotak tersebut dan menemukan sebuah catatan kecil yang dilipat dengan begitu rapi. Shane mengambil dan membaca note tersebut.
"Halo, Bro kamu pasti sudah buka kado dari aku 'kan. Kali ini aku mau mengundang mu dan istri mu untuk makan malam bersama denganku di cafe yang biasanya, untuk merayakan pesta pernikahan kalian yang aku lewatkan."
Tulisan Nick membuat Shane berpikir negatif.
"Panji," panggil Shane pada sekertaris nya dengan nada dingin.
"Kalau Nick datang lagi atau membawa kado seperti ini, tendang saja dia dari kantor kita," perintah yang berisi sebuah ancaman untuk teman lamanya.
"Baik, Pak Shane, akan aku lakukan apa yang Anda inginkan."
"Bagus, lalu bagaimana rapat tadi dan masalah yang menimpa kantor cabang kita di Kota Mekar?"
"Masalahnya ada data yang tidak sama saat kami memeriksa keuangan kantor cabang, terlihat juga bahwa pendapatan kita tidak transparan, Pak," jelas Panji pada Shane yang kini sambil membuka laptop miliknya.
"Apa file itu sudah kami kirim ke email pribadiku?" tanya CEO muda yang namanya kini semakin tersohor karena kepiawaiannya memimpin perusahaan dan banyak kantor kecil.
"Sebentar, Pak. Akan aku kirim sekarang."
Panji mengotak atik laptop miliknya dan mengirimkan file yang Shane minta.
"Semua file sudah aku kirimkan, Pak, Anda bisa segera cek dan bisa membandingkan dengan file yang asli dari manager keuangan."
__ADS_1
Shane mulai bergerak, jari jemarinya dengan lincah mengotak atik layar yang ada di depannya, sembari meneliti angka yang terlihat seperti deretan pagar.
Hingga pandangannya melihat pada pergerakan istrinya, jemarinya yang tadi lincah di atas keyboard menjadi lambat.
"Kamu sudah bangun, Sayang?" tanya pemuda itu dengan ramah, dia meninggalkan pekerjaan dan duduk di samping sofa yang tadi dibuat Flora tidur.
"Mas, bisakah kamu mengambilkan aku air, jujur sekarang ini kepala ku terasa sangat berat," tutur Flora yang terlihat memohon pada suaminya.
"Iya sebentar ya, Sayang aku akan ambilkan untukmu, jangan kemana-mana."
Flora hanya duduk dan patuh pada ucapan suaminya, lalu menunggu segelas air yang akan diberikan untuk dirinya.
"Ini, Sayang minumlah," ucap Shane sambil menyodorkan segelas air putih pada istrinya.
"Terimakasih, Mas."
Perlahan Flora menegak minuman tersebut hingga tandas, dia memberikan gelas itu kembali kepada Shane.
"Apa kamu sudah baikan, Sayang?" tanya Shane yang terlihat cekatan dan juga siaga.
"Apa kamu sedang kurang sehat, Sayang, tampaknya kamu pucat?"
Meski tampak khawatir namun Shane tetap tenang, dia membuat sang Istri agar tidak rapuh di depan orang lain.
"Mungkin hanya kecapean, Mas, kita 'kan seminggu hanya bermain saja di pulau, meskipun malam tetap menikmati hal yang membuat kita lelah," terang Flora yang membuat pikiran Panji mulai berkelana jauh.
Bagaikan paham situasi, Shane melirik asisten dan sekaligus sekertaris nya untuk keluar dari ruangan.
"Maaf menyela, Pak aku permisi dulu mau melanjutkan pekerjaan yang belum selesai."
Shane hanya mengangguk saja, dia masih fokus dengan istrinya yang tampak lemah.
"Kita ke rumah sakit saja ya, Sayang?" usul Shane pada istrinya yang kini duduk di sofa namun badannya tampak lemas.
Wanita cantik itu menggeleng pelan, "Kita pulang saja, Mas, tapi kalau Mas sedang ada pekerjaan yang penting aku pulang sendiri saja," ucap Flora yang kini ingin berdiri namun belum tegak dia berdiri.
__ADS_1
Bruk
Tubuhnya lemah dan dia pingsan di dalam pelukan suaminya.
Panik, Shane menggendong tubuh istrinya melewati lift khusus dan segera masuk ke dalam mobil yang terparkir tidak jauh dari lift khusus untuk dirinya.
"Jalan ke rumah sakit, Pak."
"Baik, Aden."
Pria paruh baya yang selalu setia pada keluarga Andriwjaya tersebut, mengemudi dengan lincah meski dalam keadaan yang darurat, hingga beberapa menit kemudian mereka sampai juga di rumah sakit dan menghebohkan para dokter yang melihat seorang pemuda yang selalu tampak dingin dan tegas berlari dengan keadaan panik membawa wanita cantik di dalam gendongannya.
"Dokter tolong cepat istriku pingsan."
Seorang perawat dengan cepat membawakan ranjang dorong dan Shane merebahkan istrinya di atas ranjang menuju UGD.
"Maaf Tuan Muda, Anda hanya bisa menemani sampai sini, kami akan memberikan pertolongan yang terbaik untuk istri Anda."
Dokter tersebut masuk dan Shane menunggu dengan rasa yang tidak bisa digambarkan.
Setelah beberapa menit, dokter yang tadi memeriksa keadaan Flora keluar dari UGD dan mendekati Shane.
"Tuan Muda jangan cemas, istri Anda dalam keadaan baik, hanya saja saya pribadi ingin memberikan berita baik dan juga buruk bagi Anda," terang pria paruh baya tersebut pada Shane.
"Apa yang ingin Anda katakan, Dokter?
" Sebelumnya saya mengucapkan selamat untuk Anda karena Anda akan menjadi seorang ayah nantinya, istri Anda sedang hamil, Tuan," terang pria paruh baya tersebut dengan wajah yang ikut senang, namun detik berikutnya wajahnya mulai berubah.
"Namun Anda harus benar-benar menjaga istri Anda dengan baik, tadi kami memeriksa jika tensi istri Anda turun dan di bawah normal, selain memberikan makanan yang bergizi seperti lauk pauk dengan protein tinggi, buah, serta sayur jangan lupa memberikan vitamin yang baik untuk calon bayi dan juga ibunya, dan hari ini Nona harus dirawat dulu di rumah sakit hingga tubuhnya kembali stabil, Tuan," terang dokter yang sudah dianggap keluarga oleh Shane tersebut.
Pemuda tampan itu menghela napas kasarnya, dia ingat seminggu ini, istri cantiknya itu memang kurang memperhatikan kesehatan, dia selalu ingin melihat keindahan Pulau merah muda dengan segala fasilitas mewah dan makan malam romantis di tepi pantai tanpa mau diberikan nasihat sama sekali.
"Baik, Dokter apapun yang terbaik untuk Istriku lakukanlah, aku ingin dia sehat kembali dan bisa kembali ceria seperti sedia kala."
"Baik, Tuan, setelah perawat memindahkan kamar istri Anda, Anda boleh melihat keadaannya, sebelumnya selamat ya, Tuan."
__ADS_1
Setelah membicarakan keadaan Flora, dokter itu meninggalkan ruang UGD dengan Shane yang sedang memberikan mandat pada seseorang.