
Shane dalam perjalanan menuju rumah sakit, dia sudah memberikan tugas kepada orang kepercayaannya untuk memberikan pelajaran kepada Lisa. Sementara itu ponselnya berbunyi nyaring, dari layar tertera nama seseorang yang merupakan masa lalunya.
Pemuda itu mengabaikan panggilan dari Rikha, dia tetap fokus pada jalan dan ingin segera menemani Flora yang sedang sakit dan tanpa ada penjagaan dari orang terdekatnya, setelah sampai di rumah sakit, Shane segera menaiki lift khusus untuk menuju ke ruang inap istrinya.
Saat dia membuka pintu, terlihat Flora sudah dalam keadaan duduk dengan memandang langit malam.
"Sayang, syukurlah kamu sudah bangun," ucap Shane sambil mendekati tubuh wanita yang dia cintai.
Flora melihat seseorang yang berjalan kearahnya dengan senyuman manis.
"Mas dari mana? Aku ingin pulang," ucap Flora dengan wajah sedih.
Shane bisa menangkap sebuah kesedihan di wajah istrinya, meskipun lampu kamar di matikan, akan tetapi sinar rembulan membuat wajah cantik gadis berhijab itu terlihat bersinar.
Tangan lembut pemuda itu menangkup wajah istrinya, perlahan dia memandang kekasih halalnya dengan tatapan sayang.
"Sayang, kamu boleh pulang asal besok kamu mau diperiksa lagi, nanti dokter akan aku bujuk untuk mengizinkan kamu pulang jika tubuhmu tidak ada tanda luka atau sakit."
Ucapan yang keluar dari bibir Shane membuat Flora sedikit tersentil, pasalnya dia sendiri masih dalam keadaan sakit dan kini harus berada di rumah sakit untuk pemilihan.
Flora memberengut kesal, wajahnya yang terkena sinar rembulan terlihat sedang kesal.
"Jangan sedih sayang, aku hanya mau jika kamu mendapatkan pengobatan yang terbaik."
"Tapi aku ingin pulang, M......"
Nyatanya Flora tidak bisa protes karena keinginan suaminya tersebut, dengan cepat, pemuda itu menutup bibir istrinya dengan bibir miliknya sendiri, bola mata Flora terlihat terkejut, namun dia hanya bisa pasrah dengan apa yang sedang dilakukan suaminya.
Sukses dengan membungkam protes sang Istri, kini Shane mengusap lembut bibir Flora yang selalu membuatnya candu.
"Jangan protes untuk kesembuhan mu, Sayang, jika aku mau aku bisa membuatmu bicara dengan jujur dengan apa yang sedang terjadi di gudang tua itu."
Tidak ada jawaban yang keluar dari Flora, dia hanya menangis setelah mendengar kata gudang tua. Mendadak istrinya itu seperti hilang kendali, dia berteriak dan memegangi kepalanya yang entah seperti apa rasanya.
__ADS_1
Karena panik, Shane memeluk tubuh istrinya dengan rasa cinta.
Pukulan yang Shane dapatkan dari Flora tidak membuat pemuda itu menyerah.
Sambil menenangkan kekasih halalnya, pemuda yang berstatus sebagai kepala keluarga itu memencet sebuah tombol berwarna merah tanda darurat.
Tidak menunggu berapa lama, beberapa dokter dan perawat segera datang ke dalam kamar inap Flora. Mereka melihat pasien yang memukul pemuda yang merupakan anak dari pemilik rumah sakit ternama tersebut.
Dokter dengan hati-hati memberikan obat penenang untuk Flora daripada pasien yang mereka kira adalah kekasih gelap dari Shane tersebut melukai diri sendiri dan juga Shane tanpa sadar.
Melihat kondisi Flora yang kembali tertidur karena obat penenang, membuat hati Shane terasa sakit.
"Maaf, Sayang, seharusnya kemarin aku selalu bersamamu, mengawasi setiap kegiatanmu dan siaga terus, tetapi aku malah mengabaikan kamu dan tidak melindungi dirimu dari orang yang berniat jahat kepadamu."
"Tuan, saya ingin berbicara pada, Anda."
Wajah dokter tersebut tampak begitu tegang, dia tidak tahu harus berkata apa lebih dulu.
Seperti Shane yang mempunyai ikatan batin, dia menebak apa yang akan dokter katakan pada dirinya.
"Maaf sebelumnya, Tuan Shane, tetapi apa yang Anda katakan adalah benar adanya. Nona mungkin mengalami sedikit trauma hingga mengakibatkan sesuatu kepanikan pada dirinya saat satu kata tidak sengaja terucap," terang pria paruh baya yang merupakan dokter ahli yang menangani Flora.
Menyerngit bingung, "Jadi benar, Flora sedang tidak dalam kondisi baik?" tanya Shane dengan sedikit ragu, namun dia ingin tahu kondisi istrinya.
Dokter itu mengangguk mengiyakan. "Tetapi Anda tidak usah takut, Tuan Shane, rumah sakit kami punya fasilitas lengkap dengan dokter yang ramah pada pasien, untuk masalah Nona muda, hanya sedikit terapi saja untuk menyembuhkan luka trauma," jelas pria paruh baya itu pada Shane.
"Terapi?"
"Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi trauma, salah satunya adalah terapi. Terapi psikologis alias psikoterapi merupakan salah satu metode yang paling efektif, khususnya jika Anda sudah tidak bisa mengatasi trauma secara mandiri atau dengan bantuan orang terdekat. Dua contoh psikoterapi yang dapat digunakan ialah terapi perilaku kognitif (CBT) dan terapi somatik (somatic experiencing therapy). Pada CBT, Anda akan dibantu untuk menerima dan mengevaluasi pikiran dan perasaan Anda terhadap suatu kejadian traumatis. Sementara pada terapi somatik, Anda akan diajak untuk fokus terhadap sensasi yang dirasakan oleh tubuh terhadap peristiwa penyebab trauma. Dengan cara tersebut, Anda dapat mengeluarkan energi berupa amarah, kekecewaan, kesedihan yang berkaitan dengan trauma. ," jelas pria paruh baya itu panjang lebar.
"Apa ada cara lain selain terapi, Dok?"
"Ada, mengonsumsi obat-obatan," jelas dokter dengan ramah.
__ADS_1
"Obat-obatan apa yang dimaksud, Dok?"
"Jenis obat-obatan yang digunakan umumnya adalah obat anticemas, obat untuk mengatasi gangguan tidur, dan antidepresan."
Lagi-lagi Shane mengangguk, "Aku hanya ingin dia sembuh, Dok, apapun akan aku lakukan untuk dirinya."
Shane melihat tubuh Flora yang berselimut.
"Tuan muda bisa membantu Nona untuk sembuh dari trauma di rumah namun, Anda harus sabar, Tuan."
Tatapan sedih itu berubah menjadi cerah saat dokter mengatakan jika Shane bisa membantu Flora sembuh.
"Apa itu, Dokter?"
Meskipun wajahnya tampak datar, raut bahagia terlihat dari pandangan Shane yang tidak bisa dibohongi.
"Tidur yang cukup, makan yang bergizi, banyak berinteraksi, olahraga, dan tetap bahagia."
Jawaban dari Dokter membuat Shane ingin mengumpat, "Itu pun
aku tahu, semua orang juga tahu."
"Ya sudah kalau begitu, saya pamit, Tuan muda."
Pria paruh baya itu pergi dengan perawat yang sudah mengecek kondisi Flora dengan baik.
Shane duduk lagi disamping ranjang istrinya tersebut.
"Izinkan aku menjagamu, Sayang. Cepatlah sembuh agar kita bisa merencanakan pesta pernikahan," monolog Shane pada Flora yang tertidur akibat obat.
Keesokan harinya, Shane sudah mandi dan rapi, dia sedang bersiap meeting dengan pemegang saham di perusahaan miliknya lewat daring, entah kenapa pemuda itu seakan takut jika jauh dari istrinya.
Sebelum melakukan daring, pemuda itu sudah menyiapkan keperluan Flora, dari makanan, hiburan, dan sebuah buku yang tertata rapi di atas nakas.
__ADS_1
"Selamat pagi semua, hari ini kita akan membahas masalah hak karyawan."
Raut wajah ramah tadi mendadak dingin.