
Keberuntungan masih berpihak kepada mereka berdua, pasangan suami istri bersama dengan salah satu bodyguard meninggalkan parkiran dan melanjutkan ke rumah ayahnya.
Tampak raut muka Flora begitu takut dan masih saja menangis.
"Sayang, maafkan aku, aku akan selalu melindungi mu hingga nanti, jadi tetaplah bertahan hingga kita sampai di rumah ayah," tutur Shane mencoba untuk menenangkan istrinya yang menagis takut.
"Tuan muda ada beberapa mobil yang sepertinya mengejar kita dari belakang."
Seketika itu Shane melihat dari kaca belakang dan benar saja ada beberapa mobil yang sedang mengikuti mereka dari jauh.
"Pak, bisa lebih cepat sedikit, kita jangan sampai tertangkap dulu kasihan istri ku, dia tidak tahu apa pun masalah ini, tetapi ikut menanggung akibatnya," ujar Shane yang memeluk erat Flora yang masih bergetar dalam tangisnya.
"Baik, Tuan muda."
Bodyguard yang sudah terlatih itu segera melesat menggunakan segala cara yang bisa membantu mereka keluar dari bahaya setelah mendapat perintah langsung dari majikannya. Dengan keterampilan yang cukup dibanggakan, pria berpakaian hitam itu menekan pedal gas dan mengecoh lawan, menggunakan teknik zig zag seperti seorang pembalap liar, dirinya juga mampu menerobos gang kecil dengan memiringkan mobil yang dia kendarai.
Shane begitu kagum dengan skill salah satu bodyguard yang dia pekerjakan, tidak pernah mengecewakan sama sekali, bahkan dalam keadaan genting sekalipun bodyguardnya bisa diandalkan.
"Tuan muda, sepertinya mobil tadi sudah tidak lagi mengejar kita," ucap bodyguard tadi yang kembali fokus pada jalanan.
"Benar apa yang kamu bilang, ini semua karena skill mengemudi mu yang begitu apik dan juga hebat, mungkin orang lain akan panik jika dikejar beberapa mobil asing, namun aku cukup bangga dengan kamu yang mempunyai skill pembalap profesional," puji Shane dengan nada tulus.
"Terima kasi, Tuan Muda."
Tidak berapa lama mereka sampai di mansion besar milik Pak Andriwijaja. Pemuda tampan yang kini sudah masuk di depan pintu utama segera berlari dan menaiki anak tangga guna membaringkan istrinya yang entah sejak kapan tidak lagi bergerak.
Kepanikan terjadi karena Flora tidak sadarkan diri saat sampai di mansion ayahnya.
"Apa yang terjadi pada kalian, kenapa kalian pulang dengan keadaan begini?" tanya pria paruh baya yang kini melihat kondisi menantunya yang kurang baik.
__ADS_1
"Nanti aku jelaskan, Yah, namun sebelum itu aku minta ayah hubungi salah satu dokter kandungan untuk memeriksa keadaan Flora dan calon bayiku," pinta Shane dengan nada memohon.
"Baiklah akan aku hubungi dulu."
Setelah pria paruh baya itu menghubungi orang kepercayaannya yaitu seorang dokter yang dekat dan mahir, Shane menceritakan kejadian yang menimpa mereka kepada ayahnya.
"Kenapa bisa seperti itu? Siapa yang sudah melakukan ini kepada menantu kesayangan ku," tegas pria paruh baya itu dengan nada emosi.
"Maaf, Yah tapi aku belum tahu siapa yang sudah melakukan ini pada kami, kami segera melarikan diri dari rumah sakit dan berhasil kabur dari kejaran mobil asing karena salah satu bodyguard ku yang punya skill pembalap pro," terang Shane apa adanya.
"Kamu ini gimana sih, Shane."
Pria paruh baya itu malah menjewer putranya yang tidak tahu kesalahannya.
"Ampun, Yah kenapa aku dijewer seperti ini, memang apa yang aku lakukan, aku berkata apa adanya," jelas Shane sambil memohon ampun untuk dilepaskan dari siksaan kecil ayahnya.
"Karena kamu yang meminta bodyguard untuk mengebut di jalan raya, membuat menantu kesayangan ku tambah seperti ini, dia pasti syok dan berasa main roller coaster di dalam mobil, padahal bukan itu yang terjadi," cecar sang ayah pada putranya yang masih belum paham akan kondisi yang dialami Flora.
"Untung saja dia masih hidup, jika tidak akan aku coret kamu dari daftar kartu keluarga," ketus sang ayah pada putranya.
"Maaf, Yah. Lain kali aku akan lebih berpikir positif dulu daripada bertindak lebih dulu," ujar Shane sambil mengusap telinga miliknya yang memerah karena ulah ayahnya.
"Oke kali ini Ayah ampuni kamu, lain kali kalau kamu bertindak ceroboh apalagi membahayakan Flora dan calon cucuku akan aku usir dari hatiku," omel pria paruh baya itu sambil bermain sandiwara.
"Kenapa sepertinya Ayahku agak lain ya!" seru Shane sambil berpikir.
"Agak lain bagaimana? Aku ini ayahmu jangan lupa jika kamu itu putraku satu-satunya dan pewaris sah Phoenix Corp," oceh pria paruh baya itu hingga membuat Shane menepuk dahinya sendiri.
"Aneh, kenapa Ayahku tiba-tiba alay seperti ini."
__ADS_1
"Anak durhaka kamu."
Keduanya tampan bertengkar dan kini mulai hening ketika ada suara ketukan dari luar pintu.
"Siapa?" tanya tegas pria paruh baya itu pada orang yang ada di luar kamar Shane dan Flora.
"Aku, Tuan Dokter Amanda," sahut seseorang yang ada di luar sana.
Pria paruh baya itu kini membukakan pintu untuk bertemu dengan Pak Andriwijaya dan juga Shane.
"Maaf datang agak lama, Tuan, tadi mendadak jalan macet dan baru sampai 1 jam," sesal wanita cantik yang memakai baju kebesarannya.
"Tidak apa, Dokter silahkan masuk dan tolong periksa keadaan menantu saya."
Wanita cantik yang membawa salat medis itu berjalan mendekati ranjang Flora dia tampak terpesona dengan pemuda tampan yang ada di sisi ranjang wanita cantik yang memakai hijab dengan wajah tampak pucat tersebut.
"Maaf, Tuan bisakah Anda berdiri dulu, saya akan memeriksa pasien ini dan mendiagnosis apa yang sebenarnya terjadi."
Tanpa jawaban, Shane berdiri membiarkan wanita yang dipanggil dokter oleh ayahnya itu memeriksa keadaan istri tercintanya.
Setelah beberapa menit, dokter tersebut ramah dan tampak cantik.
"Nyonya tidak apa-apa hanya pingsan mungkin karena sesuatu hal yang membuat dirinya terkejut, saran saya jangan ada yang membuat pikiran Nyonya berpikir keras, karena bisa berdampak buruk untuk calon anak kalian nanti," terang wanita cantik itu pada Shane dan juga pria paruh baya di sebelahnya.
Shane tidak melihat wajah dari dokter cantik yang diam-diam memindai dirinya dari atas hingga bawah, namun deheman sang ayah membuat dokter tersebut sedikit gelagapan.
"Ehem, jangan dilihat terus putra saya, Dok, itu istrinya sedang sakit jangan berniat menjadi pihak ke dua dalam kehidupan mereka."
Bagai dihantam batu besar, dada dokter cantik itu merasa sesak, dia memaksa tersenyum ramah lalu berkata, "Tidak, Tuan saya tidak berniat untuk itu, saya hanya kagum masih ada suami yang begitu sayang dan perhatian tulus kepada istrinya," terang dokter Amanda dengan senyum manis.
__ADS_1
"Maksud Anda apa? Apa putraku tidak setia?" selidik pria paruh baya itu pada wanita cantik berjas putih di depannya.
Mereka keluar dari kamar Shane setelah melihat kondisi Flora benar-benar baik.