
"Mas, ini aku." Suara lembut itu menyadarkan Shane, dirinya hampir kelepasan bicara jika tidak bisa mengontrol ucapannya.
"Sayang, kamu kenapa ada di kantor dan tidak bilang padaku?" tanya lembut pemuda itu dengan penuh cinta pada istrinya.
"Karena, Mas repot dan katanya tadi akan ada meeting sama orang penting jadi aku kesini membawakan, Mas makan siang nanti, aku takut mas nanti telat makan karena sibuk," tutur Flora dengan nada manisnya.
"Terima kasih, Sayang sudah jauh ke sini bawakan makan siang untukku, duduklah di sini dulu aku akan mengambilkan lemon tea dingin untuk kamu."
Shane segera beranjak berdiri dan memencet bel dari ruangannya untuk memesankan lemon tea pada office boy yang bertugas.
Selesai dengan kegiatannya dirinya kini duduk kembali bersama dengan Flora.
"Bagaimana dengan keadaanmu saat ini, Sayang? Apakah kamu benar-benar sudah pulih kembali?" tanya lembut sang Suami pada istrinya tersebut.
"Baik, Mas tenang saja."
"Alhamdulillah kamu sudah pulih."
Mereka mulai berbincang dengan santai tak lama kemudian ponsel Shane berdering dengan nyaring.
"Angkat saja dulu, Mas."
Flora tampak tenang dengan ucapannya, meskipun di dalam hatinya tampak kurang nyaman. Sikap suaminya hari ini tampak begitu mencurigakan.
Sambil menunggu suaminya mengangkat panggilan telepon, Flora mengecek sosial media, dia hanya melihat video lucu yang diunggah oleh orang lain. Senyumnya terbit di wajahnya yang begitu cantik. Hingga Shane datang dan melihat wajah ceria istrinya.
"Sayang, apa kamu akan lama di sini?" tanya pemuda itu pada sang Istri yang duduk di sofa. Sambil merebahkan tubuhnya disamping Flora, Shane memeluk lembut tubuh istrinya tersebut.
"Ada apa, Mas?"
Flora menghentikan kegiatannya berselancar di sosial media, lalu menatap lembut wajah suaminya.
"Tidak apa, Sayang. Aku hanya berpikir, amalan apa yang aku lakukan hingga mempunyai bidadari seperti kamu," terang Shane kepada wanita cantik di samping dirinya.
"Mungkin ada sesuatu yang tidak kamu ketahui, Mas. Tetap bersyukur saja dan jadilah imam yang baik untuk kami," tutur lembut Flora kepada suaminya.
"Iya, Sayang, terima kasih untuk semuanya."
__ADS_1
Keduanya menikmati kebersamaan, lalu tak berselang lama seseorang mengetuk pintu ruangannya.
"Siang, Tuan ruangan meeting sudah siap, kita bisa segera meeting sekarang," ucap pemuda tersebut setelah dipersilahkan masuk oleh Shane.
"Baik, kamu silahkan ke sana terlebih dahulu."
"Baik, Tuan."
Hening sejenak kemudian Flora mulai mematikan ponsel pintar miliknya dan menaruhnya di tas kecil yang dirinya bawa saat ini.
"Aku pulang dulu, Mas," ucap Flora kepada suaminya.
"Hati-hati di jalan, Sayang."
Flora pulang dengan perasaan tenang setelah memberikan makanan untuk suaminya yang sedang bekerja. Sedangkan Shane sendiri sudah berada di ruangan untuk meeting dadakan.
Di dalam sana suasana begitu tegang dan juga panas, ketika sebuah dokumen yang diberikan oleh seseorang sudah berada di depan Shane-pemuda tampan itu berwajah dingin dan tanpa ekspresi.
Helaan kasar terdengar horor bagi semua orang yang ada di sana, CEO tersebut melempar kasar dokumen yang ada di depannya dengan suara lantang setelah beberapa saat membaca dokumen dengan hening.
Brak
"Bagaimana kalian bekerja selama ini, kenapa dokumen seperti ini kalian persiapkan untuk saya baca, apa kalian pikir saya tidak bekerja dengan baik dan adil selama ini," tegas Shane dengan wajah kesal. Di sana tidak ada yang mau menjawab ucapan yang keluar dari bibir Shane, bahkan ruangan ber-AC tersebut terasa panas ketika sang CEO mulai melihat kinerja mereka yang asal-asalan.
"Kalian tidak ada rasa profesional sama sekali, apa saya harus selalu marah dan memberikan kalian dokumen yang menggunung untuk kalian baca atau kerjakan dengan lembur hingga jam sepuluh malam?" tanya pemuda tersebut dengan wajah merah padamnya.
"Maaf, Tuan."
Hanya itu yang Shane dengar dari bibir bawahannya.
"Sekarang perbaiki semua dokumen yang ada, tidak ada alasan dari kalian yang tidak bisa mengerjakan pekerjaan dengan tepat waktu hari ini, kalian hanya boleh istirahat ketika waktunya istirahat selesai, tidak ada hal yang percuma jika dikerjakan dengan baik."
Suara pemuda tampan itu mulai terdengar lembut, bukan karena Shane mulai lelah tetapi dia menggunakan prinsip menjatuhkan dan membangunkan.
"Sekarang kalian keluar dan kerjakan dengan baik dokumen yang kalian buat asal," imbuh Shane setelah dirasa meeting kali ini sudah cukup.
Semua orang keluar dengan wajah lesu namun tidak sedikit yang menelaah ucapan yang keluar dari bibir atasannya tersebut.
__ADS_1
Sementara Shane dan juga Pandu kini mulai berjalan beriringan mereka menuju ruangan Shane dan membahas sesuatu yang begitu pribadi.
"Bagaimana dengan pengamatanmu sekarang?" tanya Shane dengan wajah santai saat berdua dengan asisten pribadi sekaligus sahabatnya tersebut.
"Menurut pengamatan saya, masa lalu Flora tidak tahu jika Nona sudah menikah,tetapi tidak menutup kemungkinan juga jika dia akan nekat menemui Nona bagaimanapun caranya," jelas Pandu dengan sebelah tangannya mengotak atik laptop di depan netranya.
"Begitu ya?"
"Harusnya kamu tahu resikonya saat menikahi bidadari," sahut asisten pribadi Shane yang kini menghentikan jarinya di keyboard laptop.
"Kamu benar, aku kira yang menyukai Flora hanya orang yang tidak berguna seperti yang sudah-sudah," sahut Shane sambil melihat masa lalunya ketika sudah menikahi Flora.
"Dasar bucin," celetuk Pandu dan kini memutar layar laptop tersebut kearah Shane.
"Hemm," deheman singkat itu membuat sahabatnya terkikik geli.
Setelah itu Shane mulai mendekatkan diri pada layar yang ada di depannya, di sana terpampang sebuah data pribadi seseorang beserta foto seorang pemuda yang tersenyum manis.
"Menurutku wajahnya biasa saja dan tidak ada aura ketampanan seperti diriku," celetuk Shane saat melihat data seseorang di sana.
Ya Shane sedang melihat dan menyelidiki masa lalu istrinya tersebut.
"Rasanya aku ingin bertemu dengannya bersama dengan Flora."
Ide gila itu membuat Pandu mengerutkan keningnya.
"Kamu mau bunuh diri?" tanya pemuda tampan tersebut dengan mengangkat sebelah alisnya.
"Bukan, lebih tepatnya memanasi seseorang biar dia tahu rasanya kebakaran jenggot."
"Terserah kamu saja lah, aku hanya melihat dari jauh," tutur Pandu yang mulai malas jika sahabatnya itu mempunyai ide gila.
"Semoga kamu tidak ikut terbakar jika tatapan memuja orang lain ketika melihat milikmu tyang nyaris sempurna."
"Hah, kamu membuatku bingung Pandu," keluh Shane saat melirik sahabanya itu dengan pandangan yang entah apa artinya.
"Jangan salahkan aku,tapi itu adalh ide gila yang ada di otakmu yang begitu cerdas, Sob."
__ADS_1
"Ya, itu memang ide cerdasku, jadi jangan pernah meragukan diriku."
"Terserah kamu saja, aku ingin kembali bekerja,sebelum waktu istirahan mulai."