Kekasihku Bad Boy Milyuner

Kekasihku Bad Boy Milyuner
Anak Baru


__ADS_3

“Nah, Sayang, Mas pergi ke kantor dulu, ya?” ucap Shane pada Flora yang baru saja turun dari mobilnya.


Flora mengulas senyum hangat dan mengangguk ringan sebagai jawaban. “Iya, Mas. Hati-hati di jalan, ya!”


“Iya. Kamu juga semangat ya kuliahnya!” ujar Shane balas mengangguk atas nasihat Flora.


“Pasti! Terima kasih, Mas! Kalau begitu aku masuk dulu, ya?”


Shane tersenyum mempersilakan. Dia juga sudah bersiap untuk menginjak pedal gas mobilnya menuju perusahaan tempatnya bekerja.


Akan tetapi, kedua matanya yang tajam tiba-tiba salah fokus pada seorang laki-laki dengan penampilan rapi dan wajah cukup rupawan yang datang ke arah Flora.


Kedua matanya berkilat dengan sebuah cahaya misterius. Dan kilat matanya yang cukup aneh ini sempat ditangkap oleh Flora yang sengaja belum berbalik untuk masuk guna menunggu Shane mengemudikan mobilnya pergi dari area kampus.


“Ada apa, Mas?”


Belum sempat Shane menjawab pertanyaan Flora, suara seorang laki-laki yang sebelumnya sudah menyita perhatian Shane akhirnya datang ke telinga mereka berdua dan mengejutkan Flora yang tadinya tidak tahu sama sekali akan kedatangan orang ini.


“Maaf, permisi!”


Flora spontan menoleh, begitu juga Shane yang tatapannya langsung dipenuhi sinar waspada yang kentara jelas.


“Iya? Ada apa, ya?” tanya Flora kebingungan.


Laki-laki itu tampak mengatur nafasnya sejenak, sebelum akhirnya tersenyum hangat pada Flora dan Shane bergantian. Namun, setelahnya dia justru menatap lurus wajah cantik Flora dengan sungguh-sungguh.


“Maaf, apa kamu yang namanya Flora?”


Shane memicing tajam begitu mendengar bahwa tujuan dari laki-laki ini datang adalah untuk mencari Flora, sang istri. Dalam hatinya, sebuah kecurigaan timbul. Dia mempertanyakan apa maksud dan tujuan asli dari laki-laki ini.


Sedangkan Flora yang ditanyai oleh laki-laki itu, kini mengalihkan pandangannya ke arah samping di mana Shane berada. Dari tatapannya, jelas sudah kalau Flora tengah bertanya apa yang harus dia lakukan untuk menanggapi laki-laki di depannya itu pada Shane.


Sayangnya, Shane hanya menatapnya dengan tatapan rumit yang kemudian membuat Flora bingung. Situasi di antara mereka jatuh awkward pada akhirnya.

__ADS_1


“Oh, maaf karena aku tidak memperkenalkan diri terlebih dahulu,” celetuk pria itu tiba-tiba demi memecah kecanggungan dan keanehan suasana di antara mereka bertiga.


“Namaku Adrian dan aku adalah mahasiswa baru di kampus ini. Saat aku mencari tahu di mana kelasku, salah seorang dari mereka yang ada di lobi menunjuk ke arahmu dan berkata bahwa aku satu kelas denganmu. Dan mereka bilang, namamu adalah Flora. Jadi, apa itu benar?” lanjutnya tetap dengan nada ceria tanpa ada celah.


Flora dan Shane yang sudah kembali menatap laki-laki yang bernama Adrian itu akhirnya menaikkan alis dengan heran.


“Kenapa kamu tidak pergi saja langsung mencari gedung kelas yang dimaksud?” tanya Shane lebih dulu sebelum Flora membuka suaranya.


Flora mengangguk membenarkan. “Benar, Adrian. Kenapa kau harus mencariku kemari?”


Adrian tampak kikuk. Dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal beberapa kali dengan ekspresi bingung dan serba salah. Hal ini lantas membuat Flora menghela nafasnya dan berbalik untuk menatap Shane.


“Mas, aku ke kelas dulu, ya? Sebentar lagi ada kelas. Mas juga harus segera berangkat sebelum terjebak macet di jalanan. Bukannya Mas ada kepentingan ya pagi ini di kantor? Nanti terlambat bagaimana?”


Shane menyipit lagi. Dia mengamati ekspresi sang istri dengan saksama sebelum akhirnya mengangguk singkat.


“Baiklah. Mas berangkat dulu, ya? Jaga jarak sama dia,” tutur Shane pada Flora sungguh-sungguh.


Flora tersenyum menenangkan. “Jangan khawatir, Mas.”


Tapi sekali lagi, dia menyempatkan diri untuk mengintip apakah Flora menjaga jarak dari Adrian itu atau tidak setelah dia pergi.


“Aku merasa laki-laki itu tidak beres!”


Namun, Flora yang kini berjalan bersisian agak jauh dari Adrian mendapati bahwa Adrian cukup pendiam.


Tingkahnya juga tidak mencurigakan sama sekali. Dia tampak penasaran dengan lingkungan sekitar dan beberapa kali bertanya kepadanya tentang hal-hal yang berkaitan dengan kampus dan kelas mereka. Persis selayaknya mahasiswa baru pada umumnya.


Hanya saja, Flora tetap menjaga jarak seperti yang dikatakan oleh Shane tadi.


“Flora, kita benar-benar satu kelas 'kan?” tanya Adrian saat keduanya hampir tiba di kelas mereka.


Flora menolehkan kepalanya.

__ADS_1


Wajah cantiknya langsung terpampang jelas dengan jarak kurang dari satu meter dari Adrian yang kini tampak terpesona karena kecantikannya. Sayangnya, Flora tidak sadar akan hal itu. Dia menganggap Adrian hanya menatapnya dengan biasa saja.


“Ya. Kenapa memangnya?”


Adrian masih bergeming di tempatnya dengan mata terbuka agak lebar, tanpa sedikit pun berkedip. Yang mana ini membuat Flora menaikkan alisnya karena heran.


“Adrian? Kau kenapa? Kau mendengarku atau tidak?”


Pertanyaan Flora yang dia lemparkan pada Adrian dengan suara yang agak keras itu akhirnya berhasil membawa Adrian kembali dari lautan lamunannya.


Dia yang masih agak terkesima dengan kecantikan sosok wanita berhijab yang tak lain adalah Flora itu kini mengulas senyumnya dengan lebar, walaupun sedikit kikuk.


“Eh? Oh, iya. Aku mendengarnya. Dan, tidak kenapa-kenapa. Hanya ingin bertanya. Bagaimanapun juga kan di sini aku hanya kenal kamu.”


Flora mengedikkan bahunya acuh tak acuh dan masuk ke kelas sambil memimpin Adrian di belakangnya.


Keduanya lalu memasuki kelas yang sudah cukup ramai dengan mahasiswa dan mahasiswi secara berurutan. Dan itu membuat mereka yang ada di dalam kelas teralihkan sepenuhnya.


Perhatian mereka semua jelas tercuri penuh pada keduanya. Sosok yang cukup mencolok seperti Flora tiba-tiba datang dengan seorang laki-laki yang tak pernah dilihat oleh mereka semua. Belum lagi wajah laki-laki itu cukup tampan. Hingga banyak dari mereka yang terpesona karenanya.


Pemandangan antara wanita cantik dan pria tampan seperti itu, benar-benar menghebohkan kelas mereka, bukan?


Ditambah lagi, setelah Flora duduk di tempat yang biasa dia gunakan, Adrian ternyata juga duduk di tempat yang tidak jauh darinya. Hanya berjarak satu meja saja.


Sepanjang kelas berlangsung pun, Adrian tak henti-hentinya mengganggu Flora. Dia menunjukkan bagaimana dia tampak bergantung dan berusaha keras untuk bisa berkomunikasi bahkan berhubungan lebih dekat lagi dengan Flora.


“Flora! Aku tidak paham dengan soal yang ini, apa kau bisa menjelaskannya padaku materi yang berkaitan dengannya?” celetuk Adrian mencoba untuk bertanya langsung setelah kelas usai.


Flora yang sudah bersiap untuk berkemas pulang kini menoleh dengan kerutan di dahinya.


“Kau belum paham materi itu?”


“Iya. Bisa tolong jelaskan padaku? Oh, kau sedang buru-buru pulang, ya? Kalau begitu, bisakah kau menjelaskannya sambil keluar kelas dan pulang?”

__ADS_1


Flora terdiam sejenak.


__ADS_2