
'BRAK!’
Shane menggebrak mejanya dengan satu kepalan tangan saja. Dia merasa geram karena teringat pada Adrian yang benar-benar tampak tertarik pada Flora hanya dalam sekali pandang saja.
“Adrian itu, sepertinya punya niat tertentu pada Flora! Dan Flora benar-benar tidak menyadarinya sama sekali. ”
Shane mendengus dan mengibaskan jas yang dia pakai dengan gerakan kasar. Sembari berjalan menuju jendela ruang kerjanya yang menampilkan pemandangan ibukota saat siang, pikiran Shane terpecah belah sekarang.
“Aku tidak bisa fokus sama sekali! Aku benar-benar kepikiran dengan Adrian dan Flora! Apa yang harus aku lakukan sekarang?”
Entah kenapa, Shane tidak mengerti dengan pasti. Tapi yang jelas, dia bisa melihat sebagai seorang lelaki. Bahwa tatapan Adrian untuk Flora itu lebih dari sekadar mahasiswa baru yang butuh informasi dari mahasiswa lama.
“Lagian kalau dipikir-pikir, Adrian itu bisa aja bertanya pada mahasiswa lain?! Kenapa juga harus Flora? Dan, kenapa Flora juga mau menanggapinya?”
Semakin Shane berpikir, semakin dia menjadi cemburu dan tidak habis pikir. Semuanya terasa tidak masuk akal setelah dipikir berkali-kali. Dan pikiran Shane pun makin kacau balau karenanya.
Dia mulai berpikir macam-macam karena api cemburu yang mulai membakar hatinya!
“Nggak! Ini nggak bisa!”
Shane seperti orang yang kebingungan dan kelimpungan karena masalah ini. Dia berusaha keras untuk mencari solusi dari kegelisahan dan kecemburuan yang dia rasakan. Sampai pada akhirnya, sebuah ide terlintas di kepalanya.
“Oh iya! Sebentar lagi Flora pasti pulang kuliah! Aku bisa pergi menjemputnya. Dengan begitu, aku bisa tahu apa Adrian itu masih mencoba mendekati Flora atau tidak.”
Tanpa pikir panjang lagi, Shane langsung bergegas mengurus semua pekerjaan yang belum terselesaikan dan memberikan beberapa pesan pada sang sekretaris berikut asistennya untuk mengurus hal yang perlu diurus selanjutnya, sementara dia akan bersiap untuk menjemput Flora.
“Istriku, aku datang!”
***
Sementara itu ....
“Jadi begitu rupanya. Aku akhirnya paham, tidak sesulit yang aku pikirkan.”
__ADS_1
Flora mengangguk, membenarkan ucapan Adrian barusan. “Materi itu memang agak membingungkan. Tapi bukan berarti kamu tidak bisa memahaminya. Hanya butuh waktu dan sedikit penjelasan tambahan.”
Adrian tertawa kecil. Dia benar-benar senang setelah berkenalan dengan Flora seharian ini. Bahkan, dia mulai merasa tertarik lebih dari sekadar untuk berkenalan sebagai teman. Ingin rasanya Adrian menjadi semakin dekat dengan Flora.
Hanya saja ....
“Flora, bisakah aku bertanya padamu setiap kali aku kebingungan akan materi yang sekarang kita pelajari? Bagaimanapun juga aku sudah tertinggal jauh. Cuman kamu yang aku kenal baik dan paham sama materi ini,” ujar Adrian tiba-tiba, sambil menghadang langkah Flora.
Wajah Adrian kini memasang wajah memelas dengan kedua tangan yang diletakkan di depan dada, jelas sedang memasang sikap memohon dengan tulus. Ekspresinya juga benar-benar terlihat jujur, seperti seorang yang tengah kesulitan dan berjuang untuk memohon bantuan.
Melihat ini, Flora benar-benar tidak enak hati untuk menolaknya. Dia tidak tega, tapi hatinya merasa tidan nyaman. Entah kenapa, dia merasa seperti ada sesuatu yang salah dari sikap Adrian ini. Bimbang dan ragu mulai menguasai relung hati Flora.
Seolah tahu apa yang ada di dalam kepala Flora, Adrian akhirnya maju dan mencoba untuk meraih tangan Flora.
Hal ini membuat Flora yang tengah lengah, agak terkejut dan lambat meresponsnya. Jadilah tangannya masih sempat terpegang oleh Adrian ketika bersamaan dengan itu, seruan akrab Shane datang ke telinganya.
“Sayang!”
Flora dan Adrian terkejut bukan main. Mereka berdua refleks menoleh ke sumber suara tersebut datang dan mendapati sosok akrab Shane tengah berdiri di luar mobilnya dengan tangan disilangkan di depan dada.
Jelas sudah kalau Shane tampak marah.
Ekspresi Flora pun berubah drastis setelahnya.
“Flora, itu siapa?” tanya Adrian dengan polos secara tiba-tiba, tanpa mengetahui situasi dan kondisi.
Padahal Adrian sendiri sudah bertemu dan bertatap muka dengan Shane tadi pagi. Dia bahkan juga mendengar percakapan Shane dengan Flora yang menunjukkan apa hubungan keduanya. Tapi di sini, Adrian bersikap seolah-olah dia tidak tahu apa-apa.
Flora tidak menjawab. Tidak pula menoleh atau bahkan melirik ke arahnya. Yang dia lakukan justru berlari menuju Shane dengan wajah agak panik dan cemas. Di mana hal ini membuat Shane menyipitkan matanya penuh curiga.
“Kenapa ekspresi Flora berubah seperti dia panik dan cemas begitu? Ada apa dengannya? Atau jangan-jangan, dia panik dan cemas karena aku tiba-tiba datang dan memergokinya sedang berjalan keluar kampus bersama Adrian?!” duga Shane dalam hati.
Sampai Flora tiba di hadapannya dengan wajah agak memerah, Shane akhirnya mencoba menetralisir ekspresi merah padam di wajahnya.
__ADS_1
“Mas, Mas datang buat jemput aku?” tanya Flora kemudian.
Shane mengangguk. “Memangnya apa lagi?”
Flora mengulas senyum. “Siapa tahu aja Mas datang buat ngajak aku pergi ke mana gitu. Pekerjaan Mas memangnya udah selesai semua? Kok bisa jemput aku?”
Shane hendak menjawab ketika dia melihat Adrian berlari menghampiri mereka berdua dengan wajah semringah. Jelas kalau dia tidak peduli sama sekali dengan tatapan Shane yang kembali berubah setajam elang.
“Flora, gimana? Apa yang aku minta tolong ke kamu tadi, kamu setuju 'kan? Kamu nggak keberatan 'kan? Aku beneran nggak punya pilihan lain. Aku belum kenal sama orang-orang di sini. Nggak ada yang bisa aku mintai tolong selain kamu untuk sementara.”
Flora tidak mengira kalau Adrian ternyata menyusul dirinya dan bahkan masih mengejar permintaannya tadi, di depan suaminya—Shane!
Mau tidak mau, Flora mendelik kepadanya. Dia pun baru akan membuka suaranya untuk menolak atau mempertimbangkan hal itu lain kali sebelum didahului oleh sang suami dengan suara yang nadanya tidak begitu bersahabat.
“Kamu tidak lihat kalau saya sedang bicara dengan Flora?”
Nadanya penuh dengan ancaman!
Namun, Adrian justru tersenyum lebar dan mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Shane.
“Saya Adrian, mahasiswa baru sekaligus teman baru, teman sekelas Flora.”
Shane menggertakkan giginya penuh amarah. Tanpa membalas jabat tangan Adrian, dia langsung mengajak Flora naik ke mobil dan meninggalkan Adrian di sana sendirian.
Setelah masuk mobil, Shane juga langsung menginjak pedal gas untuk meninggalkan kampus itu menuju ke rumah. Dia mengemudi dengan sangat cepat, sampai membuat Flora menjadi agak takut karenanya.
“Mas, jangan ngebut-ngebut! Ini bahaya!”
Baru saat itulah Shane mengurangi kecepatannya. Meski begitu, ekspresinya belum membaik sama sekali. Berbagai macam hal yang melintas di benaknya hari ini akhirnya tak mampu dia tahan.
Sembari menolehkan kepalanya sesekali, Shane bertanya.
“Apa hubunganmu dengan Adrian itu?!
__ADS_1
Flora spontan menjawab. “Aku dan dia? Hanya teman baru saja. Tidak ada yang lain.”
Shane mengerem mendadak. “Tidak mungkin! Kamu pasti bohong dan cuma beralibi buat menutup-nutupi hubungan kalian! Kalau tidak, mana mungkin seorang teman baru pegang-pegang tangan seperti tadi?!”