
Sejak saat itu, hari-hari berikutnya dijalani Flora dengan murung dan sedih. Tuduhan tak berdasar sang suami kepadanya membuat dirinya bingung harus bersikap bagaimana. Sebab, Shane terus curiga dan tidak percaya kepadanya.
Berkali-kali Flora menjelaskan hubungan antara dirinya dengan Adrian kepada Shane. Berkali-kali pula dia menegaskan kalau mereka berdua hanyalah teman baru yang kebetulan sekelas. Lalu, karena masih baru, Adrian ketinggalan banyak materi dan perlu bantuan darinya.
Akan tetapi, semua itu nyatanya malah membuat Shane semakin kesal dan marah pada Flora. Dia seolah hilang kepercayaan terhadap sang istri dan terus menuduhnya tanpa bisa menerima sedikit pun penjelasan darinya.
Situasi di antara Flora dan Shane menjadi semakin tegang nan memanas setiap harinya.
Bahkan, asisten rumah tangga di rumah mereka turut menanyakan hal ini kepada Flora. Bagaimanapun juga, pertengkaran dan perang dingin pasangan ini benar-benar mengejutkan mereka semua.
“Tidak ada apa-apa kok. Bukankah pertengkaran kecil juga bagian dari pernikahan? Apalagi masalah salah paham,” ujar Flora menjawab salah satu asisten rumah tangganya dengan senyuman hangat.
Namun, tatapan dan sinar di kedua bola mata Flora tidak bisa membohongi sang asisten rumah tangga tersebut. Jadilah setelah Flora pergi lagi ke kamarnya, dia menghela nafas.
“Huft! Ini pasti bukan pertengkaran kecil biasa! Semoga Tuan Muda dan Nona Flora bisa akur kembali secepat mungkin. Sangat tidak nyaman melihat mereka yang biasanya begitu romantis dan hangat menjadi renggang dan dingin seperti ini.”
Sementara itu, Flora yang sudah beberapa hari ini juga menangis diam-diam setiap kali sholat hingga kedua matanya memiliki kantung cukup tebal itu kini duduk dengan lesu di sofa kamarnya.
Dengan menghela nafas cukup berat, Flora mengambil ponsel yang ada di sampingnya dan mengamati layarnya yang sudah dinyalakan dengan tatapan lekat-lekat.
“Sudah sore begini, tapi Mas Shane juga belum kasih kabar ke aku. Dia bakalan pulang jam berapa? Apa sekarang, dia sampai enggan buat kasih kabar ke istrinya? Sampai segitunya kah Mas Shane ke aku?”
Hati Flora gundah gulana. Dia mencoba untuk terus berpikir positif sambil mengecek ponsel dan layar chat antara dirinya dengan Shane berulang kali secara berkala.
Namun, sampai setengah jam kemudian ketika waktu Magrib hampir tiba pun, Shane tetap tidak memberi kabar kepada Flora barang satu pesan pun. Hal ini jelas membuat Flora menjadi agak putus asa.
“Apa aku coba telfon aja, ya?”
__ADS_1
Baru saja Flora berpikir demikian, tiba-tiba saja sebuah pikiran terbersit muncul dalam kepalanya.
“Bagaimana kalau ternyata Mas Shane lagi meeting sama klien penting dan nggak bisa menerima telfon? Atau bahkan dia sedang banyak kerjaan dan urusan yang penting tanpa bisa ditinggal buat pegang handphone? Apa nantinya, aku nggak ganggu dia?”
Flora menyerah.
Dia lebih khawatir kalau telfon darinya malah merusak acara atau kegiatan suaminya di kantor. Dia tentu tidak mau kalau sampai masalah yang belum kelar ini masih harus ditambahi dengan masalah baru gara-gara dia menelepon Shane di waktu yang salah.
“Tapi, aku juga nggak bisa tenang kalau cuma berdiam diri begini.”
Flora berdiri dan menatap lurus tembok di seberangnya selama beberapa detik sebelum akhirnya mengutak-atik kembali ponselnya dengan raut wajah serius.
Dan apa yang dilakukannya tidak lain tidak bukan adalah mengirim teks pesan kepada Shane, sang suami.
Di sana, dia menanyakan apakah Shane masih sibuk atau tidak. Apakah dia akan lembur atau tidak. Kapan dia pulang dan mau dibuatkan masakan apa sebagai menu makan malam. Tak lupa, dia menyelipkan juga sebuah permintaan maaf kalau pesan teksnya mengganggu waktu Shane di kantor.
Flora mendesah lega. Begitu pesannya terkirim dan tersampaikan pada Shane walaupun belum dibuka ataupun dibaca, tapi Flora sudah lega karena dia tahu bahwa Shane masih online.
Bertepatan dengan itu, adzan Magrib akhirnya berkumandang. Dengan tenang, Flora meletakkan ponselnya sambil menaruh sedikit harapan supaya saat dia kembali untuk mengeceknya, Shane akan membalas pesannya.
“Lebih baik aku sholat dulu. Bagaimanapun juga, hanya dengan mengingat dan mengadu pada Allah, hatiku menjadi tenang dan semua masalahku dilapangkan.”
Setelah itu, Flora menunaikan sholat Magrib-nya sendirian.
Sedangkan tanpa dia tahu, di sisi lain tepatnya di kantor Shane bekerja, Shane kini justru sedang duduk berseberangan dengan sosok wanita berparas cantik berpenampilan seksi dan menggoda.
Tak ketinggalan make up glamor yang diaplikasikan di wajahnya. Terutama lipstik merah menyala di bibirnya yang sensual. Secara keseluruhan, penampilannya ini benar-benar bisa dengan mudah membuat laki-laki mana pun tergoda.
__ADS_1
Dan dia di sini, memang datang untuk menggoda Shane!
“Aku pada awalnya bertanya-tanya, kenapa kau tidak pulang setelah jam pulang tiba, Shane. Namun, setelah aku melihat bagaimana suramnya wajahmu itu, aku tahu kau pasti enggan pulang karena kau bertengkar dengan istrimu itu, Flora. Benar bukan?”
Shane yang masih duduk di kursinya dengan tangan memijat pelipisnya yang berdenyut sakit, kini mendelik ke arah Rikha dengan tatapan rumit.
“Tidak peduli apa pun alasanku, itu bukan urusanmu. Lagian, ini adalah kantorku sendiri. Memangnya apa hakmu bertanya seperti itu? Dan alih-alih kau, seharusnya akulah yang bertanya apa urusanmu di sini? Kenapa tidak pulang?!”
Rikha menyunggingkan senyuman miring. Dengan helaan nafas pendek, dia lantas berdiri dari posisi duduknya dan membenarkan sedikit roknya yang agak terangkat karena tampak begitu ketat dan sesak.
“Yahh, memangnya apa alasanku pulang cepat? Tidak ada siapa pun di rumah. Dan aku juga bebas, tidak ada yang menunggu tidak ada yang ditunggu. Karena bagaimanapun juga, yang aku tunggu ada di sini. Jadi kenapa aku harus pulang?”
Mendengar jawaban Rikha, Shane hanya mendengus pelan. Kepalanya masih panas, berikut juga hatinya yang masih terus tersulut akan api cemburu karena kedekatan Adrian dan Flora sang istri.
Padahal, sudah berhari-hari tapi dia tetap tidak rela dengan hal itu.
Sedangkan Rikha yang memang sengaja datang karena tahu bahwa ada huru-hara pertengkaran antara Flora dengan Shane, kini mengulas senyumnya semakin dalam tatkala melihat ekspresi wajah Shane yang semakin tidak karuan.
“Kau tidak ingin bercerita apa yang sebenarnya terjadi pada kalian berdua kepadaku?”
Mendengar ini, Shane mendongak. Dia mengangkat kepalanya dan menatap sosok Rikha lamat-lamat, sebelum akhirnya menghela nafas pendek.
“Apa yang membuatku harus bercerita denganmu?”
“Siapa tahu kau butuh seseorang yang bisa mendengarkan ceritamu dari sudut pandang yang berbeda? Bukankah kau juga butuh solusi karena tidak ingin rumah tanggamu terus-menerus begini?” goda Rikha dengan maksud tersembunyi di setiap kata-kata yang terlempar dari mulutnya.
Shane terdiam sejenak, lalu mulai menghembuskan nafas panjang.
__ADS_1
“Kau mau mendengarnya?”