
Esok hari setelah libur tiba, Shane mengajak Flora untuk melepaskan penat yang akhir-akhir ini membuat dirinya juga suntuk.
Terpikir jika hal itu merupakan hari yang baik untuk keduanya melihat pemandangan kota.
"Rasanya baru kemarin ya, Mas aku berada di sini, aku ke sini bersama dengan mu sebagai istri," tutur Flora dengan wajah ceria.
"Sekarang aku malah bersama dengan malaikat kecil yang sudah ada di dalam perutku ini," sambung wanita cantik tersebut yang terus saja membuat suasana menjadi ceria.
"Iya, Sayang. Aku juga merasa seperti itu, bahkan kita serasa baru kenalan dan sekarang......"
Shane melihat perut istrinya yang membuncit, "Ada dia yang membuat ku semakin bersyukur."
Pasangan suami istri itu kini tertawa, dengan lembut pemuda tampan yang akan menyandang gelar sebagai seorang ayah tersebut mengelus lembut perut sang istri.
Hingga akhirnya keduanya pun menikmati pemandangan kota dengan lampu yang menghiasi sekitar tepi jalan.
"Mas dari kemarin aku terpikir bisa melihat taman kota, apakah kali ini aku bisa menikmati pemandangan indah itu pada waktu malam hari?" tanya wanita cantik itu yang seakan meminta jawaban dari suaminya yang ada di sebelahnya.
Sejenak Shane berpikir, lalu dirinya menjawab, "Tentu, aku akan membawamu ke sana, Sayang."
Jawaban yang membuat Flora semakin terlihat bahagia.
Beberapa saat kemudian mereka akhirnya sampai di tempat yang istrinya inginkan.
Netra cantik milik wanita yang memakai hijab instans tersebut menyapu lampu taman yang begitu menarik perhatiannya.
"Mas, lampu iasnya mirip bunga raksasa, indah sekali tempat ini, bagai negeri dongeng yang dihiasi berbagai tumbuhan unik dan juga warna yang membuat semua orang menjadi terpesona," terang Flora dengan senyum manis yang masih terpatri di wajahnya yang semakin cantik.
"Kamu suka?" tanya Shane yang melihat pasangannya tampak ceria.
Flora hanya menjawab dengan anggukan saja, lantas keduanya menapaki jalan setapak dengan berbagai hiasan patung yang berjejer rapi layaknya sebuah tembok besar, hanya saja patung tersebut berbentuk boneka yang seperti princess di televisi.
"Sayang, apa kamu tidak lelah, berjalan-jalan seperti ini?"
Sungguh Shane ingin menggendong istrinya saja agar tidak lelah.
"Tidak, Mas, aku menikmati setiap momen ini bersama kamu, karena mungkin suatu saat nanti aku harus belajaaaar mandiri saat kamu keluar kota jika ada bisnis yang mendadak," terang Flora dengan sedikit lirih.
Shane hanya diam saja, dirinya tidak menjawab atau merusak suasana istrinya hari ini, karena bagaimanapun juga Flora tidak sebenarnya salah, bahkan hampir mendekati benar.
Flora berjalan lagi, namun terlihat agak berbeda dari sebelumnya, mungkin saja hatinya juga merasakan sakit.
"Sayang!"
Shane mendekat dan memeluk pinggang istrinya yang sedikit berisi.
"Ucapanmu memang tidak salah, tetapi bagaimanapun keadaannya, aku tetap mengutamakan kamu, itu janjiku padamu ketika Allah SWT sudah menyatukan kita dalam ikatan pernikahan yang suci dan selamanya ini, jadi jangan pernah berpikir jika aku akan melupakan momen kebersamaan kita seperti ini," terang Shane panjang lebar.
__ADS_1
Flora mengangguk dia tampak berkaca-kaca namun juga bersyukur dengan takdir manis yang sudah tertulis untuk dirinya.
Mereka tampak serasi dan bertukar cerita, hingga suara seseorang memanggil lembut nama Flora.
"Rara! Itu kamu kan?"
Wanita cantik itu melihat ke belakang begitu juga dengan Shane yang sudah meremas tangannya hingga buku jarinya memutih.
"K-kamu?"
Flora bahkan terkejut dengan keadaan yang ada, di samping dirinya ada suami yang setia dengannya, namun di sisi lain ada masa lalu yang pernah memberi kebahagiaan dalam hidupnya.
"Bagaimana kabar kamu Ra, apakah kamu bahagia?" tanya sosok pemuda yang terlihat begitu memesona tersebut, dia memakai tuxedo hitam dengan jas yang sengaja dia sampir kan pada lengannya.
"Baik, Mas."
Jelas dan juga singkat, pandangan Flora juga ditundukkan karena takut jika Shane merasa kurang enak hati.
"Kamu semakin cantik saja, lalu di sebelah mu itu siapa?"
"Terima kasih atas pujian mu, tetapi dia istriku, tak pantas jika laki-laki lain yang bukan mahramnya memuji kecantikan istri orang lain," tegas Shane yang mulai kurang suka dengan kehadiran seseorang yang merupakan masa lalu istrinya.
Pemuda yang merupakan suami sah Flora itu memeluk pinggang ramping istrinya dan memberinya sebuah kekuatan.
"Posesif sekali," cibir masa lalu Flora dengan nada remeh.
Kini Flora yang menjawab tanpa melihat lawan bicaranya.
"Mas, kita pulang sekarang ya, sudah larut malam juga," ajak wanita cantik yang mulai tidak suka dengan kehadiran sosok masa lalunya secara tiba-tiba.
"Iya, ayo!"
"Tunggu! Aku masih ingin berbicara padamu Rara!"
"Maaf, tapi aku tidak bisa, suami ku bisa terluka jika aku bicara dengan laki-laki lain."
"Tapi aku merindukan kamu, Ra."
Flora tidak menjawab, dirinya segera menarik tangan suaminya dan meminta pulang.
Tanpa basa basi lagi, Shane segera menggendong Flora yang mulai menyembunyikan wajahnya di dada bidang miliknya, pemuda yang tadi masih saja keukeuh ingin berbicara dengan Flora.
"Rara dengar penjelasan dari ku, Ra," mohon nya dengan menghentikan gerakan langkah kaki Shane.
"Minggir lah dan jangan menggangu kami," tegas Shane pada pemuda yang belum rela jika Flora sudah menikah.
"Tapi aku...."
__ADS_1
"Cukup, Mas pergi lah, jangan lagi ganggu kehidupan ku yang sekarang. Kita tidak ditakdirkan bersama, sadarlah dan carilah perempuan lain yang lebih baik dan mengerti akan dirimu."
Pemuda itu berdiri kaku, kekasihnya yang dulu memang sudah berubah, bahkan statusnya pun tidak lagi sendiri. Ada sesal yang membuat dirinya begitu menyesal tetapi tidak bisa mengubah keadaan.
Shane mulai menurunkan Flora dari gendongannya.
"Aku berat ya, Mas!" seru Flora saat suaminya menurunkan dirinya di sisi mobil.
"Respon ibu hamil itu bikin gemes ya, kadang kaya kucing kadang juga mirip singa," sahut Shane dengan senyuman yang lebar.
"Mas, ih."
"Kalau mau digendong lagi, nanti di mansion kita saja sayang, ini kalau kita mau pulang, bagaimana bisa jalan mobilnya, kalau kamu minta gendong," ucap Shane dengan tertawa.
"Ah, iya juga, Mas, kenapa aku loading lama seperti ini," jawab Flora dengan nada kesal.
"Lucu banget istri ku ini kalau lagi kesal. Ya sudah lekas masuk dan istirahat, Sayang. Angin malam mulai begitu dingin."
Wanita cantik itu mengangguk, dia masuk ke dalam mobil dan kendaraan roda empat tersebut mulai melaju meninggalkan parkiran taman kota.
Tempat di mana seseorang masih mematung melihat masa lalunya pergi dengan bahagia bersama pemuda lain.
"Aku tidak banyak berharap, Ra, aku cuma ingin melihat kamu bahagia, dan itu aku sudah menemukan jawabannya."
Detik berikutnya ponsel pemuda itu berdering. Ada rasa pasrah yang mengharuskan dirinya melepas Flora.
***
Setelah kepercayaan mereka semakin erat, akhirnya keduanya kini berbagai, sembilan bulan sudah Flora mengandung, hari ini Shane menunggu malaikat kecilnya lahir. Sejak pagi tadi dirinya mondar-mandir di depan pintu, menunggu istrinya yang berjuang dengan didampingi oleh ibunya.
"Jangan cemas, Nak tetap berdoa. Semoga persalinan istrimu lancar," terang pria paruh baya itu memberikan semangat kepada menantunya.
Ya, semua orang berkumpul, menunggu detik-detik persalinan Flora.
Hingga detik kemudian suara lantang tangisan bayi, membuat Shane sujud syukur. Dirinya menunggu ibu mertua yang keluar dari sana untuk menemui istri serta anaknya.
Pintu ruangan pun dibuka, wanita paruh baya itu mempersilahkan Shane untuk masuk, ibu mertua Shane ingin cucunya segera diadzankan lebih dulu.
"Masuklah, Nak putriku sejak tadi mencarimu," tutur wanita paruh baya itu dengan lembut.
Shane masuk, disambut senyum hangat dari istrinya.
"Terima kasih sayang, kamu sudah berjuang hingga sekarang."
Tidak lupa pemuda itu mengecup lembut kening istrinya dan menggendong bayi kecil dengan sangat hati-hati lalu segera mengumandangkan adzan dan iqomah pada bayinya.
Keluarga kecil itu tampak bahagia dan keduanya selalu mengurus anak mereka dengan kasih sayang.
__ADS_1
The End