
"Tuan, Den Shane sudah ada diluar bersama istrinya," ujar wanita paruh baya yang merupakan kepala ART kediaman Andrawijaya.
"Buatkan mereka camilan, aku akan menemui mereka."
Di ruang tamu, Shane dan Flora tampak diam, tangan gadis cantik berhijab itu mulai dingin.
"Apa kamu mau kita pulang saja?" tawar Shane yang merasakan telapak tangan istrinya mulai dingin.
"Tidak, aku tidak apa kok," sahut Flora sambil tersenyum kepada suaminya.
Tak lama kemudian, tiga cangkir teh hangat tersedia di meja makan, begitu juga dengan makanan ringan berupa kue kering buatan sendiri.
"Silahkan diminum tehnya, Non, Aden," ujar wanita paruh baya yang kini menyiapkan kue kering di dalam toples.
"Kuenya juga dicicipi Non."
Asisten rumah tangga itu berlalu meninggalkan Shane dan Flora dalam pikiran masing-masing.
Tak lama kemudian, pria paruh baya yang turun dari lantai atas mendekati keduanya.
"Kalian berdua sudah lama?" tanya ramah pria paruh baya itu pada pasangan suami istri.
"Kami baru saja sampai, Pak," sahut Flora dengan sopan, sedangkan Shane hanya diam.
"Minumlah dulu selagi hangat," pinta Andrawijaya pada dua anak muda di depannya.
Flora mengangguk dan mengambil minumnya, selesai minum dia menyenggol lembut tubuh suaminya agar tidak tampak canggung, meskipun Shane malas, namun dia tetap mengikuti apa yang Flora minta.
Pria paruh baya itu tersenyum kecil, dia mendapat hiburan malam itu dari seorang gadis cantik yang merupakan istri dari putranya.
"Ayah ingin tahu, apa kalian melalukan kesalahan hingga menikah tanpa restu dariku?" selidik pria paruh baya pada dua anak muda di depannya.
"Iya," sahut Flora dengan nada lirih.
"Tidak," jawab Shane tegas.
Keduanya menjawab dengan jawabam yang berbeda dan membuat pria paruh baya itu terlihat menahan tawa.
__ADS_1
"Yang benar iya apa tidak?" tegas Andrawijaya pada putranya.
"Aku bahkan tidak melakukan apapun yang bisa mencoreng nama baik Ayah," terang Shane dengan nada kesal.
"Lantas kenapa kalian bisa menikah, jika tidak ada sesuatu yang terjadi?" cecar pria paruh baya itu pada putranya yang hanya diam dengan tatapan dingin.
Flora angkat bicara saat suaminya hanya diam membisu bagai arca.
Gadis berhijab itu menjelaskan apa yang terjadi diantara mereka berdua, bukan marah, pria paruh baya yang merupakan salah satu jutawan ternama itu malah terpingkal-pingkal mendengar penuturan dari menantunya.
"Kalian menikah hanya karena fitnah tetangga saja, tapi ada hikmahnya dibalik semua kejadian ini," ujar pria paruh baya tersebut dengan tatapan tajam.
Flora hanya diam dan tetap dalam rasa sopan, meskipun suaminya masih sedingin es Gunung Everest.
"Ada hikmahnya tetanggamu menikahkan kalian, aku jadi orang pertama yang mendukung pernikahan kalian, karena dulu Shane selalu salah memilih pasangan yang katanya cinta namun yang terjadi hanya memanfaatkan dia saja," terang Pak Andra dengan wajah lesu.
"Tapi kali ini aku benar-benar salut dan juga berterima kasih pada kamu, Nak, bisa membuat anakku jadi lebih baik dan juga sadar akan kesalahannya, dulu sebelum bertemu kamu, aku harus memaksanya melepaskan semua teman-teman yang kurang baik hanya demi kehidupannya, tetapi......"
Penjelasan dari pria paruh baya itu terputus, dia menghirup napas dalam dan melanjutkan ceritanya.
"Mungkin bagi Shane aku ini adalah ayah yang jahat dan banyak melarang ini dan itu, namun karena dia itu putraku, aku ingin yang terbaik untuk dirinya, tetapi Shane salah persepsi padaku dan hubungan kita akhirnya renggang sampai sekarang."
Pak Andra mengajak dua anaknya makan bersama, kini Flora dan pria paruh baya yang merupakan mertuanya itu sudah begitu akrab.
"Makanlah yang banyak, jangan sungkan," ujar lembut Pak Andra? pada Flora yang menjawab dengan senyum manis.
Selesai makan malam bersama dalam satu meja, Pak Andra mengajak kedua pemuda itu untuk berbincang santai.
"Bagaimana jika kalian menginap dulu di sini," tawar pria paruh baya itu pada Shane dan juga Flora.
"Rara ikut apa kata suami saja, Pak," sahut Flora dengan senyum manis.
"Bagaimana Shane, apa kamu mau jika kalian berdua berasa di rumah ayah ini, atau......"
Pak Andra menghembuskan napas pasrahnya, pasalnya putra satu-satunya itu tidak menjawab atau menyanggah ucapannya.
"Ayah sudah tahu jawab.........."
__ADS_1
Belum selesai pria paruh baya itu berbicara, Shane sudah memotong lebih dulu ucapan orang tuanya.
"Baiklah, kami akan menginap di sini," putus pemuda itu sambil membuang muka.
Meskipun dia dalam keadaan kesal, sebisa mungkin. pemuda itu memberikan contoh untuk istrinya.
Ada rona bahagia yang tercetak di wajah yang mulai menua tersebut.
"Maaf, Pak jika Rara menyela, tapi bolehkah Rara izin untuk melakukan sholat isya lebih dulu, sebelum Rara beranjak untuk tidur karena sudah malam," pinta gadis cantik berhijab itu pada Pak Andra.
"Boleh, Nak, kamu ikuti saja Bibi ART yang sedang ada di dapur," terang pria paruh baya itu pada menantunya.
"Baik, Pak, terima kasih."
Flora beranjak dari tempat duduknya, dia kini mengikuti ucapan dari ayah mertuanya yang memberikan petunjuk pada dirinya.
Kini tinggal Shane dan pria paruh baya itu yang hanya duduk dalam diam.
"Shane!"
Pria paruh baya itu mengumpulkan keberaniannya, meski agak canggung karena sudah lama tidak berbicara pada anak semata wayangnya.
"Hmm."
Pemuda tampan itu hanya berdehem, lalu suasana kembali hening.
"Ayah senang kamu ada di sini, ayah minta maaf jika kamu harus menderita di luar sana karena marah dengan ayah."
Pria paruh baya itu kini melihat manik putranya yang begitu terluka.
"Apa kamu masih memendam amarahmu itu, Nak?" tanya pria paruh baya itu dengan nada sedih, suaranya serak seakan bening kristal yang dia simpan luruh seketika.
Pemuda tampan itu menatap wajah ayahnya, begitu banyak luka yang tersirat di wajah orang tuanya.
"Aku memang kecewa karena sikap Ayah yang selalu mengaturku, tak sedikit juga ucapan Ayah melukai perasaanku ini, memang butuh waktu untuk diriku memaafkan semua kesalahan Ayah, tapi bagaimanapun Ayah tetaplah bagian dari hidupku, Ayah yang sudah membesarkan diriku hingga seperti sekarang ini," jelas Shane membuat pertahanan pria paruh baya itu roboh.
Kata bijak keluar dari bibir putra semata wayangnya setelah beberapa lama tidak bertegur sapa.
__ADS_1
"Maafkan aku juga, Yah, sudah tidak percaya akan nasihat baikmu, aku mengerti kekhawatiranmu selama ini, sekarang aku sadar semua berkat istriku, karena kehadirannya membuatku kembali ke dalam jalan yang lurus dan jalan yang diridhoi oleh Allah SWT," terang Shane pada pria paruh baya di depannya.
Keduanya mulai menghangat dan saling bertukar cerita, namun dua pria yang berbeda usia itu tidak tahu jika ada seseorang yang mengawasi gerakan mereka, lantas senyum manis terukir di sana.