Kekasihku Bad Boy Milyuner

Kekasihku Bad Boy Milyuner
Jurus Mujarab


__ADS_3

Shane menyipitkan matanya, "Kenapa, Sayang?"


"Aku maunya sekarang saja, keluar dari rumah sakit," pungkas Flora dengan mata yang begitu indah, membuat Shane gemas sendiri.


"Tapi, Sayang gak bisa kalau sekarang, 'kan kamu harus banyak istirahat total, kalau pulang bakalan mau ngerjain ini itu hingga masuk kampus lagi," ujar Shane pada istrinya.


"Ayolah, Mas aku ingin pulang," rengek wanita cantik itu pada suaminya.


"Iya, nanti ya, Dokter belum memberi kamu izin untuk pulang, Sayang."


"Mas gak sayang lagi sama aku."


Flora cemberut, membuat Shane salah tingkah dengan semua tingkah istrinya tersebut.


Dengan napas yang pasrah akhirnya dia membujuk wanita cantik itu dengan lembut, "Iya, aku akan bilang pada dokter untuk mengizinkan kamu pulang hari ini, Sayang tapi......"


Flora mengerutkan dahinya.


"Kenapa, Mas?"


Tampak wajah penuh tanda tanya yang sedang Flora pikirkan.


"Aku ingin kamu menurut apa yang aku bilang, gak boleh nakal dan tetap jaga kesehatan, gak boleh masak atau mengerjakan pekerjaan yang berat, lalu....."


Belum selesai Shane bicara, istrinya memotong ucapannya, "Mas mau bikin pidato pembukaan butik ya, banyak banget aturannya, aku gak akan kelelahan, Mas, yakinlah padaku."


Dengan terpaksa Shane mengangguk dia tidak ingin istrinya murung dan stress karena tetap berada di rumah sakit dengan hal yang monoton seperti ini.


"Ya sudah, aku keluar dulu ya, Sayang aku mau izin sama dokter untuk mengizinkan kamu untuk pulang hari ini juga."


Senyum wanita berhijab itu mengembang, terlihat bahagia karena suaminya selalu peka dengan kondisinya.


"Iya, Mas."


Shane meninggalkan ruangan Flora, dia masuk ke dalam ruangan dokter yang sudah akrab dengan dirinya.

__ADS_1


"Siang, Nak Shane ada yang bisa aku bantu?" tanya pria paruh baya itu dengan nada ramah.


"Flora dari tadi merajuk, dia ingin segera pulang secepatnya, apa ada resiko jika saat kami pulang sekarang?" tanya Shane dengan nada lembut.


"Pulang sekarang juga tidak apa, Nak, jika dirasa istrimu sudah merasa baik dan dia tidak terlalu berpikir berat dan bekerja hingga lelah," jelas pria paruh baya itu pada Shane.


"Jadi semisal hari ini pulang tidak ada hal yang ditakutkan 'kan, hanya menjaga pola hidup dan pola makan yang mengandung gizi dan vitamin yang wajib diberikan pada ibu hamil," ujar pemuda tampan itu dengan sedikit berpikir agak ragu.


Pria paruh baya itu tertawa sejenak, "Nak, wanita hamil memang butuh banyak asupan gizi dan vitamin yang tidak sedikit, istrimu sangat beruntung dia tidak mengalami mual dan mampu makan segala jenis makanan tanpa rasa mual, jadi kamu juga tidak terlalu khawatir dengan keadaan pasanganmu, Nak, hanya saja aktivitas yang terlalu berat untuk dirinya dibatasi."


Shane mengangguk paham, dia segera pergi dari ruangan dokter setelah mengucapkan rasa terima kasih kepada pria paruh baya yang selalu membantu dirinya.


Dengan wajah yang begitu gembira, Shane segera menemui istrinya yang ada di ruang perawatan.


"Aku yakin dia pasti suka dengan berita ini," monolog pemuda tampan itu sambil menyusuri lorong rumah sakit, hingga tepat di sebuah pintu, dirinya segera membuka ruangan tersebut dengan harapan bisa mengubah mood istrinya yang selalu buruk akhir-akhir ini.


Tepat saat itu juga wajah Flora tampak merah padam, ketika Shane menatapnya dengan penuh rasa cinta.


"Sayang aku pun......."


Belum selesai ucapan Shane, wanita cantik itu melempar bantal dan menangis seraya mengusir suaminya.


Flora melempar apapun yang ada di dekatnya, tidak peduli jika itu merupakan senjata tajam juga untuk mengupas apel dan buah lainnya.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya lembut Shane yang tidak tahu apapun hingga membuat istrinya marah hingga mengusir dirinya.


Akhirnya pemuda itu keluar dari ruang rawat istrinya, memikirkan apa yang membuat dirinya terusir dari kamar sang istri.


Detik berikutnya, ponsel miliknya berdering dengan nyaring.


"Siapa lagi sih yang mengganggu ku kali ini," monolog pemuda itu sambil melihat nama yang tertera dalam layar ponsel miliknya.


Dengan kesal dia menggeser ikon merah. Shane masih berpikir keras meluluhkan sikap istrinya yang kadang lembut kadang bikin kesal.


Pemuda tampan itu melihat pesan yang baru saja masuk dalam. ponsel miliknya, tertera nama istri tercinta di sana

__ADS_1


[Mas belikan aku rujak manis yang tidak terlalu pedas.]


Tulis Flora dengan tambahan gambar menangis.


Antara gemas dan juga kesal, Shane membalas chat dari istrinya.


"Iya, Sayang akan aku belikan, tunggu dengan manis di kamar dulu ya."


Setelah pesan terkirim, Shane segera menghubungi salah satu pengawal untuk membeli rujak atas permintaan Flora.


["Aku memberikan perintah untukmu membeli beberapa macam rujak yang ada di pinggir jalan,"] tegas Shane pada seorang pengawal yang menjaga dari luar.


"Maaf, Tuan Muda, tapi jenis rujak apa saja yang harus saya beli?" tanya pengawal dengan raut wajah bingung.


["Beberapa macam rujak, contoh rujak buah, rujak cingur, rujak petis, es krim rujak dan tetangganya."]


Seorang pengawal di ujung sana masih merasa bingung, namun dia tidak bisa membantah apa yang diharapkan oleh majikannya tersebut.


Sementara Shane berada di ruang tunggu menunggu pesanan istrinya datang sembari mengecek pekerjaan jika ada yang terselip atau salah.


Atensinya beralih pada foto pernikahan yang terpasang manis di layar ponsel miliknya.


"Karena kamu aku menjadi orang yang berada di jalan yang lurus lagi, Sayang. Sekarang kini giliranku untuk memenuhi semua apa yang kamu inginkan, meskipun itu terasa aneh bagiku," monolog Shane sambil tersenyum bahagia.


Dia masih mengecek file yang dikirimkan Pandu lewat e-mail miliknya, beberapa dari surel itu merupakan surat kerjasama, lalu atensinya melihat salah satu surel yang baginya terasa aneh.


Shane menghubungi Pandu dan menanyakan tentang surat tersebut, namun belum tersambung suara Flora dalam kamar membuat Shane segera masuk dengan wajah panik.


"Mas, tolong!" seru wanita cantik itu dengan suara yang lemah.


"Kamu kenapa, Sayang, apa yang membuatmu se......."


Belum sempat bertanya, sebuah kaca terdengar pecah, membuat Flora berteriak dengan keras.


Dengan segera, Shane menggendong istrinya yang botol infus di tiang penyangga segera dia lepas dan diberikan kepada istrinya.

__ADS_1


'Sial siapa lagi yang membuat keributan seperti ini di luar sana, jika sampai Flora ku kenapa-kenapa akan aku hajar orang tersebut dan tidak akan aku maafkan,' batin Shane yang sudah mulai emosi. Dirinya segera mengamankan istrinya ke tempat yang lebih aman dan juga berlapis tingkat keamanannya, namun dirinya lupa jika ruangan tersebut belum diuji coba dengan baik.


Pilihan terakhir adalah membawa paksa istrinya pulang dengan keadaan yang begitu genting. Dia berdoa di setiap langkahnya sembari menggendong Flora jauh dari rumah sakit.


__ADS_2