Kekasihku Bad Boy Milyuner

Kekasihku Bad Boy Milyuner
Penjelasan Shane


__ADS_3

Di dalam mobil suasana terasa hening dan menegangkan. Shane sesekali melirik ke arah samping kirinya, dimana sang istri kini duduk dengan tenang. Dari sudut matanya, Shane melihat istrinya itu diam memandang ke arah luar jendela kaca mobil.


Sejak keluar dari ruang perawatan Rikha, istrinya itu diam membisu sampai keduanya duduk di dalam mobil mereka dan beranjak pergi meninggalkan rumah sakit tersebut. Shane sangat takut jika istrinya itu masih salah paham tentang hubungannya dengan Rikha.


Apalagi raut wajah Flora yang terlalu datar untuk seseorang yang baru saja mengalami hal-hal seperti itu. Menghentikan mobilnya saat lampu lalu lintas menyala merah, Shane menoleh ke arah sang istri.


"Sayang?" panggil Shane lembut mencoba menarik atensi Flora.


"Hmm."


Hanya gumaman acuh yang menjawab panggilannya. Membuat Shane semakin cemas.


"Sayang … percayalah sama Mas. Mas benar-benar tidak ada hubungan apapun lagi dengan Rikha. Kemarin itu hanya sekedar menolong sebagai seorang kenalan lama," ujar Shane mencoba menjelaskan tentang hubungan diantara dirinya dan Rikha.


Akan tetapi pihak lain masih saja tak acuh terhadap dirinya. Flora mengabaikan semua perkataan Shane tersebut. Dia masih tenggelam di dalam pikirannya sendiri.


Melihat sang istri yang sama sekali tidak bereaksi apapun terhadap penjelasannya, Shane semakin diliputi rasa khawatir. Dia benar-benar khawatir dengan hubungan mereka berdua. Apalagi jika dia teringat yang baru saja terjadi di rumah sakit. Shane takut jika Flora masih salah paham.


"Flora, Sayang …" Shane meraih jemari lentik sang istri lalu menciumnya. Mencoba menyampaikan perasaannya pada sang kekasih hati selembut mungkin.


Merasakan ciuman lembut di punggung tangannya, Flora menoleh dan menatap ke arah jemarinya yang masih digenggam dan diciumi oleh sang suami. Ada sorot kelembutan kedua manik matanya.


Mendongak, Shane tersenyum lembut pada Flora. "Percayalah padaku, Sayang," ucapnya meminta.


Pandangan mata keduanya bertemu. Flora menatap lama ke dalam netra sang suami. Sepersekian detik, tidak ada yang bersuara hingga keheningan khidmat mereka terputus oleh suara klakson yang terdengar tidak sabar. Tersentak kaget, keduanya kembali sadar dari lamunan mereka.

__ADS_1


Rupanya lampu telah berganti warna hijau tanpa mereka berdua sadari. Segera Flora menarik kembali tangannya yang masih digenggam oleh Shane, lalu membuang wajahnya ke arah lain.


Sementara Shane terbatuk kecil untuk menghalau perasaan canggung yang mengambang diantara mereka berdua. Hingga suara klakson itu kembali berbunyi dengan keras. Jelas terlihat bahwa pengendara di sisi lain sudah tidak sabar lagi. Jadi Shane segera melajukan mobilnya kembali menuju ke arah rumah mereka.


Tidak lama kemudian mereka telah tiba di rumah mereka. Tepat setelah mobil berhenti di garasi dan Shane mematikan mesin mobil, Flora bergegas keluar dari dalam mobil tanpa mengatakan apapun. Dia masih enggan untuk berbicara dengan Shane.


"Flora, Sayang … tunggu!"


Shane segera turun dari mobil dan mengejar Flora yang berjalan cepat menuju ke dalam rumah. Berlari kecil, Shane berhasil menyusul sang istri dan meraih lengan kekasih halalnya itu.


"Sayang … dengarkan aku dulu, oke?" pinta Shane dengan wajah memelas. "Please … aku akan menceritakan semuanya padamu. Karena .. tolong beri aku kesempatan," ujar Shane dengan suara mengiba.


Flora menghentikan langkah kakinya. Dia merasa bimbang sekarang. Sebenarnya dia percaya pada suaminya itu. Tetapi rasa cemburu membakar di dalam hati Flora kala mengingat kejadian semalam dan juga perkataan yang dilontarkan oleh Rikha tadi.


Mengambil kesempatan disaat Flora tengah bimbang, Shane menarik tubuh istrinya ke dalam pelukan hangatnya. Menyandarkan dagunya pada bahu sang istri, pria itu memulai penjelasannya.


"Aku dan dia sudah lama selesai sejak dia memilih pergi untuk mengejar karirnya sendiri. Dia yang membuangku dulu, jadi aku tidak akan pernah kembali pada dirinya. Aku berjanji padamu, Sayang," ucap Shane menerangkan semuanya.


Hati Flora yang bimbang, kini sedikit lebih tenang. Namun itu bukan berarti masalahnya selesai. Karena dia masih takut jika apa yang dikatakan Rikha di rumah sakit tadi adalah benar. Flora menggigit bibir bawahnya erat. Merasa terluka di dalam hati.


"Jangan menggigit bibirmu seperti itu. Kau bisa melukai diri sendiri," kata Shane memperingatkan Flora. "Aku tidak ingin melihatmu terluka, Sayang. Itu menyakiti hatiku," lirih Shane mengubur wajahnya di antara tengkuk sang istri.


Flora tersentak kaget merasakan usapan lembut jemari Shane pada bibir bawahnya. Membuat bibirnya sedikit terbuka.


"Jika benar apa yang kau katakan itu … jika dia hanyalah masa lalumu yang sudah berlalu. Tapi kenapa kau berbohong padaku malam itu? Apalagi kaulah yang membawanya ke rumah sakit," cerca Flora dengan sedih.

__ADS_1


Flora membalikkan tubuhnya, kini berhadapan dengan Shane secara langsung. "Bukankah itu berarti kau masih memiliki rasa pada wanita itu?!" tuduh Flora dengan nada mendesak.


"Tidak. Itu semua tidak seperti apa yang Rikha katakan." Shane kembali memeluk tubuh Flora ketakutan. "Aku membawanya ke rumah sakit, karena kebetulan aku ada di sana saat dia kesakitan. Jadi sebagai manusia, aku hanya menolong manusia lainnya. Apalagi kami saling kenal," sahut Shane dengan segera.


Shane memandang wajah sang istri yang terlihat mendung. Tidak ingin melihatnya bersedih, Shane melabuhkan sebuah kecupan lembut di kening sang istri.


"Percayalah, hatiku hanya milikmu seorang sampai kapanpun. Hanya kau satu-satunya wanita yang aku inginkan untuk menemani ku seumur hidupku ini," ucap Shane penuh perasaan.


Mendengar ucapan yang terlihat begitu tulus dari hati sang suami, Flora seketika tersentuh. Bohong jika dia tidak lagi marah. Tetapi baginya cukup dengan kata-kata dan janji Shane padanya saat ini, dia bisa memberikan kesempatan lagi untuk mereka berdua.


"Tolong, Sayang … percayalah padaku. Beri aku kesempatan satu kali lagi dan aku akan membuktikannya padamu di setiap nafas hidupku," ujarnya memandang teduh ke arah wanita cantik yang telah menjadi istri sahnya itu. Wanita yang membuatnya bangkit dari keterpurukan akibat ulah Rikha dulu.


Mendengar janji tulus dari sang suami, akhirnya Flora menerima semuanya. Dia percaya jika itu semua hanya masalalu bagi Shane. Flora akan mencoba percaya pada sang suami demi ikatan pernikahan mereka berdua. Bukankah suatu hubungan tidak akan lepas dari yang namanya masalah? Maka hanya dengan saling percaya, hubungan itu akan bertahan dalam waktu yang lama.


"Hu'um. Baiklah … aku percaya padamu. Sekarang, lepaskan pelukanmu ini karena aku ingin masuk dan membersihkan diri dari keringat dan debu rumah sakit," sahut Flora datar.


Senyum perlahan mekar diwajah tampan Shane saat dia mendengar ucapan Flora. Dia melepaskan pelukannya pada tubuh sang istri setelah sebelumnya melabuhkan kecupan dan ciuman di kening dan bibir mungil istrinya itu.


"Terima kasih, Sayang. Yakinlah bahwa aku tidak akan berkhianat padamu," ujarnya berjanji dengan bahagia.


Melepaskan diri dari kungkungan lengan sang suami, Flora bergegas masuk ke dalam rumah. Dia merasakan wajahnya merona panas akibat rayuan dan kecupan dari suaminya itu.


"Dasar bodoh!" gerutu Flora malu.


Setelah kejadian itu, kini keduanya kembali bersama. Melakukan aktivitas seperti biasanya tanpa ada kecanggungan lagi. Seakan masalah kemarin hanya sekilas mimpi.

__ADS_1


__ADS_2