
Entah harus bagiamana perasaan Flora saat itu, harus bahagia ataukah sebaliknya, melihat gadis yang masih belum ada tanda--tanda untuk sadarkan diri di lantai ruang inap Floraa.
"Bangunlah, jangan sampai aku yang menyeret mu uuntuk keluar dari ruangan ini," gertak Shane yang melihat Rikha tidak juga bangun dari sandiwaranya, pemuda itu sudah tahu saat dokter menggelengkan kepala saat memeriksa keadaanya, tanda bahwa gadis yang tergeletak itu baik-baik saja.
Karena tidak ada respon juga dari teman masa lalunya, pemuda itu menghela napas kasar dan melai turun dari ranjang, yang semua menyuapi istrinya makanan yang sudah dia siapkan tadi pagi saat rapat bersama pemegang saham di perusahaan miliknya.
Shane memegang lengan Rikha dengan kasar, menyeret gadis itu keluar dari kamar Flora.
"Sakit, Shane," protes Rikha saat dirinya sudah mulai membuka kelopak matanya.
"Jangan pernah membuat rumah tanggaku dan istriku kacau karena kehadiranmu di sini, pergilah dengan penyesalanmu waktu itu," usir Shane pada Rikha dengan wajah dingin dan juga datar, tidak ada kelembutan yang gadis itu rasakan pada sosok Shane yang dulu dia kenal sebagai teman yang selalu ada untuk dirinya.
"Berikan aku kesempatan sekali lagi, aku mohon," ujar gadis yang sudah menangis di depan Shane dengan sesenggukan.
"Maaf tidak ada lagi kesempatan kedua untukmu, Rikha, silahkan keluar dari rumah sakit ini," tegas Shane pada gadis yang hanya bisa menatapnya yang sudah menutup pintu ruangan khusus yang dipakai oleh Flora.
Shane yang kembali dari luar dengan tampang datar tadi, merubah wajahnya dengan tatapan lembut dan penuh cinta pada kekasih halalnya.
Flora tidak mau memperkeruh suasana, dia hanya diam saja dan memulai obrolan saat hati suaminyaaaa sudah benar-benar kembali menghangat.
"Nak, kapan kamu bisa pulang?" tanya pria paruh baya itu pada menantunya.
"Rara tidak tahu, Yah, Mas Shane yang tahu kapan Rara akan pulang," sahut Flora yang memang tidak tahu apapun tentang kapan dia bisa pulang.
Atensi pria paruh baya itu kini beralih ke putra satu-satunya tersebut.
"Nak, kapan anak cantikku ini akan pulang?" ulang Pak Andrawijaya pada Shane-anak semata wayangnya tersebut.
"Kata dokter, Flora bisa pulang saat kesehatannya sudah benar-benar pulih," jawab pemuda yang duduk di tepi ranjang istrinya tersebut.
__ADS_1
"Tapi aku sudah pulih," sela gadis berhijab itu pada suami dan juga ayah mertuanya.
"Maaf Nona, kami akan memeriksa kesehatan Anda sekali lagi, "sahut pria paruh baya itu yang masih saja berdiri dengan melihat drama romantis dan juga sadis yang dilakukan oleh anak pemilik rumah sakit.
Flora mengangguk mengerti, sedangkan Shane terus saja mendampingi istri cantiknya tersebut dengan sabar.
Dokter dan perawat masih fokus dengan catatan di tangan perawat, lalu mengangguk seraya tersenyum.
"Anda boleh pulang hari ini, Nona, tetapi Anda harus bisa menjaga pola hidup sehat dan jangan berpikir berat, hal itu bisa membebani kesehatan Anda," terang pria paruh baya yang memakai setelan jas berwarna putih tersebut.
"Baik, dokter, terima kasih."
Dokter dan perawat tersebut keluar dari ruang inap Flora, dengan wajah bahagia, gadis berhijab itu tersenyum dengan manis.
"Alhamdulillah aku boleh pulang, Mas," ujar Flora memberi tahu suaminya yang sudah tahu tentang hal itu kemarin dari dokter.
"Hemm mulai deh," sahut Flora dengan malu, rona pipinya berubah merah.
"Jangan berbisik seperti itu, kalian membuat ayah merasa jadi orang yang sedang kontrak di ruangan ini," keluh pria paruh baya itu sembari tersenyum bahagia melihat anaknya bahagia dengan pilihannya.
Flora dan Shane saling pandang lalu mereka tertawa bersama.
"Maaf, Ayah sengaja," goda Shane yang mendapat tatapan tajam dari orang tuanya.
"Flora, sebaiknya kamu dan Shane tinggal di rumah ayah dulu, agar kami bisa merawat mu jika ada apa-apa?" tawar pria paruh baya itu pada menantunya.
Flora tampak berpikir, lalu pandangannya melihat suami yang hanya berdiri tanpa menjawab ucapan dari ayahnya.
"Mas, bagaimana?" tanya Flora yang meminta keputusan dari suaminya.
__ADS_1
"Kalau aku mungkin ikut apa kata, Ayah, jika aku bekerja nanti kamu ada yang menemani, Ayah ada di rumah sejak saat kita menginap itu, beliau ingin aku menjalankan perusahaan miliknya, dengan dalih dia sudah tua," jelas Shane yang melihat wajah pria paruh baya itu dengan menyindir.
"Dasar anak nakal, malah bongkar rahasia ayahmu sendiri," protes pak Andra pada putranya yang berdiri dengan wajah datar.
Flora hanya terkekeh melihat perdebatan antara dua laki-laki yang begitu sayang dengan dirinya.
Kini Shane sudah selesai membantu mengemas barang istrinya, baju yang mengingatkan kejadian di dalam gudang hingga membuat istrinya mengalami trauma, segera dia buang jauh, agar Flora tidak mengingat hal yang menyakitkan tersebut. Flora yang baru selesai mandi dan sudah berganti baju dalam kamar mandi rumah sakit, kini tampak begitu segar.
"MasyaAllah cantik sekali istri Shane," puji pemuda itu sambil melihat penampilan istrinya yang memakai hijab warna hijau tua dengan baju gamis yang bermotif daun.
"Karena aku wanita, kalau aku laki-laki jelas......."
Flora menjeda ucapannya, memancing lawan bicaranya untuk menjawab.
"Jelas ganteng 'kan ya, seperti halnya aku," jawab Shane dengan rasa percaya dirinya yang tinggi.
Flora menggeleng mantap, "Bukan, Mas. Jika aku laki-laki jelas..... Mas gak bakalan menikahi aku," jawab Flora dengan nada lucu.
Shane tertawa mendengar ucapan garing istrinya, "Kamu mencoba untuk melawak ya, Sayang?" tanya Shane yang sudah selesai mengemasi barang yang akan dia bawa pulang nanti, tinggal menunggu pria paruh baya yang menebus obat untuk anak menantunya.
"Mencoba untuk menghibur mu, Mas, terlihat jelas jika kamu sedang tidak baik, kamu pasti lelah sudah menjagaku beberapa hari ini, dan tidur juga tidak nyenyak seperti biasanya 'kan?" terka Flora yang mendekat pada suaminya, Shane duduk dan menepuk sofa yang tadi dipakai oleh ayahnya untuk mengistirahatkan badannya.
Gadis berhijab itu ikut duduk disamping suaminya.
"Terima kasih, Mas sudah selalu merawat ku, menjagaku, dan tidak pernah bosan untuk membuat ku merasa nyaman berada di dekatmu, sesuai janji mu pada Bapak untuk menggantikan beliau sebagai rumah kedua untuk ku," ucap Flora dengan wajah sembab, dia menangis bahagia sudah mendapatkan suami yang begitu perhatian dan juga penuh kasih sayang kepada dirinya.
Shane membawa Flora ke dalam pelukannya, menenangkan bidadarinya yang sedang menangis bahagia.
"Ini sudah menjadi tanggungjawab ku, Sayang, yang terpenting dari semua ini, yakinlah aku tidak akan bisa untuk menyakiti hatimu, bahkan untuk meninggalkan mu saja tidak ada di dalam daftar hidupku."
__ADS_1