
Ternyata Shane melihat beberapa pasangan memakai baju yang terbuka, menampilkan lekukan tubuh mereka, dan secara terang-terangan mengumbar kemesraan di depan mereka.
Flora memegang tangan Shane lalu berkata, "Aku mau istirahat dulu, Mas, rasanya lelah."
Wanita berhijab yang tadinya riang melihat pantai dan pasir cantik, berbalik arah dengan menuntun suaminya yang terlihat juga kurang suka.
"Kamu gak apa, Sayang?" tanya Shane yang melihat raut wajah istrinya kurang ceria.
"Aku hanya lelah, Mas, kamar kita ada di mana, aku ingin istirahat saja sambil menunggu makan siang datang," dusta Flora yang terus memandang jalanan yang sudah rapi dengan tantan indah dengan rindangnya pohon tabebuya yang sedang mekar.
"Ya sudah kalau begitu, aku yang akan menggandeng tanganmu sekarang, karena aku takut jika istriku bakal hilang karena pesona keindahan pulau merah muda ini," ujar Shane yang mencoba menghibur istri cantiknya.
"Meskipun pemandangan di sini begitu indah, tetapi kamu tetap yang terindah, Mas," goda Flora yang lupa akan kekesalannya tadi.
"Aduh leleh aku, Sayang."
Keduanya tertawa karena godaan dari Flora, lalu melanjutkan perjalanannya menuju kamar mereka nanti.
Hingga sampai di resepsionis, wanita cantik dengan seragam merah bermotif batik tersebut menundukkan tubuhnya karena ada Shane, sang pemilik pulau merah muda.
"Selamat datang lagi, Tuan muda, semoga Anda nyaman dan bahagia berada di pulau merah muda," tutur wanita cantik itu dengan wajah ramah.
Namun Shane memasang tembok yang tinggi karena merasa jika terlalu dekat dengan wanita lain atau merespon mereka, akan ada hati yang terluka, yaitu Flora.
Wajahnya yang dingin dan datar membuat karyawannya hanya diam saja dengan tidak begitu nyaman. Lalu wanita cantik yang merupakan istri sah Shane tersebut mengambil langkah untuk membuat suasana kembali normal.
"Terima kasih, Nona, kalau boleh tahu kamar kami di mana ya?" tanya Flora dengan ramah.
"Kamar kalian berada di dekat taman kaca, Nona, ini kunci kamar kalian."
Wanita muda itu memberikan kunci yang cantik pada Flora.
__ADS_1
"Terima kasih ya, Nona."
Flora segera menggandeng tangan suaminya yang berubah menjadi manusia kulkas jika berhadapan dengan orang lain.
"Ayo, Mas, kita istirahat."
Shane ikut saja saat Flora menggandeng tangannya menjauh dari resepsionis.
"Mas, kenapa mendadak Mas jadi patung es kutub?" tanya Flora sambil menikmati pandangan di rumah apung di tengah laut itu. Jembatan kayu bercat pelangi dan juga kata motivasi di setiap papan menambah hari itu indah.
"Mas keren ya, masih muda bisa berbuat banyak seperti ini, pantes saja waktu masih di desa banyak media yang mempromosikan tempat indah ini secara bergantian, bahkan setiap iklan ada tempat ini."
"Jujur saja, Sayang, aku membuat tempat ini itu terbatas, tidak semua orang bisa menikmati semua ini, karena pulau ini bisa saja jadi tercemar karena ulah manusia yang tidak bisa menjaga pulau ini dari tangan jahil dan perusak nantinya. Akses untuk menginap di satu rumah dan menikmati benefitnya itu hanya untuk orang kelas atas tanpa membawa pakaian dan tas, di sini mereka bisa belanja melalui debit card dan jika bersama dengan pasangan, harus disertai foto copy kartu keluarga atau surat nikah jika bersama dengan pasangan," tutur Shane panjang lebar, menjelaskan semuanya kepada kekasih halalnya itu dengan lembut.
Flora tampak begitu senang mendengar penjelasan suaminya, ternyata pemuda yang dulu sempat asing di matanya itu mempunyai hati yang lembut dan juga baik.
Setelah lama berjalan, keduanya sampai di sebuah kamar yang identik dengan warna biru tersebut.
"Indah dan mewah sekali, Mas kamarnya, padahal tampak dari jauh terlihat mungil loh," ujar Flora dengan nada terpesona.
"Sesuai harga dan juga kenyamanan, Sayang. Gak lucu 'kan kalau biayanya mahal tapi tempatnya gak nyaman dan gak mewah seperti ini, bagiku kualitas dan kenyamanan adalah hal yang penting."
Shane menjelaskan dengan nada tenang, dia berjalan mendahului Flora setelah mengunci pintu dengan baik. Pemuda itu beralih ke sebuah ruangan ruangan yang disekat oleh rak buku dan akuarium LED yang menampilkan gambaran suasana ikan bawah laut dengan detail.
Shane menekan sebuah tombol dan ruangan luas itu berubah menjadi tempat tidur otomatis, ada ranjang yang keluar dari tembok begitu juga dengan almari dan juga meja rias.
"Aku kayak lagi ada di negeri dongeng deh, semua serba ajaib dan baru bagiku, Mas. Terima kasih sudah membawaku ke sini, Mas."
Wajah cantik wanita berhijab itu semakin tampak cantik ketika tersenyum dengan ceria.
Tak berapa lama bel dari pintu mulai berbunyi, menandakan bahwa ada seseorang yang datang ke kamar mereka.
__ADS_1
"Kamu tunggu di sini dulu ya, Sayang, aku akan melihat siapa yang datang."
Flora menjawab dengan anggukan kepala, dia masih mengagumi semua teknologi yang terjadi di depan matanya.
Pemuda itu melihat tamunya dari lubang pintu yang berfungi untuk melihat siapa yang datang sebelum membuka pintu.
Setelah melihat siapa yang datang, Shane membuka pintu dan mengambil troli makanan untuk makan siangnya dan juga Flora.
"Sayang, makanan kita sudah datang, kita makan siang dulu yuk, baru berkeliling lagi menikmati teknologi masa kini dan pemandangan indah pulau merah muda.
Tanpa ada bantahan Flora mengangguk setuju, dia segera mendekati Shane di sebelah troli makanan tadi. Suami tampannya itu menarik sebuah benda dan terwujudlah sebuah meja yang lengkap dengan kursi lipat di bagian tengahnya.
Flora hanya bisa terkesima dengan semua hal yang terlihat begitu ajaib.
Shane menata makanan mereka di meja tersebut dengan sangat rapi, tak lupa juga dia menarik kursi untuk duduk sang istri tercinta.
"Terima kasih, Mas."
"Sama-sama, Sayang."
Keduanya sedang menikmati hidangan yang termasuk lengkap, sayur lauk pauk, nasi, dan juga susu setelah berdoa sebelum makan siang.
Beberapa menit setelah keheningan diantara keduanya, Shane dan Flora kini duduk di kursi santai, Shane menekan tombol dan keluarlah sebuah televisi LED yang seperti bioskop keluar dari sebuah tembok.
"Mas ini rumah ajaib ya semua bisa keluar dari tembok hanya dalam sekali tekan tombol saja?" tanya Flora dengan nada penasaran.
"Bisa dibilang begitu, Sayang, tetapi ini konsepnya kan biar gak terlalu banyak barang yang ada, jika gak diperlukan ada maka bisa di hidden seperti halnya kerja ponsel pintar kita, ada kalanya ada yang bosan dengan satu aplikasi dan dia meng-hide aplikasi tersebut dengan mengumpulkan dalam satu folder 'kan."
Flora mengangguk paham setelah Shane menerangkan bagaimana konsep kamar di pulau merah muda dibuat.
"Aku salut padamu, Mas. lanjutkan jika ingin mengembangkan layar di perusahaan Ayah," dukung Flora dengan semangat.
__ADS_1