Kekasihku Bad Boy Milyuner

Kekasihku Bad Boy Milyuner
Posesif


__ADS_3

Setelah mereka berbincang ringan, Flora dan Shane mengerti akan peran yang akan bertambah nantinya, mereka kini duduk secara berhadapan, saat semua orang sedang memberi mereka tempat untuk berbicara berdua.


"Mas, maafkan aku yang tadi kekanakan, padahal niat kamu baik untuk kesehatan ku dan juga calon dari anak kita," terang Flora pada suaminya yang kini terlihat duduk dengan memandang wajah cantik istrinya.


"Aku juga minta maaf, Sayang, tadi aku hampir hilang kendali karena emosi, sekarang setelah Ayah dan kedua orang tuamu datang, aku baru menyadari jika sikapku salah," terang Shane yang memilih untuk menemani Flora daripada ikut para orang tua istirahat di rumah besar Andriwiaya.


Wanita berhijab itu mengangguk sebagai pertanda dia memaklumi perasaan suaminya.


"Apa kamu masih marah sama aku, Sayang?" tanya pemuda tampan itu dengan nada lirih.


"Tidak, Mas, lagian kita juga masih sama-sama belajar, banyak kesalahan yang kita sendiri kurang tahu 'kan untung saja orang tua kita tidak ikut campur masalah kita, kalau ikut campur akan jadi apa kita nanti."


"Iya, Mas kamu benar."


Detik berikutnya seorang perawat datang mendorong troli makanan untuk istri dari anak pemilik rumah sakit tersebut.


"Maaf Tuan dan Nona, sudah hampir sore, waktunya untuk makan lebih dulu dan meminum obat setelah selesai makan," ujar perawat yang mencuri pandang pada Shane yang tidak hentinya mencuri pandang pada suami Flora tersebut.


"Bu perawat, lagi senggang ya?" ucapan yang bagai pisau saat perawat tersebut kedapatan melihat kagum pada Shane.


"Eh maaf, Nona."


Gadis muda dengan memakai baju dinas serba putih itu segera menaruh makanan dan obat-obatan di atas nakas.


Dia gelagapan saat istri sah Shane itu melihat perawat tersebut dengan tatapan cinta pada suaminya.


"Kalau Anda sudah selesai Anda bisa keluar dari kamar ini, Bu, jaga pandangan Anda agar tidak melihat suami orang lain.'


Shane sedikit terkejut namun dirinya malah tersenyum lebar saat sang istrinya posesif.


" Keluar sekarang, tidak dengar apa yang istriku tadi bilang," imbuh Shane pada perawat muda tersebut dengan nada tegas dan dingin.


"I-iya, Tuan."


Gadis muda itu segera mendorong troli makanan dan keluar dengan wajah takut, namun sebelum dirinya keluar, "Tunggu!" seru Shane sambil melihat sekilas wajah cantik istrinya.


"Jangan pernah membuat istri saya cemburu dengan tatapan memuja Anda Nona, atau kamu mau tidak berkerja lagi sini," ancam Shane yang bagai peluru emas yang menancap pada jantung.


"Baik, Tuan muda.'

__ADS_1


Perawat itu segera menghilang dari balik pintu dan menjauh dari kamar Flora.


"Mas pasti bakal mikir kalau aku sombong, judes, galak, dan over posesif 'kan?" terka Flora saat melihat wajah Shane masih dingin.


Pemuda itu duduk ditepi ranjang dan memeluk dengan rasa sayang pada istrinya.


"Aku malah suka kamu yang seperti ini, Sayang, tandanya kamu itu sayang dan cinta padaku," tutyr Shane dengan nada senang.


Namun belum sempat Flora memeluk suaminya tersebut, wanita cantik yang masih memakai baju yang sama sebelum masuk rumah sakit itu, dirinya mendorong keras tubuh Shane.


"Jangan dekat-dekat, Mas mandi sana!" perintah Flora dengan nada ketus.


"Nanti saja, Sayang, aku mau meluk kamu dulu."


Alasan Shane yang ingin memeluk tubuh istrinya yang terlihat masih rata bagian perutnya.


"Enggak, Mas, sana mandi."


Selesai mandi, pemuda itu berniat menggoda istrinya, namun dirinya malah melihat jika wanita cantik yang selalu membuatnya selalu mengucap kata syukur di tiap sujudnya, sudah tertidur dengan pulas.


Shane mendekati Flora dengan begitu bahagia lalu mengecup lembut kening istrinya.


"Sang Pencipta Maha Adil dia memberikan bidadari yang selalu mengingatkanku untuk tetap bersyukur dan tidak lupa untuk bersholawat sepanjang hari, kamu kado terindah yang pernah aku dapatkan, Sayang," monolog Shane dengan begitu tulus pada Flora.


"Siapa lagi yang sudah menggangguku," keluh pemuda tampan yang kini melihat nama yang tertera di layar ponsel pintar miliknya.


["Ada apa?"]


Ketus dan dingin hal yang kini membuat lawan bicaranya itu malah tertawa.


"Aku sudah menunggu mu untuk bertemu, apa kamu lupa Shane," jawab Nicko dari seberang sana.


["Kamu tidak pernah berubah sama sekali, sering membuat orang lain mengikuti apa yang kamu katakan,"] ucap Shane dengan nada dingin.


"Ini sudah menjadi ciri khas ku, bahkan kamu dan Rikha sudah tahu bagaimana sifatku jika tidak suka pada sesuatu," terang Nicko pada teman lamanya.


["Tidak usah banyak bicara, apa yang ingin kamu sampaikan,"] tegas Shane yang membuat lawan bicaranya tertawa.


"Segera ke kafe yang sudah aku share itu," ucap Nicko pada teman lamanya.

__ADS_1


"Merepotkan saja," monolog Shane pada ponsel yang kini sudah dia matikan sambungan teleponnya.


CEO muda itu melihat sekilas istrinya yang masih tertidur, lalu dengan nada hati-hati berbisik lembut, "Sayang, aku izin keluar dulu ya, aku akan menghubungi orang tua kita untuk menemanimu."


Setelah berbicara seperti itu, pemuda itu segera pergi keluar dari rumah sakit, namun sebelum itu dirinya menghubungi orang tua mereka.


[Yah, aku keluar dulu, di rumah sakit Flora tidak ada yang jaga, aku minta tolong jaga dirinya selama aku tidak ada.]


Sebuah pesan terkirim lewat pesan sosial media yang Shane miliki.


Pemuda itu segera mengendarai mobil miliknya, meminta sopir menunggu Flora di luar ruangan.


Shane memacu kuda besinya dengan kecepatan tinggi. Untung saja saat itu jalanan terlihat lenggang, jadi dengan mudahnya sampai di kafe dengan cepat.


CEO muda itu memarkirkan mobilnya dahulu, baru masuk ke dalam kafe menemui teman lamanya. Seseorang melambaikan tangannya, menandakan jika Shane benar-benar sudah ditunggu di sebuah meja makan.


"Pesanlah makan dan minum dulu, baru kita bicara."


Shane melambaikan tangan pada karyawan restoran untuk memberikan menu. Setelah menu ada di depan matanya, Shane segera memesan makanan dan bertanya pada Nicko.


"Sekarang aku ada di sini, apa yang ingin kamu katakan padaku, Nick! Waktu ku tak banyak."


"Baiklah, aku ingin minta sesuatu padamu," tutur Nicko dengan wajah serius.


"Apa keinginan mu?"


"Aku ingin kamu pisah dengan istrimu, lalu berikan istri mu padaku."


"Jangan gila kamu, aku tidak akan melepaskan istriku untuk mu."


"Sudah aku duga, tidak mudah mendapatkan hati istrimu untuk jadi mainanku," tutyr santai Nicko tanpa rasa bersalah.


"Kalau cuma ingin menjadi teman saja gak masalah, tapi jika ingin memiliki hubungan yang serius, cari pasangan mu sendiri Nick, jangan jadi kebiasaan untuk menjadi perebut istri orang lain, Nick. Hal itu hanya buat karna dan luka nantinya."


Pemuda itu hanya tertawa saat Shane memberikan nasihat untuk dirinya.


"Jangan ikut campur urusanku, Bro, baiknya kamu jaga istrimu sendiri dulu, jangan sampai dia juga bertekuk lutut seperti halnya Rikha dulu."


"Kamu terlalu percaya diri, Nick, tapi jika terjadi sesuatu pada istriku, akan ku pastikan hidupmu tidak akan tenang."

__ADS_1


"Ancaman mu sungguh membuat ku takut, tapi bohong."


Geram, Shane tidak bisa melakukan apapun saat ini, dia memilih untuk keluar dari cafe.


__ADS_2