
Flora sudah berada di kamar khusus yang memang disiapkan atas permintaan Shane, di sana wanita cantik berhijab itu masih merajuk ingin pulang pada suaminya.
"Mas, aku ingin pulang segera, bisakah kita pulang saat ini saja," pinta Flora sambil menggenggam erat tangan suaminya.
"Sayang, dengarkan aku, kamu itu masih sakit, jangan membuat keputusan sendiri seperti ini," sahut pemuda itu dengan lembut, dia meyakinkan istrinya agar menurut dengan apa yang dokter katakan.
"Tapi, Mas aku takut, rasanya pengen mual," jawab Flora dengan nada lirih, wajahnya tertunduk dan mulai menangis.
Shane rasanya ingin frustasi namun dia ingat apa kata dokter saat dirinya berada di ruangan serba putih milik pria paruh baya di depannya. Sebelum dia masuk ke dalam ruangan istrinya dengan wajah yang entah bagaimana.
"Tuan muda, perasaan wanita hamil itu sensitif, sedikit salah bicara bisa membuat dirinya menangis atau terluka, apalagi baru awal-awal seperti ini, jadi Anda harus banyak sabar dan tetap memberikan semangat pada istri Anda, bisa berupa pujian atau sesuatu yang dia butuhkan," terang pria paruh baya di depan Shane.
"Sayang."
Shane menangkup wajah istrinya dengan mensejajarkan tubuhnya yang kini berlutut di lantai.
"Karena aku mencintaimu, Sayang, aku ingin kamu dan juga calon bayi kita tetap sehat, aku tidak akan meninggalkan kamu sendirian di kamar ini," bujuk Shane agar mood Flora kembali membaik.
"Tetapi aku mual, Mas tidak tahan bau obat dan_____."
Wanita cantik yang merupakan istri Shane itu menjeda ucapannya.
"Dan apa?"
Shane bertanya dengan nada lembut.
"Aku takut sama jarum suntik, Mas, meskipun dari kecil aku sering mengonsumsi obat-obatan dan selalu keluar masuk rumah sakit," terang Flora dengan jujur, air matanya tidak lagi terbendung lagi.
"Hanya untuk sementara saja, Sayang, kamu bisa kok, aku yakin kamu adalah wanita kuat yang Allah SWT ciptakan untuk menemani diriku yang lemah ini," sahut Shane untuk menghibur istrinya.
Flora mencoba untuk tersenyum karena gombalan dari suaminya, namun nyatanya hal itu tidak berpengaruh sama sekali.
Wanita cantik itu memilih untuk tidur menenangkan hatinya yang kalut.
__ADS_1
"Maaf, Mas aku mau tidur saja."
Flora menarik selimut dan membelakangi Shane, tubuhnya naik turun menahan suara tangisan agar tidak terdengar oleh pasangannya.
Shane hanya bisa melihat tanpa bisa memberikan kekuatan apapun.
Hingga sering. ponsel miliknya membuat Shane beranjak dari tempat nya duduk.
["Iya, aku akan segera ke sana."]
Panggilan tertutup dan Shane melihat tubuh istrinya yang masih sama seperti semula.
Dengan hati-hati pemuda itu duduk di tepi ranjang dan membisikkan sesuatu, "Sayang, aku keluar dulu ya, ada sesuatu yang harus aku selesaikan."
Tanpa jawaban dari Flora, Sang suami mengecup lembut pipi istrinya yang dia pikir sedang pura-pura tidur karena semula tubuhnya bergetar layaknya sedang menahan tangisan.
Pemuda itu beranjak dari ranjang dan keluar untuk memastikan sesuatu, hingga dia berada di parkiran melihat dua orang tua yang sangat dia hormati datang.
Orang tua Flora dan ayahnya segera menuju rumah sakit setelah Shane memberi tahu keadaan Flora yang kini sedang hamil.
"Mari ikut ke kamar, Flora."
Pemuda itu sesekali menghembuskan napas berat, hal itu membuat kedua orang tuanya menghentikan langkah.
"Ada apa, Nak wajahmu begitu kusut, apa yang terjadi pada Flora?" kini ganti ayah mertua yang bertanya.
Shane akhirnya menceritakan semuanya, dia bingung harus bagaimana menghadapi orang yang sensitif.
Wanita paruh baya yang ada di dekatnya mendekat, "Nak, kamu harus sabar dulu, namanya juga orang yang hamil, ini juga pertama kalinya buat kalian, hanya 4 bulan pertama saja kalian seperti ini, ujian orang hamil jadi banyakin sabar ya."
Pemuda itu mengangguk mengerti akan ucapan dari wanita paruh baya yang ada disamping nya tersebut.
"Sekarang jangan sedih lagi, berikan senyum saat kita masuk ke dalam ruangannya nanti."
__ADS_1
Keempat orang tersebut masuk secara bergantian, namun saat semuanya masuk ke dalam kamar mereka tidak mendapati tubuh Flora di sana.
"Nak, Rara mana?" tanya wanita paruh baya tersebut dengan nada khawatir.
"Tadi aku tinggalkan dia di sini, Bu, aku akan mencari dirinya di kamar mandi, mungkin Flora ada di sana," sahut Shane yang kini membuka kamar mandi, namun dia tidak mendapati wanita cantik yang sempat merajuk kepada dirinya.
"Kalian semua jangan panik, aku akan mencari di mana Flora sekarang."
Pemuda tampan itu segera keluar mencari keberadaan istrinya yang belum dia temukan, hingga sosok wanita yang masih memakai pakaian yang sama sebelum masuk rumah sakit duduk di taman tak jauh dari kantin rumah sakit.
Perlahan Shane mendekat dan duduk di sebelah Flora.
"Sayang, kamu kenapa ada di sini, aku hampir bingung mencari di mana kamu pergi, jika perlu sesuatu bilanglah kepadaku, Sayang."
"Aku hanya bingung, Mas, emosiku labil seperti anak remaja," terang Flora yang pandangannya tertuju pada satu titik.
"Karena kita baru mengalami ini, Sayang. Jujur saja aku juga berusaha untuk tetap tidak emosi saat kamu mulai bertingkah yang membuat ku ingin marah____."
"Jadi, Mas gak ikhlas menjagaku begitu?" potong Flora yang mulai mengambek.
"Bukan, aku ingin belajar sabar menghadapi tingkah bidadari yang kadang bikin gemas sendiri saat dia lagi lucu, dan manis," sahut Shane dengan tawa kecilnya.
"Duh, Nak kamu kemana saja, ibu dan Bapak mencari mu kemana-mana, suamimu hampir stress karena kamu tidak ada di dalam kamar tadi," ucap wanita paruh baya tersebut pada putrinya.
"Maaf, Bu aku hanya suntuk ada di dalam kamar, bosen melihat selang infus dan sendiri tanpa sosok teman," ketus Flora yang sengaja menyindir suaminya.
"Bagaimana bisa kamu berpikir jika suami mu meninggalkan kamu sendiri, dia baru saja menghubungi kami dan meminta kami datang untuk menghibur dan menenangkan kamu, Nak," terang Sang ayah pada putrinya.
Wanita cantik itu menunduk, merasa bersalah sudah berpikir aneh kepada suaminya.
"Sekarang, Rara sudah ketemu kita kembali ke kamar ya, tidak baik jika kamu sendiri di sini memikirkan hal yang tidak penting untuk dipikirkan."
Ucapan dari wanita paruh baya yang merupakan orang tuanya itu membuat Flora mengikuti apa yang dia perintahkan.
__ADS_1
"Kalian ini masih muda, kalau masalah kecil seperti ini saja membuat kalian bertengkar dan tidak mau berbicara, apa yang akan terjadi kedepannya, harusnya kalian itu saling mengerti dan memahami posisi masing-masing," nasihat Pak Andriwijaya pada anak menantu dan juga putranya.
"Maaf, Ayah, Rara memang salah, terima kasih untuk selalu mengingatkan Rara," sahut Flora dengan menangis.