
Meskipun berulang kali Nicko memanggil namanya, namun Shane tetap saja berjalan tanpa menunggu selesai makan.
Pemuda tampan itu kini mengemudikan kendaraan miliknya menuju rumah sakit, namun saat ditengah perjalanan seseorang menghubungi dirinya.
Tampak dari raut wajahnya, terlihat begitu bahagia.
["Halo, Sayang apa kamu merindukan ku?"] ucap lembut Shane pada istrinya yang sedang menghubungi dirinya.
"Terlalu percaya diri kamu Mas, salam aku pun tidak kamu balas," sahut Flora dari ujung telepon.
["Ah iya maaf, Sayang. Ya sudah aku jawab sekarang. Wa'alaikumsalam wr.wb."]
"Nah gitu loh, Mas. Sedang di mana kamu sekarang, Mas?" tanya wanita cantik yang ada di ujung telepon.
["Masih di jalan, Sayang, ada apa?"]
"Mas aku ingin sesuatu, tapi agak sulit," tutur Flora dari ujung panggilan.
["Minta apa, Sayang, akan aku penuhi apa yang kamu minta. Bagiku tidak ada sesuatu yang sulit untuk akun kerjakan."]
"Yakin, Mas bisa?" tanya Flora lagi.
["Pasti bisa, apa sih yang tidak bisa buat Shane Andriwijaya."]
"Kalau begitu aku minta buah segar, Mas berbagai jenis ya," pinta Flora pada Shane.
["Itu saja mudah bagiku".]
"Masih ada lagi, Mas," pinta Flora dengan nada lirih.
["Apa lagi, Sayang?"]
"Aku mau nasi uduk, Mas....."
["Ah itu saja mud........"]
"Tapi, Mas yang bikin sendiri di rumah komplit sama lauknya," imbuh Flora dengan nada ceria.
["Ah gitu saja 'kan, aku bisa kok, tunggu aku di sana ya, aku pulang dulu buatin apa yang kamu minta, Sayang."]
"Oke, Mas aku tunggu kamu ya."
__ADS_1
Panggilan pun ditutup, Shane memutar haluan menuju istananya. Beberapa menit kemudian akhirnya pemuda tampan itu sampai di rumah megah miliknya sendiri.
Langkah panjangnya segera menuju dapur, dia segera meminta tolong kepala Asisten Rumah Tangga untuk membantu menyiapkan bumbu dapur yang akan dia gunakan untuk membuat nasi uduk.
"Aden mau apa bahan-bahan untuk buat nasi uduk?" tanya wanita paruh baya yang kini berada tidak jauh dari Shane.
"Aku mau bikin nasi uduk, Bi," sahut Shane yang mulai menggulung baju lengan panjang miliknya untuk mengeksekusi apa yang di minta Flora.
"Sini, Den biar bibi saja," tawar wanita paruh baya itu pada Shane.
"Tidak, Bi ini keinginan istriku yang lagi hamil, kata orang namanya nginem 'kan ya?" ucap pemuda tampan itu yang mulai mencuci beras.
"Bukan nginem, Den tapi nyidam."
"Nah itu, Bi maksud ku tadi."
"Alhamdulillah Nona Muda hamil, saya turut senang, Den."
"Terima kasih, Bi atas do'anya."
"Bibi boleh ikut bantu 'kan Den, bibi mau kasih tahap-tahapan buat nasi uduk, tapi Aden yang buat dengan tangan sendiri, bagaimana," tawar wanita paruh baya itu pada Shane.
"Baik, Bi, terima kasih ya."
Setelah selesai, Shane yang tadi dibantu oleh Kepala Asisten Rumah Tangga, menyiapkan makanan dan minuman dalam kotak bekal untuk dibawa ke rumah sakit nantinya.
Selesai menyiapkan makanan dan jus, Shane segera mandi dan membawa beberapa baju ganti untuk dirinya dan juga untuk Flora. Dirasa sudah segar dan siap kembali menemani istri cantiknya pemuda itu segera membawa makanan ke rumah sakit, ditengah jalan dia juga membeli beberapa buah seperti keinginan Flora.
Tak lama dirinya sampai di rumah sakit, membuat senyum Flora begitu mengembang, apalagi di sana kedua orang tuanya benar-benar menjaga istri cantiknya saat dia keluar tadi.
"Ini, Sayang aku bawakan permintaanmu tadi," ucap Shane sambil memberikan kotak makan dan parcel buah untuk istrinya.
"Terima kasih, Mas."
Flora segera makan dengan begitu lahap, membuat Shane dan kedua orang tua Flora tampak begitu bahagia, pasalnya calon anak dan cucu mereka sama sekali tidak rewel, buktinya napsu makan Flora semakin meningkat dan dia tidak pilih-pilih makanan seperti sebelumnya.
"Kalau begitu kami pulang dulu ya, Sayang," pamit kedua orang tua Flora dengan nada lembut.
"Kenapa kalian tidak tinggal bersama kami saja Pak, Bu," rengek Flora yang kini menghentikan makannya.
"Belum saatnya, Nak, nanti saat kamu sudah lahiran, ibu dan Bapak akan tinggal bersama kamu, kamu sehat-sehat ya jangan kebanyakan mikir yang gak penting," saran wanita paruh baya itu pada Flora.
__ADS_1
"Bu, tolonglah!" seru Flora yang menangis melihat orang tuanya pulang ke kampung.
Shane segera memeluk istrinya dan menenangkannya dengan begitu lembut.
"Sabar, Sayang jangan berpikir berat, ada aku yang akan menjagamu."
Shane membiarkan istrinya menangis dulu, setelah berhenti menangis pemuda itu meyakinkan istrinya dan janji akan membawa kedua orang tuanya nanti setelah istrinya lahiran.
"Teruskan makan kamu, Sayang biar segera pulang dari sini dan kita bisa....."
Shane menjeda ucapannya dia memberikan kode kepada istrinya.
"Jangan aneh-aneh, Mas."
Flora melerai pelukan dengan kasar, bahasanya ketus tidak seperti sebelumnya. Pemuda itu ingat apa pesan dokter yang tadi mengajaknya berbincang santai sebelum akhirnya masuk ke ruang inap istrinya.
"Nak Shane tunggu sebentar," ucap pria paruh baya yang sudah akrab dengan pemuda yang wajahnya tampak dingin jika berada di tempat umum.
"Iya, Dokter ada apa?"
Shane mendekat dan mensejajarkan diri dengan dokter tersebut.
"Saya hanya memberi sedikit saran yang membuat Anda harus bisa menahan emosi saat pasangan Anda sedang hamil. Perasaan wanita saat hamil itu sensitif, sekecil salahmu akan menjadi boomerang buatmu nanti, kalau mau aman ikuti saja apa yang dia mau," jelas pria paruh baya yang memakai jas putih kebesarannya.
"Harus berapa lama aku harus mengalah, Dok, bukan 9 bukan lebih 'kan?" tanya Shane yang ingin tahu banyak tentang wanita hamil.
"Itu wajib menahan emosi hingga 9 bulan agar tidak stress istri kamu, karena bagaimanapun sempurnanya kamu untuk dia, pasti ada saja yang dicari kesalahannya nanti."
Shane menghela napas berat, dirinya takut jika membentak Flora tanpa sadar.
"Shane apa kamu memikirkan ucapan saya?"
"Iya, Dokter, aku dengar.
" Jadi jaga mood istri kamu agar tetap baik dan bahagia."
"Baiklah, Dokter."
Shane sedikit kaget saat Flora menepuk perutnya yang tepat ada di depan kepala istrinya.
"Mas mikir sesuatu yang aneh ya?" selidik Flora dengan tatapan tajam.
__ADS_1
"Bukan, Sayang, tadi aku sedang berpikir, bagaimana jika kita jalan-jalan setelah kamu keluar dari rumah sakit, misal saja ke villa yang tidak jauh dari kota dengan pemandangan indah yang membuat pikiran menjadi lebih tenang dan juga segar," kolah Shane yang membuat Flora sedikit berpikir.
"Aku gak setuju, Mas...."