
Shane tersenyum smirk saat dirinya kini melihat bagaimana liciknya teman masa lalunya tersebut, dia membuat sebuah jebakan untuk Rikha setelah selesai dari kantor, bukti kejahatan yang dia lakukan sudah tertata rapi sebagai barang bukti, tinggal eksekusi wanita yang pernah dia cintai itu.
Shane duduk dengan gayanya yang begitu wibawa, dia menggenggam bolpoin dan memainkannya dengan wajah datar.
Tidak lama kemudian sebuah notif muncul dari layar, pesan itu dari Rikha, wanita yang sok baik di depan Shane namun hatinya tidak sebaik sarannya untuk memperbaiki hubungan dengan Flora-istrunya.
[Shane, nanti malam aku ajak kamu makan malam ya, mumpung aku free hari ini, tidak ada jadwal untuk syuting atau pemotretan.]
Pesan singkat Rikha membuat pemuda yang menjabat sebagai direktur utama di perusahaan terbesar di kota metropolitan tersebut tersenyum miring.
"Jika bukan karena hasutan mu, mungkin aku bisa berbaikan dengan Flora dengan mudah, namun aku terlalu naif dan lebih. percaya ucapan orang lain daripada istriku sendiri," monolog Shane dengan rasa menyesal yang ada di dalam dadanya. Sudah beberapa hari dia mengabaikan Flora, bahkan untuk membalas pesannya saja rasanya enggan.
"Ya Allah, maafkan hamba-Mu ini yang kurang bersyukur dengan apa yang sudah Engkau berikan, istri yang sholehah dan juga jujur malah aku buat sedih," sesal Shane dengan apa yang terjadi.
Shane masih belum membalas pesan dari Rikha, wanita itu mengirimkan pesan lain.
[Shane apa kamu keberatan dengan ajakanku? Atau kamu sedang lembur di kantor? Aku ke kantormu sekarang ya.]
Pesan lain masuk dan membuat pemuda itu kesal. Dengan wajah datarnya dia membalas pesan dari Rikha.
"Aku akan menemani mu makan malam, Rikha, tentukan saja di mana tempanya, aku akan ke sana sepulang dari kerja."
Pesan itu terkirim, langsung dibalas dengan sebuah emoticon hati dan cium dari Rikha.
Napas panjang dan juga berat dari Shane menandakan bahwa dia harus mengakhiri semuanya hari itu juga.
Notif muncul kembali, kini Rikha mengirim sebuah alamat yang akan mereka gunakan untuk makan malam.
Shane hanya membaca tanpa mau membalas, dirinya meletakkan ponsel pintar di samping laptop. Ketika pemuda itu hendak mengetik sesuatu, sebuah notif dari seseorang yang dia pekerjakan mulai membanjiri ponsel miliknya.
Dengan dahi yang berkerut, Shane membaca satu per satu informasi yang dia dapatkan dari mata-mata yang dia tugaskan.
Tangannya mulai mengepal dan pandangannya mulai dipenuhi oleh kilat amarah.
"Berani sekali kamu membuatku merasa dibohongi."
Dengan amarah yang masih ada dirinya segera menelpon seseorang yang sudah memberikan Shane banyak informasi.
["Bawa orang yang kamu ketahui sebagi kekasih Rikha, aku akan mengatur sebuah kejutan untuk keduanya."]
Shane berkutat lagi dengan pekerjaan yang menumpuk karena tidak ada mood untuk mengerjakan pekerjaan karena hubungan dirinya dengan sang istri yang dingin. Hingga jam menunjukkan pukul tujuh malam.
Pemuda itu bergegas keluar dari kantor untuk menemui Rikha sesuai dengan janjinya tadi.
Namun Shane merubah rencana wanita yang sudah terkenal dengan sinetron yang dia bintangi tersebut. Wanita yang menjadi publik figur itu memakai pakaian seksi yang menampilkan bagian atasnya yang sedikit terbuka.
'Ck kamu kalau mau obral jangan sama aku Rikha, kamu salah lawan,' batin Shane dengan senyumannya.
Rikha yang merasa percaya diri, karena pemuda tampan yang ada di degannya itu menampilkan senyum manis kepadanya, wanita cantik itu mengira jika Shane sudah terpesona dengan sesuatu yang dia tonjolkan.
"Padahal aku tadi sudah memesan tempat romantis di cafe yang tidak jauh dari apartemen milikku, Shane, kenapa kamu malah meminta aku membatalkan makan malam kita di sana dan kita berada di hotel bintang lima yang terkenal dengan view malam yang begitu indah ini," protes Rikha dengan nada manjanya, bibirnya menolak tetapi hatinya bersorak riang, dia mengira jika usahanya tidak sia-sia, memisahkan Flora dari Shane dan mengadu domba mereka.
"Maaf, Rikha tapi aku ingin kamu menikmati pemandangan malam ini denganku, sebagai sesuatu yang spesial nantinya. Bukankah beberapa hari ini kamu sudah banyak membantuku untuk meluruskan hubunganku dengan Flora?" jelas Shane yang sebenrnya punya rencana lain.
__ADS_1
"Itu tidak masalah, bukankah kita teman, dan sesama teman harus saling mendukung dan juga saling melengkapi."
Tangan Rikha mulai memegang tangan Shane, wanita itu mulai menggoda pemuda yang merupakan masa lalunya.
"Apa kamu suka tempat ini?" tanya Shane mengalihkan obrolan yang mengarah pada hati.
Rikha mengangguk mantap lalu dirinya kini melihat view malam dari kaca transparan. Di saat wanita itu terpesona akan keindahan malam, Shane sudah memberikan obat bubuk yang nanti akan membuatnya menjadi gila di atas ranjang.
"Rikha, ayo kita makan dulu, bukankah kita di sini untuk makan malam."
"Iya, Shane."
Rikha menurut saja, dia duduk dengan anggun lalu mulai melihat hidangan yang tersedia diatas meja makan.
"Shane ini?"
"Sengaja aku memesan makanan favorit mu waktu dulu, semoga aku tidak salah memilih, karena waktu dulu kamu sering merengek untuk dibelikan makanan ini 'kan."
Rona merah tampak dari wajah Rikha, gadis itu tampak senang dan tidak percaya jika hasil dari mengadu domba Shane dan juga Flora berhasil.
"Aku makan ya?"
Shane hanya mengangguk lalu tersenyum tipis melihat Rikha yang lahap makan makanan yang sudah dia pesankan.
"Kenapa kamu tidak ikut makan?" tanya Rikha yang selesai menelan makanan yang ada di dalam mulutnya.
"Aku ingin terus melihat wajahmu, Rikha, ternyata kecantikanmu tidak pernah berubah, rasanya aku kenyang hanya melihat wajah cantikmu saja."
Kata-kata manis itu berhasil membuat wajah Rikha memerah karena malu, dia senang dipuji, hal yang merupakan kelemahan dari Rikha-wanita yang bekerja sebagai publik figur dengan jam terbang lumayan tinggi.
Perhatian Rikha malah membuat Shane merasa bersalah, bukan pada wanita di depannya, tetapi pada istrinya yang berada di rumah.
"Aku ingin makan yang lain," tutur Shane hingga membuat wajah Rikha tampak bingung.
"Kamu tidak suka dengan makanan yang ada di atas meja?" tanya heran Rikha pada lawan bicaranya itu.
Sebenarnya apa yang dikatakan oleh Rikha merupakan fakta, semenjak menikah dengan Flora, semua masakan sudah pernah dia coba, dan Shane selalu ingin menikmati masakan istrinya tersebut setiap hari, menurut pemuda itu, rasa masakan yang dibuat oleh Flora tidak ada duanya, bahkan rasa makanan hotel bintang lima yang dia rasakan sekarang tidak selezat masakan Flora.
Dengan lirih dan senyum nakal Shane membuat Rikha paham maksud dari lawan bicaranya, namun segera dia tutupi karena merasa malu.
"Aku ingin memakan mu."
Benar saja ucapan Shane membuat Rikha merasa tersengat listrik, tibuhnya mulai merespon apa yang dikatakan oleh pemuda di depannya.
"S-Shane a-aku sudah tidak tahan lagi."
Rikha menjatuhkan alat makannya lalu merasa kepanasan.
"Apa kamu sudah siap bertempur malam ini?" kelingan nakal Shane membuat Rikha menggila.
"Ayo kita tuntaskan segera, Shane," goda Rikha yang rasanya sungguh gerah.
Tanpa basa basi lagi, Shane membawa Flora ke dalam sebuah kamar hotel, dia memang sudah memesan kamar untuk Rikha nanti. Di bawah tubuh Shane Rikha mulai menggila.
__ADS_1
"Apa kamu masih mengenaliku Rikha?" tanya Shane dengan wajah menggida bagi Rikha.
***
Badan Rikha rasanya remuk redam, bagian intinya terasa nyeri dan juga ngilu.
Dirinya mulai mengingat olah raga panas semalam, dari kamar mandi terdengar gemericik air, wajah cantik wanita itu tersenyum senang, membayangkan jika Shane yang keluar dari kamar mandi dan melemparkan senyum tampannya, namun saat pintu terbuka, bukan Shane yang berada di depannya, melainkan calon suaminya yang sangat dirinya benci.
Teriakan pagi dari Rikha membuat senyum Shane mengembang, rencananya berhasil meskipun itu terlihat begitu sadis untuk masa lalunya.
Shane yang sudah rapi kembali ke kantor dengan wajah dinginnya, seakan wajah ramah dan hangat itu sirna selama beberapa hari.
Pemuda itu kembali mengingat sesuatu yang hampir membuatnya lepas kendali. Di dalam kamar hotel, Rikha sudah memainkan dada bidang miliknya, lalu dengan nada manja dan menggoda dia mulai memperlihatkan lekukan tubuhnya, Shane segera menyelamatkan diri, dan untung saya Herdi datang tepat waktu, pemuda yang tampak garang dengan umur tua itu segera menggantikan posisi Shane dan berolahraga malam dengan Rikha.
Kini Shane duduk dengan pikiran berat, ingin rasanya kursus dengan seseorang yang berpengalaman di bidang marahnya seorang istri. Tidak lama kemudian salah satu karyawannya masuk dan memberikan dokumen untuknya.
"Tuan Muda, ini beberapa berkas yang harus Anda tanda tangani," ujar lembut wanita cantik dengan menggunakan blazer hitam dan celana panjang tersebut.
"Apa yang kamu bilang tadi?"
Shane tidak fokus dengan pekerjaannya, karena masalah Flora.
"Berkas ini harus Anda tanda tangani, Tuan."
Shane membaca berkas yang dibawakan oleh karyawannya lalu membubuhkan tanda tangan dirinya.
"Terima kasih, Pak saya mau permisi dulu."
Belum sempat karyawannya itu keluar dari ruangannya, wajah datar dan juga dingin itu seperti menusuk lawan bicaranya.
"Apa yang akan kamu lakukan saat kamu dalam kondisi marah pada suami?" tanya Shane tanpa melihat lawan bicaranya.
"Kalau saya menghabiskan makanan atau healing ke makanan sih, Pak," sahut karyawan Shane dengan cepat tanpa berpikir panjang.
"Lalu apa yang membuat kamu harus menyudahi acara bertengkar mu dengan pasangan?"
Shane saat ini sedang mencoba mengumpulkan informasi untuk meluluhkan istrinya.
"Karena agama..."
Kening Shane berkerut.
"Agamaku melarang suami istri diam-diaman selama 3 hari lebih, nanti tidak dapat pahala dari Sang Pencipta."
Shane mengangguk paham.
"Lalu apa yang dilakukan oleh pasanganmu?"
"Dia akan meminta maaf dengan memberikan kejutan kecil untuk ku, Pak. Misal saja perhiasan, bunga, coklat, atau kue yang bisa membuat hati kembali ceria," terangnya dengan nada bahagia.
Sekali lagi, Shane terlihat mengerti dengan apa yang dikatakan oleh karyawannya tadi.
"Baiklah terima kasih, nanti datang ke HRD bilang dapat bonus dari saya, akan saya berikan sedikit bonus karena memberikan saya sebuah solusi untuk masalah saya."
__ADS_1
Meskipun tampak bingung, karyawan tersebut mengangguk dan meninggalkan ruangan Shane, antara harus bersyukur atau harus bagaimana, namun langkah karyawan itu terus menuju ruangannya dan duduk menunggu panggilan dari HRD terkait bonus dadakan yang diterimanya dari direktur utama.