
Flora menikmati bulan madunya di pulau merah muda dengan begitu senang, sesekali dia berswafoto dengan mencuri gambar suaminya dengan diam-diam. Gadis itu juga menikmati alam indah yang masih asri di pulau tersebut. Hari itu adalah hari terakhir mereka berlibur, Shane juga sudah harus masuk ke kantornya, namun sebelum itu mereka menikmati pasir pantai warna merah jambu dengan begitu senang.
Flora duduk di kursi pantai yang sudah disediakan untuk menambah kenyamanan para pengunjung, mereka duduk dengan menatap langit biru.
"Mas, terima kasih sudah mengajakku ke sini untuk menghabiskan waktu bersama," terang Flora yang kini menatap cinta pasangannya.
"Iya sama-sama, Sayang, tapi maaf kita harus pulang hari ini, esok hati aku sudah kembali bekerja," sahut Shane pada Flora yang terlihat merasa tidak enak.
"Tidak apa, Mas, seminggu berlalu di sini sudah membuat ku bahagia, apalagi setiap detik selalu bersama denganmu," terang Flora sambil tersenyum manis, pipinya memanas terlihat seperti tomat matang karena malu memuji suaminya.
Shane juga terlihat bahagia bersama dengan Flora setiap detik, hingga dering ponsel di saku celana pemuda itu membuat keduanya berhenti untuk berbicara.
["Halo,"] sapa Shane dengan nada dingin.
Pemuda itu mengernyitkan wajah dan kini air mukanya tampak geram, terlihat dari buku jarinya yang memutih karena emosi.
["Aku akan segera meluncur."]
Sambungan ponsel terputus, "Sayang, maaf kita tidak bisa melihat matahari terbenam di tepi pantai ini, ada sesuatu yang men_____.
" Aku tahu, Mas, ada hal yang lebih penting 'kan, ya sudah kita pulang sekarang saja, lagian hanya matahari terbenam saja kok," ucap Flora sambil menggandeng tangan suaminya.
"Maaf ya, Sayang sudah merusak acara santai kita, dan terima kasih sudah mau mengerti tentang apa yang sudah terjadi padaku dan pekerjaan ku," tutur Shane lembut sambil menapaki jalan menuju kamar mereka, setelah sampai, Flora dan juga Shane mengganti baju dan segera manuju pesawat pribadi yang menunggu mereka di halaman pulau merah muda.
Dalam perjalanan pulang, Shane tampak mengotak atik benda pipih yang berukuran mini di hadapannya, fokus dengan masalah yang sedang menimpa perusahaan miliknya, Flora yang terabaikan karena suatu pekerjaan memilih untuk tidur daripada dia juga ikut emosi, bagaimanapun juga sosok wanita muda disamping Shane juga ingin mendapatkan perhatian dari pemuda itu.
Beberapa jam berlalu, Shane yang sudah ada di bandara segera meminta sopir untuk melajukan kendaraan mewah roda empat miliknya ke perusahaan keluarganya yang kini dia jalankan.
"Selamat sore, Tuan dan Nyonya Muda."
__ADS_1
Seorang penjaga keamanan menunduk hormat pada Shane dan juga Flora yang berjalan di belakang Shane.
"Sore, Pak," sahut Flora dengan ramah, langkah kakinya tetap menyelaraskan dengan kaki suaminya, namun hal itu tidak mudah untuknya.
Pemuda itu segera masuk ke lift khusus dan Flora ikut bersama dengannya.
Di dalam lift Shane berpesan kepada istri cantiknya tersebut.
"Sayang tetaplah berada disamping ku nanti, jangan pernah berbicara dengan orang asing atau siapapun, tatapanmu harus tegas dan jangan mudah untuk dimanfaatkan orang lain, bila perlu jadilah orang yang dingin dan mahal," pinta Shane pada istri cantiknya tersebut.
"Iya, Mas aku akan menjadi seperti apa yang kamu inginkan," putus Flora sambil menggandeng lengan suaminya dengan mesra.
Ting
Mereka sampai di lantai khusus rapat dewan direksi dan pemegang saham.
"Hai, Bro lama kita tidak berjumpa."
"Kenapa kamu kesini?" tanya ketus Shane pada Nick yang keluar dari ruang rapat.
"Cuma mau melihat teman lama saja," sahut pemuda bule itu pada Shane, pandangannya beralih pada wanita cantik yang menundukkan kepala saat setelah tiba sampai ruang rapat.
"Ini pasti istri kamu ya?"
Tangan Nick hampir menyentuh dagu Flora, dengan cepat Shane menepis tangan Nick dan membuat Flora semakin takut, dia bersembunyi di balik badan suaminya dengan gemetar.
"Jangan pernah menyentuh milikku sedikitpun atau kamu mau kedua tanganmu itu aku patahkan sekarang juga," tegas Shane pada pemuda di depannya tersebut.
"Santai, Bro, hanya bercanda doang sama istri kamu, tapi ngomong-ngomong kamu dapat istri cantik bayar berapa milyar sih, jadi wanita yang_____."
__ADS_1
Pemuda bule itu menyindir Shane, melihat penampilan Flora dari atas ke bawah membuat wanita cantik berhijab tersebut semakin takut dan mengeratkan genggaman tangannya di baju suaminya.
"Jaga bicaramu, Nick, kalau hanya mau menjatuhkan aku, bicaralah sama aku jangan menyangkut istriku, dia bahkan wanita yang baik dan tidak seperti yang kamu pikirkan," bentak Shane membuat Flora menangis, dia tidak pernah melihat suaminya sekasar itu pada orang lain, bahkan saat berada disamping dirinya.
"Kenapa aku tidak percaya dengan apa yang kaku katakan ya, ingin rasanya aku menikmati wanitamu juga," bisik Nick lalu berlalu meninggalkan Shane dan Flora yang ada di depan ruang rapat.
Badan Flora bergetar naik turun, membuat Shane merasa bersalah kepada istrinya tersebut.
"Maaf jika aku tadi bicara kasar, Sayang, aku tidak bermaksud untuk berbicara dengan nada tinggi seperti tadi," terang Shane kepada istrinya.
Shane yang bingung akhirnya meminta asisten pribadinya menghandle rapat yang diadakan secara dadakan tersebut. Seorang pemuda yang lumayan cekatan datang dan membawa berkas Shane untuk presentasi hari itu juga, sedangkan Shane sendiri kini berada di dalam ruang utama, memenangkan tangisan dari istrinya yang takut akan nada tinggi.
"Maaf, Sayang, aku tidak akan mengulangi lagi, maaf tadi emosiku meledak karena tingkah Nicko yang keterlaluan sama kamu," mohon Shane sambil memeluk lembut Flora dan mengusap lembut punggungnya.
"Aku ingin pulang, Mas, aku takut dengan temanmu tadi, dia bahkan tidak segan ingin menyentuhku padahal ada kamu di depanku, aku takut jika kamu akan marah. padaku, Mas," jelas Flora yang masih terisak karena menangis.
"Aku tidak marah padamu, Sayang justru aku yang takut kamu akan terluka dengan nada tinggi ku tadi, maaf jika hari ini kurang menyenangkan untuk mu, Sayang."
Shane mengusap lembut punggung istrinya hingga wanita cantik itu mulai terlelap dalam tidurnya, Shane yang kini masih berada di dalam ruangannya segera menghubungi asisten pribadinya yang saat itu memberitahu jika rapat sudah selesai dengan lancar.
[Kamu bisa ke ruangan ku sekarang.]
Shane mengirimkan pesan pada asisten pribadi yang merangkap jadi sekertaris dadakan setiap kali pemuda itu mendapatkan halangan ketika di dalam kantor.
Tidak berapa lama suara ketukan dari luar ruangan terdengar.
"Pak Shane ini saya Andro," ucap seorang pemuda dari luar ruangan.
"Masuk saja, An."
__ADS_1
Shane memerintahkan teman dekatnya saat di kantor masuk ke dalam ruangannya.
"Ada yang bisa aku bantu, Pak?"