Kekasihku Bad Boy Milyuner

Kekasihku Bad Boy Milyuner
Oh, Kamu!


__ADS_3

Setelah sholat subuh dan juga membersihkan diri, Shane kini duduk di balkon mengerjakan pekerjaan dan mulai menyusun sebuah rencana untuk seseorang yang sudah membahayakan istri cantiknya tersebut. Dia mengotak atik laptop dan mulai membuat rencana yang matang.


Disampingnya ada kopi panas dan beberapa camilan yang sudah disiapkan oleh Flora dengan penuh perhatian.


Dering ponsel membuat pemuda itu tampak menelisik ke segala ruangan. Netra emangnya melihat ponsel sang istri terlihat menyala dan berbunyi tanpa henti.


Pemuda tampan yang merupakan CEO muda yang namanya naik daun tersebut segera melihat ponsel sang istri, dia ingin memberikan benda pipih tersebut pada Flora, namun ponsel tersebut sudah tidak berbunyi lagi.


Ting


Satu pesan masuk ke dalam ponsel Flora dari nomor yang tidak dikenal.


[Hai Flo, bagaimana kabarmu sekarang?]


Shane hanya membaca tanpa ingin membalas chat tersebut.


[Jujur, Flo aku rindu padamu, sudah sangat lama sejak aku meminta kita pisah waktu itu, ternyata hatiku sulit untuk melupakan kamu.]


Lagi pemuda itu tetap membaca meskipun hatinya sedang terbakar dengan hebat.


Shane hanya melihat dan kemudian menyalin nomor baru yang tertera di sana.


Tidak lupa dirinya menghapus panggilan serta chat dari ponsel istrinya, tak lupa dengan sengaja memblokir nomor tersebut.


Shane kembali duduk di kursinya berniat untuk mengerjakan kembali tugasnya namun nihil, fokusnya teralihkan dengan chat nomor baru tersebut, lantas dirinya mulai menyelidiki siapa yang memiliki nomor tersebut, belum dirinya memulai ketukan dari luar membuat pemuda tampan itu melihat siapa yang sedang mengganggu dirinya.


"Mas, ayo kita ke bawah, Ayah sudah menunggu kita untuk makan bersama."


Shane menyerngit bingung, "Ini jam berapa, Sayang?" tanya suami Flora tersebut dengan nada lembut namun tampak bingung.


"Loh, Mas ini sudah hampir jam tujuh pagi loh," sahut wanita cantik dengan senyum indahnya.


"Tapi___."


"Cuaca mulai mendung, Mas kelihatannya akan hujan, makanya terlihat seperti masih seperti subuh tadi," timpal Flora menyadarkan suaminya.


"Oh, begitu ya, pantesan masih terlihat suram," kekeh Shane dengan nada lucu, padahal dia berkata jujur jika hatinya juga sama dengan suasana pagi itu.

__ADS_1


"Gak lucu, Mas. Meskipun hati dan suasana kita kurang baik, bersyukur saja, Allah tidak suka lihat umatnya mengeluh dan rapuh, karena dibalik sesuatu yang sulit pasti ada sebuah kemudahan, jika perkerjaan, Mas dirasa berat, yakin saja, Allah selalu melihat usaha dan doa kita," tegur Flora mengingatkan suaminya yang tadi sempat nge-down akibat pesan dari ponsel istrinya.


"Iya, Sayang, maaf ya."


Flora mengangguk lalu mendekati tubuh suaminya yang masih setia duduk dengan laptop yang menyala.


Wanita cantik itu menggenggam erat tangan suaminya, "Lanjutin nanti saja, Mas kita sarapan pagi dulu, isi tenaga mu agar pekerjaan kamu nanti lekas selesai."


Kali ini Shane memilih untuk mengikuti ucapan dari istrinya, dirinya menutup laptop dan mengikuti langkah kecil sang istri untuk mengajak dirinya sarapan bersama dengan sang Ayah.


"Pagi, Nak-lekas sarapan agar kamu tidak terlambat bekerja," ucap pria paruh baya itu pada Shane, mengingatkan putranya untuk segera duduk manis di kursi yang ada.


Setelah berada di meja makan ketiga orang tersebut segera melahap makanan dengan tenang, tidak ada keributan atau perdebatan sama sekali, hingga ponsel milik Shane yang sempat dia simpan di dalam saku mulai berdering.


Pemuda itu segera meminta izin kepada pria paruh baya dan juga istrinya untuk mengangkat panggilan.


Setelah dirasa aman, dirinya segera mengangkat panggilan tersebut.


["Halo!"]


"Tuan muda kami sudah tahu siapa yang sengaja mencelakai Nona Flora," ujar seseorang dari seberang sana.


Panggilan ditutup oleh pemuda itu, dirinya segera menyelesaikan sarapan pagi agar istri dan ayahnya tidak curiga dengan gerak gerik Shane.


"Aku sudah selesai."


Shane segera minum dan berdoa setelah selesai sarapan.


"Buru-buru banget, Mas apa ada yang penting?" tanya wanita cantik tersebut kepada suaminya.


"Iya, Sayang ada rapat pagi ini, semoga lancar ya, do'akan suamimu ini tetap sehat dan rezekinya lancar," tutur Shane mengecup lembut kening sang istri dan tidak lupa untuk mencium punggung tangan ayahnya.


"Aku berangkat dulu, Assalamu'alaikum."


Shane segera melangkahkan kakinya setelah mendengar ucapan salamnya dijawab oleh dua orang yang sangat berarti dalam kehidupan dirinya.


Di luar rumah, pemuda itu meminta sopir untuk mengantarkan dirinya ke kantor segera.

__ADS_1


"Tolong ya, Pak jalankan mobil ke kantor sekarang juga."


"Baik, Tuan."


Kendaraan roda empat itu segera melaju meninggalkan gerbang mansion mewah milih ayahnya.


Dia tetap tenang meski pikirannya akan melihat siapa yang ingin mencelakai Flora.


Tidak berapa lama Shane sampai di ruangan besar tersebut, di mana seseorang sudah menunggu dirinya dengan cukup tegang.


"Tuan, saya menemukan sebuah bukti tidak jauh dari rumah sakit sebelum kejadian yang menimpa Nona Muda," tutur bodyguard tersebut sambil memberikan flashdisk yang berisi video.


Shane menerima dan mulai memutar video yang berdurasi lumayan lama.


"Siapa dia kenapa aku baru melihatnya?" tanya Shane yang masih melihat laptop tapi menanyakan pertanyaan tersebut pada bodyguardnya.


"Sebelumnya maaf, Tuan, tetapi saya hanya tahu dia adalah mantan Nona Muda yang pernah belajar di Amerika," sahut pemuda tersebut dengan jelas.


"Mantan?"


"Iya, Tuan. Nona Muda pernah menjalin kasih dengan pemuda itu, namun entah kenapa si pria memilih untuk putus dan belajar di luar negeri. Semenjak itu komunikasi mereka terputus, apalagi Nona Muda ganti nomor juga, tetapi____"


"Teruskan," perintah Shane pada bodyguardnya.


"Tetapi tadi dia menghubungi Nona Muda lagi dengan menggunakan nomor yang berbeda, dia bahkan tahu nomor Nona Muda yang baru, Tuan."


Shane mengepalkan tangannya, kali ini dia kecolongan lagi, tetapi pemuda itu tidak ingin gegabah apalagi istrinya sedang hamil dan lebih sensitif.


Pemuda yang merupakan CEO Muda tersebut menghembuskan napas beratnya, dia masih memikirkan cara untuk memberantas benalu dalam rumah tangga nya, meskipun dia tahu jika istrinya akan tetap setia tetapi siapa tahu lawannya yang gencar menggodanya.


"Ya sudah kamu sekarang kembali bekerja saja, panggil Pandu jika dia sudah berangkat berkerja."


"Baik, Tuan."


Bodyguard tersebut segera meninggalkan ruangan Shane, meninggalkan pemuda tampan itu memijit kepalanya yang serasa pusing.


Detik berikutnya ketukan pintu dari luar membuat dirinya memasang wajah biasa saja namun kursi kebesaran yang dia duduki membelakangi pintu.

__ADS_1


"Masuk," ucap Shane dengan nada dinginnya.


Tidak ada lagi suara yang menyapa dirinya saat pintu sudah tertutup lagi, "Jika tidak ada hal yang penting, segera kembali bekerja, jangan membuang waktu yang sangat berharga," ketus Shane lalu memutar kursinya dengan wajah kesal, namun....


__ADS_2