
Flora dan Shane kini menginap di rumah megah milik Pak Andra Wijaya, keduanya kini tidur dengan satu selimut yang sama, dengan Shane menjadikan lengan kokohnya sebagai bantal untuk istri cantiknya.
"Sayang, terima kasih untuk semuanya, kehidupan ku mulai membaik karena adanya kamu di dalam hidup ku," tutur Shane sambil memandang wajah cantik dari istrinya.
"Tidak masalah, bukankah sebagai istri aku juga ikut ambil andil kehidupan mu, Mas."
Suara lembut Flora membuat Shane selalu mengucapkan rasa syukur atas insiden yang sudah terjadi pada mereka.
"Kamu selalu menjadi pemenang dan juga obat pada setiap hati yang rapuh, Sayang."
"Sudah menjadi tugas ku, Mas."
Malam itu mereka mulai ritual suci, menyatukan peluh untuk mencari sebuah kenikmatan dunia.
Shane mencium pucuk kepala istrinya dengan sayang, dipinggirkannya anak rambut yang menutupi dahi Flora.
"Terima kasih sayang, mimpi yang indah ya."
Shane tidur dengan memeluk tubuh Flora yang tertutup oleh selimut, karena terlalu capek, pemuda yang kini selalu bersyukur dengan takdir yang mendadak menikah gadis sholehah membuatnya sadar jika Allah mencintai dirinya.
Sayup-sayup suara adzan membangunkan tidur lelap Shane, dirinya mencari sosok bidadari yang mengubah hidupnya menjadi lebih baik.
"Sayang, kamu di mana?" seru pemuda itu mencari keberadaan istrinya.
Dari luar pintu, Flora membawa nampan kecil dengan kopi dan juga susu yang masih mengepul di sana.
"Kamu dari mana saja, aku mencari mu, Sayang," ujar Shane dengan nada manja.
"Maaf, tadi jam tiga pagi aku sudah membersihkan diri, Mas, setelah itu aku melakukan sholat sunnah dua rakaat, sambil nunggu adzan aku keluar membuatkan kopi untuk kamu dan susu putih untuk ku," terang Flora sambil meletakkan nampan di atas nakas lalu tersenyum lembut.
"Mas, sudah adzan, segera mandi dan kita sholat berjamaah," pinta Flora pada suaminya. Pemuda itu tersenyum lalu beranjak dari ranjang. Dia sudah memakai pakaian dalam saat melihat istri cantiknya tidak ada.
Keduanya kini sudah siap untuk sholat berjamaah di dalam kamar, Flora dan Shane dengan khusuk menjalani kewajibannya. Setelah selesai dengan sholat subuh, kedua pasangan itu kini turun ke bawah, gadis cantik itu berpisah dengan suaminya di ruang makan.
Flora memilih untuk memasak makanan untuk suami dan mertuanya.
__ADS_1
Sementara Shane kini duduk manis menunggu hidangan di mejanya.
"Bagaimana rasanya menikah, Nak?" tanya pria paruh baya itu pada putranya.
"Ternyata nikah itu sangat indah, Yah, cuma saja jika kita benar-benar menemukan orang yang tepat," terang pemuda itu dengan senyum cerianya.
"Maka dari itu, dulu Ayah melarang kamu untuk pacaran sama si Anabul yang pakaiannya seksi dan kurang sopan santun itu," jawab sang ayah dengan nada lirih.
"Sudah, Yah lupakan saja masa lalu itu, kita hidup di dunia sekarang, bukan lagi masa lalu," kesal Shane yang mengerucutkan bibirnya.
"Iya, maaf, tapi di mana istrimu? Kenapa tidak kamu ajak turun?" tanya pria paruh baya itu sambil melihat sekitar dan tidak tampak menantunya.
"Dia ada di dapur, Yah, katanya mau masak makanan untuk kita," sahut Shane dengan tenang.
"Kenapa kamu suruh dia masak, Nak, bukankah di sini banyak ART yang mau memasak untuk kita," omel pria paruh baya itu pada anaknya.
"Maaf, Pak menyela, Rara hanya ingin mendapat pahala dan doa dari suami saja," ujar wanita cantik dengan hijab yang menambah keanggunan dirinya.
"Kalau kamu lelah bagaimana, Nak? Kamu itu tamu ayah," jawab pria paruh baya itu pada menantunya.
"Ayah tidak marah sama kamu, Nak, hanya saja ayah ingin...."
Belum selesai ucapan pria paruh baya itu kini Shane melihat raut wajah istrinya yang sedih.
"Maaf, Nak, ayah tidak bermaksud...."
"Tidak apa, Pak, Rara paham maksud Bapak, untuk kebaikan Rara juga 'kan, tetapi Rara sering membantu Ibu saat di desa, jadi Rara ingin menyesuaikan diri dulu, Pak."
Pria paruh baya itu manggut-manggut paham, selesai perdebatan kecil itu, mereka melahap sarapan pagi dan bersiap untuk beraktifitas pada kegiatan masing-masing.
"Ayah mau ke kantor dulu, kamu Shane nanti setelah selesai kuliah mampirlah ke kantor ayah, ada sesuatu yang ingin ayah bicarakan padamu," tutur pria paruh baya itu dengan tegas.
"Iya, Yah."
Mereka mulai mengendarai mobil pribadi masing-masing, pria paruh baya itu mulai mengendarai mobilnya ke perusahaan miliknya.
__ADS_1
Sedangkan Shane dan Flora melajukan kendaraannya pada rumah besar nan megah yang Shane bangun dengan hasilnya sendiri.
"Mas, harusnya aku mengajar hari ini, tetapi bagaimana?" tanya Flora pada suaminya.
"Kamu belum memberikan surat pengunduran diri mu ya?"
"Belum sempat, Mas 'kan Mas bawa aku pun juga mendadak, nikah kita juga dadakan kayak tahu bulat," lakar Flora hingga membuat Shane menowel hidung istrinya.
"Semakin bikin gemes saja sih, istri cantik Shane ini, jika begitu kamu seegra ganti baju saja duku, aku antar kamu ke sekolah dan sekalian mampir ke ruamh orang tuamu dan juga kampusmu," ajak Shane dengan senyum yang tidak pernah hilang dari wajahnya yang begitu tampan dan memesona.
Flora sedikit kaget namun dia senang, suaminya mengerti akan keadaan dirinya yang merupakan pengajar di salah satu sekolah dasar karena magang sembari kuliah.
Kini keduanya sudah siap dengan kegiatan hari ini, Shane dengan sabar menunggu istrinya yang meminta izin pada kepala sekolah untuk mengundurkan diri.
"Kenapa mendadak, Bu Flora," ucap kepala sekolah yang usianya masih muda, tatapannya pada gadis cantik dengan hijab instan itu menginginkan tetap tinggal.
"Maaf Pak Bayu, saya hanya ingin ikut dengan suami saya, dia bekerja di kpta, sedangkan saya harus mengajar di desa dan itu membutuhkan waktu yang lumayan lama," terang gadis itu dengan begitu sopan.
Raut wajah pemuda yang masih single itu tampak terkejut dengan kata menikah, namun dia tidak bisa bertanya apapun perihal pribadi guru yang sudah lama ingin dia miliki.
"Kenapa tidak mengundang kami, Bu?" ucapnya setelah menprmalkan hatinya yang bagai dihimpit tembok besar.
"Tidak bisakah Bu Flora tetap mengajar di sekolah ini, nanti anak-anak akan merasa kehilangan guru terbaiknya," Rajuknya lagi dengan mata yang seoalh memohon.
"Sekali lagi maaf, Pak."
Shane yang sebenarnya merasa terganggu dengan pandangan kepala sekolah kepada istrinya, hanya menghembuskan napas kasar di udara.
Flora kini beranjak dan meninggalkan ruangan kepala sekolah dengan mengajak Shane untuk segera keluar, namun pemuda itu memilih untuk berbicara dengan pemuda yang tadi menatap kekasih halalnya dengan tatapan cinta.
"Duluan saja, Sayang, kamu tunggu di luar, aku ingin bicara dengan kepala sekolah sebentar saja."
Meskipun dahi Flor menyerngit bingung, namun langkah gadis itu tetap keluar meninggalkan ruangan kepala sekolah.
"Maaf, Pak, jangan memandang istri orang lain dengan tatapan memuja seperti itu, harusnya Anda sebagai kepala sekoalh bisa mengajarkan bawahan Anda dengan perilaku yang positif, bukan seperti ini."
__ADS_1
Shane melangkah meninggalkan ruangan kepala sekolah lalu menghentikan langkahnya diambnag pintu, "Carilah perempuan lain, jangan merebut apa yang sudah aku miliki, atau aku akan membuatmu terpuruk dan kehilangan semuanya."