
Lisa mendekati Flora yang sedari tadi tidak nyaman dengan kedatangan dirinya.
"Apa aku tidak boleh untuk duduk bersamamu, Flora?" ujarnya melembut.
"Silahkan saja, ini tempat umum kok," tutur lembut Flora mencoba untuk membuang pikiran negatifnya.
Lisa duduk dengan menyilangkan kakinya.
"Aku sedikit terkejut jika anak baru bisa dekat dengan orang dingin seperti Shane, bahkan mahasiswi di sini gak ada yang berani untuk berjalan beriringan dengan dirinya," ujar Lisa sambil menelisik penampilan lawan bicaranya.
Flora hanya tersenyum saja dia bingung harus menjawab apa.
Flora yang tidak nyaman dipandang oleh Lisa, mencoba untuk beranjak dari tempat duduknya, akan tetapi gadis yang berpakaian seksi itu mencegah Flora untuk pergi.
"Maaf, jika aku membuatmu tidak nyaman, bukankah kita satu kelas, aku hanya ingin mengundang mu untuk makan bersama nanti sore, sebagai tanda jika kita merupakan teman baru," ujar Lisa dengan begitu lembut pada istri Shane, yang tidak banyak orang tahu jika idola mereka sudah menikah.
Flora mematung sejenak, lalu mengangguk mengiyakan ajakan baik Lisa.
"Sepulang dari pelajaran akhir aku akan mengajakmu berkeliling kampus ini," imbuh Lisa lagi, namun lawannya hanya tersenyum manis.
"Maaf, bukan maksud aku kurang sopan, tetapi aku mau pergi dulu, ada sesuatu yang aku ingin baca di perpustakaan."
Lisa mengangguk, mempersilahkan Flora untuk pergi dari hadapannya.
"Lo beneran mau ngajak cewek kuno kayak mahasiswi baru itu gabung sama kita?" cecar Sandi pada Lisa yang tersenyum licik.
"Dia bahkan tidak bisa menjadi bagian dari kita, gue cuma mau memberikan hadiah kecil agar cewek itu gak ganjen sama Shane gue," ucap Lisa dengan penuh percaya diri.
"Apa yang akan lo lakuin sama anak baru itu? Jangan terlalu berlebihan, gue gak mau jika nanti kena DO Rektor," jawab Sandi sambil memeluk tubuhnya sendiri.
"Cemen banget sih jadi cewek, cuma kasih pelajaran ringan sama anak baru doang gak berani," cibir Lisa sambil memandang rendah lawan bicaranya.
"Gue sadar diri, gue kuliah di sini karena beasiswa, jika bikin masalah besar, bukan hanya beasiswa gue yang melayang tapi juga masa depan gue, Lis. Jadi gue gak bakal ikutan sama rencana lo," putus Sandi yang mencari jalur aman.
Lisa tidak terima dengan penolakan teman satu kelasnya.
"Jangan cari gue jika lo butuh uang."
Lisa beranjak pergi meninggalkan Sandi yang termenung seorang diri, "Lo mana tahu rasanya jadi gue Lis, hidup lo sudah bergelimang herta, mau ini itu tinggal tunjuk saja, gue gak heran jika lo sangat sombong dan angkuh."
__ADS_1
Lisa berjalan meninggalkan kantin dengan rasa kesal di wajahnya yang cantik bersih, ditambah postur tubuhnya yang membuat kaum adam ingin memiliki sosok sempurna seperti Lisa.
Tak sengaja, gadis itu menubruk tubuh kekar pemuda tampan penuh pesona tersebut.
Tubuh Lisa terhuyung ke belakang hingga bagian tubuhnya yang bawah membentur lantai keramik. Dia membersihkan debu yang menempel di rok mininya, berniat ingin memarahi orang yang tidak mau membantunya.
"Kalau jalan li......"
Ucapan Lisa terhenti, di depannya ada sosok yang dia kagumi menatap dingin netra milik Lisa dengan tidak suka.
"Eh ada Shane, kamu mau ke........"
Shane tidak mendengarkan ucapan dari Lisa, pemuda itu berlalu begitu saja meninggalkan Lisa yang kesal karena di cuekin oleh orang kaya penuh pesona itu.
"Tenang dulu, Lis, setelah misi mu selesai, Shane akan menjadi milikmu lagi."
Lisa menyemangati diri sendiri dengan senyum mengembang di sudut bibirnya.
Shane kini duduk di perpustakaan, menunggu sang kekasih datang menemuinya, hingga seseorang menepuk lembut bahunya.
"Sudah lama, Mas?" tutur lembut itu membuat pemuda tampan dengan banyak pesona, menoleh dengan wajah hangat dan lembut.
"Baru saja, Sayang?" sahut Shane bohong, padahal dirinya menunggu terlalu lama.
Flora duduk di samping dirinya yang memandangi wajah cantik kekasih halalnya tersebut.
"Mau makan bersama?" tawar Shane yang sudah siap mengajak Flora pergi dari kampus.
"Maaf, Mas, aku ada pelajaran satu mata kuliah lagi, gak enak 'kan anak baru tapi mau bolos pelajaran," keluh manja Flora hingga membuat Shane gemas.
"Iya sudah, nanti kalau kamu selesai pelajaran, aku tunggu di parkiran ya."
Flora mengangguk sebagai jawaban setuju. Mereka masih di perpustakaan dengan membawa buku masing-masing, namun atensi Shane fokus pada wajah istrinya.
Kini jam sudah menunjukkan pukul tiga sore, Flora melihat benda yang melingkar manis di tangannya.
"Mas, aku masuk kuliah dulu ya, sudah waktunya pelajaran terakhir," pamit Flora sambil mencium punggung tangan suaminya.
"Doakan aku ya, Mas, ridhoi setiap kegiatan ku," tutur Flora dengan wajah cantiknya ketika pandangan mereka beradu.
__ADS_1
"Selalu, Sayang."
Flora mengucap salam dan meninggalkan suaminya yang masih menatap lurus punggungnya hingga menghilang dari pandangan matanya.
Waktu sudah menunjukkan jika hampir senja, namun kekasih hatinya tersebut tidak juga muncul.
Rasa cemas mendera hatinya, dengan niat mencari bidadarinya, Shane menyelusuri semua lorong dan ruangan kampus hingga malam.
Pemuda itu hampir saja putus asa dan menggunakan kekuasaannya untuk membantu menemukan Flora.
Kemudian Shane memilih untuk mencoba menghubungi ponsel istrinya, tidak jauh dari tempatnya berdiri, samar-samar terdengar ponsel milik Flora.
Dengan berlari, Shane tetap mencoba untuk menghubungi istrinya, hingga dia berdiri tepat di sebuah gedung yang sudah lama tidak digunakan.
Tanpa pikir panjang lagi, Shane mendobrak pintu gudang dengan marah, pikirannya sudah kalut jika kekasih halalnya kenapa-kenapa.
Brak
Pintu pun rusak, tampak Flora yang terlihat begitu mengenaskan, pakaiannya disobek paksa hingga kulit putih bersihnya terlihat, hijabnya juga sudah lepas dari kepalanya menampilkan surai hitam panjang yang kusut, entah apa yang terjadi pada istrinya tersebut.
Dengan sigap Shane membungkus rapat tubuh istrinya, dia berlari dengan wajah entah. Dia marah, kesal, emosi, panik, dan juga khawatir, wajah dinginnya tambah begitu seram saat maniknya menatap tajam orang yang lalu lalang di sana.
Dengan kecepatan penuh, Shane membawa Flora ke rumah sakit, sedari tadi istrinya belum juga sadar, hingga pikirannya semakin panik dan fokus sampai tujuan.
Di rumah sakit, pemuda tampan itu menggendong tubuh istrinya dengan berteriak minta tolong, "Dokter, suster, tolong istri saya."
Kedatangan Shane dengan panik dan berteriak dengan nada tinggi membuat semua dokter segera membantu Shane, mereka menyiapkan ranjang dorong, dan di sana Shane membaringkan tubuh lemah dan dingin Flora dengan begitu hati-hati.
"Sayang, bertahanlah, kamu sudah aman."
Air matanya menetes melihat bidadarinya tanpa respon.
"Dokter tolong istri saya, apapun itu tolong berikan penanganan yang terbaik untuk keselamatannya," mohon Shane dengan begitu berharap pada dokter di dekatnya.
"Tenang, Tuan. Kami akan memberikan penanganan yang terbaik, berdoa saja dan ikhlas."
Flora dibawa ke ruang IGD dan Shane hanya bisa melihat ranjang dorong itu masuk bersama istrinya.
Tangan Shane mengepal saat dia ingat sesuatu.
__ADS_1