Kekasihku Bad Boy Milyuner

Kekasihku Bad Boy Milyuner
Karena Hidupku Pernah Gelap


__ADS_3

"Apa mereka adalah sahabatmu?" tanya Flora pada suaminya.


"Iya, mereka temanku, namun aku sekarang sadar, tidak ada teman baik yang datang saat dalam keadaan susah, karena saat aku kena musibah waktu itu, mereka hanya diam dan tidak mendekat, sementara kamu orang baru dalam hidupku, tapi niat tulusmu untuk membantuku sudah menyelamatkan nyawaku," terang Shane pada Flora, mereka kini masih berjalan-jalan menyusuri mall terbesar tersebut.


"Shane!" seru Meilin lagi, kini dia berlari mendekat kepada pemuda itu, tatapan tajam gadis berpakaian seksi itu mengarah pada Flora.


"Ayo ikut kami ke club, kita minum dan bersenang-senang sampai pagi," ajak gadis muda itu pada Shane.


"Maaf, aku sekarang sudah tidak minat dengan dunia gelap, aku hanya mau berjalan ke dalam jalan lurus, jadi silahkan pergi bersama temanmu yang lain."


Nada bicara Shane begitu dingin, dia menggenggam erat tangan Flora seakan takut hilang.


Meilin melirik penampilan Flora dari atas hingga bawah, dia tidak percaya jika Shane malah memilih jalan dengan wanita kuno daripada dirinya dan teman-temannya.


"Apa karena orang baru dengan penampilan kuno itu, lo malah ninggalin kita setelah semua yang kita lakukan bersama," terka Meilin yang tidak mau kehilangan ATM berjalannya.


"Dia gadis baik-baik, lebih terhormat daripada kalian yang hanya butuh aku saat aku sedang ada di atas, saat aku membutuhkan kalian waktu itu, kalian kemana, nyawaku hampir melayang karena ulah kalian," tegas Shane memojokkan Meilin yang selalu ikut campur masalahnya.


"Bukan begitu maksud kami, tapi......"


Belum Meilin memberikan alasannya, Shane menarik lembut tangan Flora dan mengajaknya untuk segera pergi dari sana.


"Jangan terlalu kasar dengan perempuan, mereka mskhluk lembut dan mudah rapuh," terang Flora melembutkan hati suaminya serta menyiram kobaran api pada dadanya.


"Aku tahu apa yang kamu rasakan, tetapi kita tidak boleh selalu melampiaskan amarah pada orang lain, cukup mengadu pada Allah dalam setiap sujudmu," jelas gadis muda itu menenangkan Shane.


"Terima kasih untuk selalu memberikanku kekuatan, semoga aku semakin bijak dan mampu menjadi imam yang baik untukmu."


Flora mengangguk seraya tersenyum sebagai jawaban Shane.

__ADS_1


Keduanya kini berada di toko yang menawarkan ponsel.


"Kita ke toko itu dulu ya, karena ponselku kemarin hilang, jadi kerjaanku banyak yang terbengkalai," tutur Shane lembut pada istrinya.


"Iya, aku akan mengikutimu dimanapun kamu pergi," sahut Flora dengan begitu lembut.


"Terima kasih ya, Sayang."


Flora dan Shane kini ada di depa etalase, banyak merk ponsel dan segala spesifikasi yang ditawarkan.


"Tuan Muda mau pilih ponsel yang mana?" ujar manager pada Shane dengan begitu sopan.


"Keluarkan saja ponsel terbaru yang belum banyak orang miliki, jika ada yanf limited edition," ucap Shane hingga membuat manager itu segera mengeluarkan beberapa ponsel keluaran terbaru.


"Ini semua ponsel model terbaru, Tuan. Anda mau ambil yang mana?" tanya manager itu sedikit takut jika salah bicara.


"Sayang, menurutmu aku cocok dengan ponsel yang mana?" tanya Shane meminta pendapat dari Flora.


"Bagiku jika ponsel itu bisa memudahkan urusan pekerjaanmu, maka itulah yang terbaik untukmu," tutur lembut Flora membuat Shane mengukir senyum manis.


"Kalau begitu aku memilih ponsel yang berwarna hitam dengan spesifikasi yang memudahkanku untuk bekerja," ujar pemuda pemilik mall terbesar di kota tersebut.


Manager itu padam, dia memasukkan ponsel itu dengan tambahan acsesoris secara gratis.


Saat manager ingin memberikan ponsel itu pada Shane, pemuda itu memberikan tatapan tajam ketika manager mencuri pandang wajah Flora.


"Bungkus satu lagi dengan ponsel yang sama, nomor yanf sama serta acsesoris yang sama, dia adalah istriku, jangan berani mencuri pandang dengannya atau aku akan menghentikan pekerjaanmu," tegas Shane pada pria paruh baya di depannya.


"Maaf, Tuan Muda saya tidak tahu, jika nona itu Istri Anda."

__ADS_1


"Aku tidak usah dibelikan ponsel, itu terlalu mewah untukku," tolak Flora tak enak hati.


"Nanti uangmu habis hanya untuk membelikanku barang mewah seperti ini," imbuh Flora lagi.


Shane berulang kali mengucap syukur dengan takdir yang ada, akibat kejadian itu dia dekat dengan Flora.


"Meskipun aku memberikanmu hal yang mahal, itu tak membuatku terjatuh, karena bahagianya istri melancarkan rezeki suami," terang Shane pada istriya.


"Iya aku tahu, tapi ini mahal, uangmu pasti akan habis."


"Kenapa?"


"Mahal?" bisik lirih Flora dengan nada malu.


"Kamu ambil banyakpun tak masalah, mall ini milikku, sayang," bisik Shane dan membuat Flora melongo tak percaya.


"Tuan maaf, ini."


Tanpa kata Shane segera membawa ponsel tersebut. Dua ponsl yang sama dengan nomor seri yang hanya beda angka di belakang saja.


Manager itu membungkukkan tubuhnya berniat minta maaf.


"Jangam buat keributan di sini, aku tidak mau jadi bahan tontonan publik," ucap Flora memohon pada Shane.


Pemuda itu paham, dia menyambar dua paperbag yang ada diatas etalase dengan tatapan tajam.


"Kita mau kemana lagi?" tanya Flora kepada suaminya.


"Suatu tempar yang sudah aku persiapkan untukmu, Nyonya Shane," goda Shane dan memegang lembut tangan istrinya.

__ADS_1


__ADS_2