Kekasihku Bad Boy Milyuner

Kekasihku Bad Boy Milyuner
Jauhi Shane


__ADS_3

Kediaman Andrawijaya mulai ramai, setelah Flora sudah berada di sana, semua orang menyambut Nona muda mereka dengan bahagia, tidak ada yang sedih sedikitpun.


"Nona sudah sehat?" sapa wanita paruh baya yang ramah pada Flora.


"Alhamdulillah sudah, Bu," sahut Flora dengan nada lembut.


"Syukur alhamdulillah, Nona. Nona mau makan apa istirahat lebih dulu?" tanya ramah kepala asisten rumah tangga itu pada Flora.


"Rara mau ke kamar dulu, Bu, mau istirahat," ucap gadis berhijab itu pada wanita paruh baya di depannya.


"Kalau begitu, biar saya bantu, Nona," tawar wanita paruh baya itu pada Flora.


"Terima kasih, Bu."


Keduanya menuju lantai atas, dengan Flora yang dibantu oleh kepala asisten rumah tangga kediaman pak Andrawijaya tersebut.


Ditengah kepulangan Flora yang keluar dari rumah sakit, di tempat lain seorang gadis cantik yang tadi dipermalukan oleh pemuda yang pernah mengejar cintanya itu memukul stir mobil dengan begitu keras.


"Kenapa kamu berubah, Shane, aku pulang ke kota kelahiran hanya untuk kembali bersama dengan mu, tetapi kenapa."


Suaranya terdengar begitu memilukan, dia menangis tersedu-sedu hanya karena tidak dapat menyentuh hati Shane lagi.


"Ini pasti karena wanita itu, ya, aku harus memisahkan Shane dari pengaruh buruk wanita yang sok suci itu," monolog Rikha saat berada di dalam mobil seorang diri.


Senyum licik terlihat dari wajah cantik Rikha yang mulai menghubungi seseorang.


["Aku punya tugas buatmu, lakukan dengan baik dan kamu akan aku berikan sebuah imbalan besar."]


Rikha menutup sambungan telepon kemudian mulai melajukan kendaraannya dengan membelah kota yang penuh dengan mobil di jalan raya sedang lalu lalang.


"Aku akan mendapatkan hatimu lagi, Shane, tunggulah aku," monolog gadis cantik dengan baju seksi tersebut seorang diri.


Malam itu suasana tampak begitu ramai, pesta penyambutan Flora yang sudah keluar dari rumah sakit menjadi tanda rasa syukur dari keluarga Andrawijaya.

__ADS_1


Flora yang menggunakan gamis warna merah muda dengan payet mutiara dan hiasan dari kain broklat membuat gadis berhijab itu tampak anggun dan juga tambah cantik.


Saat Flora turun dari tangga seorang diri, dengan cepat, Shane mengulurkan tangannya untuk membantu istrinya berjalan dengan nyaman dan aman.


"Terima kasih, Mas," ujar Flora yang memerah karena perlakuan manis Shane pada dirinya.


"Sama-sama, Sayang. Ini juga sudah menjadi tanggungjawab ku sebagai seorang suami, jangan pernah ragu padaku, aku sudah berjanji pada malaikat dan juga Allah di depan orang tua dan para saksi pernikahan kita untuk selalu menjaga dirimu, melindungi my, melengkapi setiap kekurangan mu, memenuhi semua keinginan mu, dan......."


Shane berhenti seketika, saat dia menjeda ucapannya.


"Dan apa, Mas?" tanya lembut istri Shane yang ingin tahu apa yang akan diucapkan oleh suaminya tersebut.


"Dan aku ingin menjadi ayah yang baik untuk anak kita kelak."


Pemuda itu melihat perut rata istrinya, Flora tersenyum dan menanggapi apa yang diinginkan oleh imamnya tersebut, "Ikhtiar dan terus berdoa, Mas, tidak lupa untuk berusaha juga."


"Kata 'berusaha' itu yang ingin sekali aku praktekkan sekarang ini, namun aku menjaga istri ku yang baru saja keluar dari rumah sakit," ungkap Shane pada Flora.


Shane melihat gurat cemas dari wajah cantik istrinya tersebut, "Takut sakit seperti pertama kali ya?" tanya Shane dengan nada lirih seakan berbisik.


Flora mengangguk menanggapi ucapan suaminya tersebut, namun keromantisan mereka menguap saat sang ayah memanggil keduanya untuk segera ke bawah.


"Ayah sudah memanggil kita, sebaiknya jangan buat beliau menunggu," ujar Flora dengan senyum yang penuh arti.


"Hah, bahkan saat kita ingin romantisan saja Ayah ganggu kita," protes Shane yang dijawab dengan kikikan Flora.


"Nanti disambung lagi di kamar," goda wanita cantik dengan gamis merah muda itu dengan tatapan menggoda.


"Mulai nakal nih, Istriku," sahut Shane dengan ikut tertawa.


"Ayo turun, tidak enak jika ditegur Ayah lagi karena kita kelamaan."


Flora akhirnya turun dari tangga dengan berpegangan dengan tepi tangga agar langkahnya tidak salah, akan tetapi wanita cantik itu menjerit saat tubuhnya terasa diangkat oleh seseorang.

__ADS_1


"Kelamaan, kalau begini 'kan cepat sampainya," ucap pemuda yang berparas tampan dengan badan yang terawat tersebut.


"Kamu mulai berani godain anak orang, Mas."


Sambil mengalungkan tangannya di leher Shane, mereka berdua sampai di ruang makan.


"Kalian ini bikin orang pengen cepat nikah, tidak kasihan sama para jomblo yang LDR-an atau belum nemu yang cocok," protes pria paruh baya itu pada Shane serta Flora.


Shane menurunkan tubuh istrinya di tempat duduk dengan hati-hati, wanita anggun nan memesona itu bagai sebuah barang pecah belah bagi Shane, sedikit terluka akan susah membetulkannya.


"Sweet banget sih, Tuan Muda sama Nona Muda, aku juga mau diperlakukan istimewa seperti itu," terang salah satu ART yang tidak jauh dari meja makan.


"Hiss diam, jangan ikut campur masalah majikan," tutur teman sesama ART memperingatkan.


Pesta makan malam sebagai tasyakuran setelah Flora kembali dari rumah sakit, berjalan dengan lancar, bahkan mereka mendoakan jika Flora dan Shane segera diberikan momongan segera, doa yang sama diucapkan seorang ayah yang ingin menimang cucu.


"Semoga kalian selalu bahagia, mendapatkan kejutan baik di setiap hari dan juga lekas mendapatkan momongan, jujur saja, ayah merasa kesepian setiap kalian tinggal di rumah kalian sendiri, tapi memang itu sudah keputusan Shane agar kalian mandiri dan tidak tergantung sama orang tua, tetapi ayah minta kalian sering menginap di sini untuk menemani ayah makan dan mengobrol santai."


Permintaan sederhana itu membuat Flora mulai berkaca-kaca, dia membayangkan jika itu terjadi pada orang tuanya, bagaimana mereka bisa hidup jauh dari anak satu-satunya.


Shane yang melihat raut wajah sang istri yang beruban jadi sendu mulai menghiburnya.


"Kita akan sering ke sini jika kamu mau, atau kita akan tinggal bersama dengan ayah saja, bagaiamana?" tawar Shane yang mencoba memancing istrinya.


Flora menghela napas berat.


"Aku bahkan tidak berpikir jauh, Mas, jika itu sudah menjadi keputusan mu, maka aku akan ikut, namun aku hanya membayangkan jika itu terjadi pada Bapak dan Ibu di desa, mereka akan sangat kesepian tanpa kita," terang Flora yang memikirkan orang tuanya.


"Saat kita libur nanti, kita bisa pergi ke desa, kamu juga bisa main sepuasnya di sana, tetapi dengan syarat juga....."


Flora tampak menyerngit, "Apa syaratnya, Mas?"


"Tidak boleh capek dan juga bawel, karena aku ingin kamu itu merasa senang dan juga bahagia saat bersama dengan keluarga mu."

__ADS_1


__ADS_2