Kembalinya Sang Pahlawan Penentu Nasib Dunia

Kembalinya Sang Pahlawan Penentu Nasib Dunia
Chapter 12 : Wine Dapat Mengalahkanku


__ADS_3

Di ruangan kelas Satoru masih merasakan pusing akibat wine yang ia minum secara tak sengaja di guild petualang kemarin malam. Ia tak bisa mengikuti pelajaran dengan baik dan izin pergi menuju ke uks untuk beristirahat. Setelah beristirahat cukup lama, dia akhirnya mulai baikan dan pergi keluar dari ruang uks.


Saat membuka pintu ia secara tak sengaja bertabrakan dengan seseorang yang sedang berlarian tergesa-gesa.


"Ah!" gadis yang menabraknya menjatuhkan beberapa buku yang ia bawa sehingga berserakan di lantai.


Satoru yang ikut terjatuh membuka matanya secara perlahan dan melihat gadis yang ada di hadapannya. Matanya terpaku saat melihat muka gadis itu. "Cantiknya..." secara tak sengaja mulutnya bergumam kecil melihat kecantikan gadis yang ada di hadapannya.


"Maaf, aku tak sengaja menabrak-" saat gadis itu melihat Satoru dia teringat seseorang yang pernah menyelamatkan nya saat diserang para bandit. "Eh! Kau orang yang menolongku waktu itu bukan?"


Mendengar hal itu Satoru tersadar dari lamunannya, ia langsung mengelak dan bangun berdiri. "Kurasa kamu salah orang" Satoru mengulurkan tangannya dan membantu gadis itu bangun berdiri.


Gadis berambut putih dengan mata biru itu menerima uluran tangan Satoru. "Terima kasih, sekali lagi maaf karena telah menabrakmu"


"Tak apa, kalau begitu sampai nanti" Satoru pergi meninggalkan gadis itu dan kembali ke ruang kelasnya. Ia duduk di bangkunya sembari melihat keluar jendela karena kepalanya masih merasakan sedikit pusing.


Setelah sekolah selesai, Satoru pergi ketempat pelatihan akademi. Disana sudah ada Rey dan yang lainnya menunggu untuk latihan. Tapi Satoru tak bisa melatih mereka untuk hari ini mengingat keadaannya.


"Maaf, Rey senpai. Tapi untuk hari ini aku tak bisa mengajari kalian, kepala ku masih terasa pusing" Satoru memberikan alasan kepada Rey sembari duduk di kursi dan memegang kepalanya.


"Apa kau tak apa Satoru?" Rey dan yang lainnya kelihatan kawatir melihat wajah Satoru yang pucat.


Mereka menyuruh Satoru untuk pulang kerumahnya dan beristirahat. Lelaki yang sangat terampil dalam berpedang dan bertarung melawan musuhnya tanpa rasa takut, kini bisa di kalahkan hanya dengan secangkir wine.


Di atas kasur di kamarnya, Satoru hanya bisa memejamkan matanya berharap rasa pusing yang sedang ia alami menghilang. Ketahanan tubuhnya terhadap alkohol sangat lemah hingga masih membuatnya merasa pusing padahal sudah cukup lama.


"Jugo sialan, aku akan memberi perhitungan nanti padanya..." Di atas kasurnya Satoru bergumam dengan kesal kepada seorang petualang yang memberikan secangkir wine itu padanya.


Hari mulai gelap, Satoru bangun dari tidurnya dan sudah mulai merasa baikan. Karena seharian tak makan perutnya berrbunyi karena keroncongan.


"Ughh~ aku belum makan apa-apa dari pagi..." Sembari memegang perutnya yang kosong, Satoru keluar untuk pergi ke sebuah restoran yang buka di malam itu.


Setelah berjalan tak jauh dari rumahnya, Satoru menemukan sebuah tempat makan bernama Brick Oven. Tempat itu begitu ramai, sehingga Satoru tidak bisa masuk.


Kurasa aku akan cari restoran lain saja...

__ADS_1


Saat berbalik Satoru menabrak seseorang dengan pakaian mewah. "Awh!" Ia terjatuh dan langsung melihat siapa yang dia tabrak.


"Apa yang di lakukan rakyat jelata seperti mu disini?! cepat bersujud dan minta maaf karena telah menabrak ku!" Bangsawan itu dengan angkuhnya menyuruh Satoru untuk bersujud padanya.


"Hah~ inilah kenapa aku tak ingin terlalu terlibat dengan para bangsawan..." Satoru bergumam pelan dan bangun berdiri. "Maaf saya tak sengaja menabrak anda. Kalau begitu saya permisi" Satoru hanya menundukkan kepalanya sedikit sembari menatap sinis bangsawan itu lalu pergi meninggalkannya.


"Hei kau berhenti dasar tidak sopan!" Bangsawan itu berteriak dengan ketus menghentikan Satoru yang berjalan pergi.


Pemuda itu menghentikan langkahnya dan menoleh kebelakang dengan tatapan sinis yang tajam. "Saat ini suasana hati ku sedang tidak baik, aku mohon pada anda untuk melupakan kejadian ini sekali saja"


Bangsawan itu terdiam membisu saat melihat tatapan dari pemuda yang barusan menabraknya.


Satoru langsung berjalan meninggalkan tempat itu dan mencari restoran lain untuk makan malam. Karena tak kunjung menemukannya Satoru pergi ke guild petualang untuk makan disana.


Saat memasuki guild ia melihat Jugo yang sedang duduk santai dan mengobrol dengan teman-teman nya. Melihat Satoru yang datang ke guild Jugo berdiri dan menyapanya "Ouh selamat malam Satoru!".


Satoru berjalan mendekat ke arahnya dengan raut muka yang kesal, Jugo yang heran dengan pemuda yang mendekat padanya dengan muka yang begitu kesal mencoba untuk bertanya. "Hey, apa yang terja-"


Bammm!!!


"Ugh~ ahahaa maaf, aku tak sadar kalau itu wine dengan kadar tinggi" Jugo yang merasa bersalah meminta maaf pada Satoru dan menundukkan kepalanya.


"Aku akan memaafkan mu jika kau mentraktirku makan malam" Satoru tersenyum dan duduk sembari mengetuk pelan meja dengan jari telunjuknya.


"Ahaha, baiklah. Makanlah sepuasmu, aku yang akan membayarnya!" Jugo menjawabnya dengan tertawa keras dan duduk di meja yang sama.


Petualang yang mendengar ucapan Jugo berteriak kegirangan. "Hei semuanya dengar, Jugo yang akan mentraktir kita semua! makanlah sepuasnya!"


Mendengar hal itu Jugo ternganga "Se- semuanya, to- tolong jangan berlebihan, dompet ku bisa kering"


Di malam itu Satoru bisa tersenyum gembira dengan makanannya, sedangkan Jugo tampak muram sembari melihat kantung uangnya yang menipis.


"Hei, Satoru. Apa kau mau ikut mengerjakan quest ini bersama kami besok?" Jugo mengeluarkan sebuah lembaran quest pembasmian bandit.


Satoru mengambil kertas quest itu dan membacanya. "Quest pembasmian bandit yah..." Ia berpikir sejenak lalu mengangguk menerima ajakan Jugo "Baiklah, aku akan ikut!".

__ADS_1


Jugo dan party nya menjadi bersemangat karena Satoru akan ikut. "Kalau begitu besok kita akan bertemu di gerbang kota, sore hari nanti"


Setelah selesai makan Satoru berpamitan dengan Jugo dan kawan-kawan. Ia tak langsung pulang kerumahnya, di malam yang tenang itu Satoru duduk di atas menara jam yang ada di tengah-tengah kota.


Menikmati hembusan angin malam yang sejuk, ia bersenandung pelan sembari mengetuk-ngetuk dinding dengan irama yang pas.


Tempat ini benar-benar damai...


Kurasa aku akan sering pergi ke sini setiap malam hari...


Saat melihat-lihat kota, ia melihat seorang gadis yang terlihat cukup familiar sedang berlarian menuju ke luar gerbang. Di belakangnya ada beberapa pria yang mengikutinya dengan memegang senjata tajam.


Gadis itu... yang ada di penginapan sebelumnya kan?


Melihat seorang wanita sedang kesulitan Satoru langsung turun dan berlari dengan cepat mengikuti gadis itu. Ia berhasil menyusul gadis itu dan berdiri di depan gerbang hingga gadis itu menabraknya secara tak sengaja.


"Awh!" Wanita berambut biru keputihan itu terjatuh, ia kelihatan begitu ketakutan. "A- a- apa kau r- rekan mereka?" Dengan gemetaran gadis itu berbicara dengan Satoru yang melihat kearahnya.


"Apa yang terjadi? kenapa kau bisa di kejar oleh mereka?" Tak menjawab ucapan gadis itu, Satoru langsung memberikan pertanyaan kepadanya.


Tak lama kemudian rombongan yang mengejar gadis itu sampai. "Woi j4l4ng sialan! Jangan berlari lagi dan cepat serahkan dirimu!" Salah satu pria yang mengejarnya berteriak dengan sangat kesal.


"Hii!!" Gadis itu begitu ketakutan dan hendak melarikan diri. Namun Satoru menahannya dengan menarik kerah baju gadis itu.


"Ke- kenapa kau menahan ku!? Ternyata benar kalau kau berpihak pada mereka!" Gadis itu berteriak dengan kesal kepada Satoru.


"Hei, apa yang di lakukan oleh gadis ini sampai membuat kalian begitu kesal?" Satoru bertanya dengan rombongan itu sembari menahan gadis yang berusaha kabur itu.


"Oi, oi, bocah sepertimu seharusnya tak ikut campur urusan orang dewasa" Salah satu pria di rombongan itu maju dan menyerang Satoru dengan sebuah pisau.


Satoru melepaskan gadis itu dan mendorongnya menjauh sembari menghindari serangan.


"Sepertinya kalian benar-benar ingin bertarung yah..." Satoru mengelap darah yang ada di pipinya karena tergores oleh pisau serangan sebelumnya. Matanya dengan tajam menatap dingin ke arah rombongan pria itu.


Tangan kirinya bergerak sedikit mendorong katanya yang ada di pinggang keluar dari sarungnya. Secara perlahan Satoru menarik keluar katana yang ada di pinggangnya dan mengarahkannya kepada rombongan yang ada di hadapannya.

__ADS_1


__ADS_2