Kembalinya Sang Pahlawan Penentu Nasib Dunia

Kembalinya Sang Pahlawan Penentu Nasib Dunia
Chapter 18 : Gadis Potion


__ADS_3

Di luar gedung pelatihan Satoru dan Taiju hendak pergi menuju ke arah kantin. Di saat berjalan dengan santai ada seorang perempuan yang berlarian dan menabrak Satoru.


"Awh!!" Gadis itu terjatuh sembari menggosok bokong nya yang kesakitan. Ia membukan matanya secara perlahan dan melihat sosok lelaki yang cukup familiar di hadapannya.


"Aaa!!! kau orang yang waktu malam itu bukan!?" Gadis itu berteriak sembari menunjuk Satoru dengan muka yang terkejut.


"Hah?" Satoru heran dengan aoa yang di katakan oleh gadis itu, ia melihat gadis itu sembari mengingat-ingatnya.


Ahh... dia gadis yang di kejar oleh rombongan bandit itu bukan...?


"Apa kau tak apa-apa?" Satoru mengulurkan tangannya untuk membantu gadis itu berdiri.


Gadis itu menerima uluran tangan itu dan bangun berdiri. "Terima kasih... aaa!!! aku lupa!! maaf tapi aku sedang buru-buru!!" Gadis itu terlihat mengingat sesuatu yang penting dan langsung berlari meninggalkan Satoru dan Taiju.


"Gadis yang cukup ceroboh..." Satoru bergumam melihat tingkah gadis itu.


"Apa kau tertarik padanya Satoru?" Ujar Taiju dengan polosnya.


"Tidak juga, dari pada mengurusinya mending kita cepat ke kantin sebelum bell masuk berbunyi" Satoru langsung berjalan kembali pergi menuju kantin sekolah.


Gadis yang bertabrakan dengan nya sebelumnya adalah orang yang sama saat di tolong nya di malam itu. Memiliki rambut berwarna coklat dengan bola mata hijau seperti emerald. Gadis itu bernama Haruna, ia merupakan seorang alkemis yang hebat.


Saat ini dia sedang pergi ke ruang club alkimia untuk mengambil beberapa bahan yang dia tinggal kan disana. Gadis ini sedang mencoba untuk membuat sebuah ramuan kuno demi menyembuhkan ibunya yang sedang sakit.


Haruna sudah terkenal oleh semua warga desa akan kehebatan nya dalam alkimia. Tapi semua obat yang dia buat tak ada satupun yang berhasil mengangkat penyakit ibunya, dan ramuan itu hanya bisa meringankan gejalanya saja.


Dia sangat giat belajar disekolah hanya untuk mempelajari cara pembuatan ramuan kuno. Kemampuan sihir yang ia miliki juga bagus, sehingga masuk ke dalam kelas yang memiliki tanda sihir. Meski memiliki kemampuan sihir, Haruna lebih cenderung menggunakan sihirnya untuk membuat potion ketimbang bertarung.


Karena Satoru tak bisa di obati melalui sihir, Haruna akan sangat cocok karena bisa membuat potion dengan kualitas yang bagus. Di ruangan club alkimia Haruna mengambil bahan-bahan yang ia perlukan dan langsung pergi menuju kembali ke perpustakaan.

__ADS_1


Tujuannya membawa bahan-bahan itu yakni untuk mencocokkan apakah bahan yang di maksud dibuku sama dengan bahan yang saat ini di pegang olehnya. Walaupun sekilas terlihat sama, ada beberapa tumbuhan yang memiliki efek berbeda. Perbedaan yang sering terlihat biasanya pada warna cairan, ujung daun dan warna dari tumbuhan tersebut.


Di dalam perpustakaan Haruna mencoba mencocokkan apa yang tertulis di buku dengan tanaman yang di pegang olehnya.


"Haaft... ternyata tanaman yang berbeda..." Wajahnya tampak kecewa saat tahu jika tanaman yang di maksud dalam buku berbeda dengan apa yang ia pegang.


"Hei-hei lihat siapa ini?! rakyat jelata yang beruntung masuk kedalam kelas bertanda sihir?" Saat di perpustakaan ada beberapa siswi yang datang dan mengolok-olok gadis tersebut.


Haruna tak menghiraukan ucapan mereka dan bangun berdiri. Ia langsung berjalan tanpa sepatah katapun keluar dari perpustakaan, bersamaan dengan suara bell pertanda masuk.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sepulang sekolah Haruna kembali ke penginapan nya dan meracik sebuah potion di dalam kamar untuk di jual. Biasanya dia menjual potion tersebut di toko-toko obat dan serikat pedagang.


"Yosh, target hari ini sudah tercapai!" Gumam Haruna setelah membuat 20 potion penyembuh tingkat menengah. Ia memasukkan potion itu kedalam sebuah box untuk di bawa ke serikat pedagang.


Dubrak!!!


Karena berlarian dengan tergesa-gesa, pria itu menabrak Haruna yang sedang membawa box berisi potion hingga terjatuh. "Awhh!!! aaaa!!! potionku!!!" Haruna berteriak melihat box berisi potion miliknya terhempas dengan kuat ke lantai.


Saat sedang mengecek box berisi potion itu ada hembusan angin yang terasa di kuping kanan nya. Haruna menoleh dan melihat seorang pria berlari dengan cepat dan berhasil menangkap copet sebelumnya.


Para penjaga pun datang untuk mengamankan copet tersebut. Pria yang menangkapnya berjalan ke arah wanita tua pemilik tas tersebut dan mengembalikan nya.


"Bukannya dia, laki-laki yang ku tabrak di sekolah tadi...?" Haruna bergumam pelan saat melihat pria yang mengembalikan tas milik nenek-nenek itu.


Tak lama kemudian pria itu mendatanginya sembari mengulurkan tangan. "Apa kau tak apa-apa?" Ujarnya dengan lembut.


"A~ ah, aku tak apa-apa..." Haruna menerima uluran tangannya dan berdiri secara perlahan.

__ADS_1


"Kau gadis yang tadi bukan?" Ujar pria itu setelah melihat wajah gadis itu.


"Y~ ya... etto, namaku Haruna..." Gadis itu dengan malu-malu memperkenalkan namanya pada pria yang ada di hadapannya.


"Shin Satoru, salam kenal Haruna-san" Ujar Satoru dengan senyum di wajahnya. "Apa kotak ini milikmu?" Ia melihat ke arah kota yang mengeluarkan cairan berwarna hijau ke biruan dari celah-celah nya.


"Aaaa!!! potion ku!!!" Gadis itu baru ingat dengan potion miliknya dan berteriak saat itu juga.


"Apa kamu membeli sebuah potion?" Satoru bertanya karena penasaran.


Haruna menggelengkan kepalanya "Tidak, potion itu aku yang membuatnya. Huft, sepertinya aku tak bisa menjualnya kalau sudah hancur begini... setidaknya masih ada beberapa yang tak pecah..." Gadis itu menghela nafasnya setelah melihat kondisi potion yang berada di dalam box itu.


"Kalau begitu tinggal buat lagi saja kan?" Satoru berbicara dengan polosnya kepada gadis itu.


"Andai saja aku bisa melakukannya..." Wajah gadis itu menjadi muram setelah mengucapkan itu. "Uangku sudah menipis dan jika aku membeli bahan obat lagi, mungkin aku akan tidur diluar hari ini..."


"Hei, bagaimana kalau mencarinya sendiri di hutan?" Satoru memiringkan kepalanya ke kanan dan menunjuk ke arah luar gerbang.


"Diluar ada banyak monster... mana mungkin aku bisa mencari nya seorang diri..." Ujar gadis itu dengan putus asa.


Satoru mengulurkan tangannya dan tersenyum. "Aku akan membantu mengurus monster-monster nya, kau bisa mencari tanaman obatnya dengan tenang"


Haruna melihat wajah Satoru yang terlihat tulus untuk membantu dirinya. Selama ini tak ada satupun orang yang tersenyum tulus dan mau menolongnya saat sampai di ibukota.


"A~ apa kau yakin...? tapi aku tak bisa memberi mu apa-apa loh..." Ujar Haruna dengan ragu-ragu.


Satoru mengangkat tangan kanan nya ke dagu, memikirkan sesuatu. "Kalau begitu bagaimana jika kau menyediakan potion untuk ku? ah, tentu saja aku akan membayarnya"


Saat itu Haruna hanya bisa terpaku diam melihat seorang pria di hadapannya yang begitu tulus untuk membantu dirinya. Gadis itu masih mengira kalau Satoru merupakan seorang bangsawan karena memiliki nama keluarga. Itulah mengapa dia tak percaya kalau ada seorang bangsawan yang begitu baik terhadap dirinya yang merupakan seorang rakyat jelata.

__ADS_1


__ADS_2