Kembalinya Sang Pahlawan Penentu Nasib Dunia

Kembalinya Sang Pahlawan Penentu Nasib Dunia
Chapter 64 : Insiden Satu Malam


__ADS_3

Di pagi yang cerah Satoru sedang berada di taman sekolah, duduk seorang diri sembari menatap awan di langit. Ia terus memikirkan cara untuk kembali ke dunia lain, karena ia merasa jika dunia itulah tempat seharunya ia berada. Sebagian ingatannya sudah mulai kembali yang berakibat pada perubahan sikapnya yang tak seperti biasanya. Saat ia melihat gadis yang sedang duduk sendirian di malam hari sebelumnya, Satoru merasakan adanya pecahan dari kekuatannya menempel sedikit pada gadis itu. Karena itulah ia tanpa ragu menawarkan tempat tinggal pada gadis itu.


"Pemburu iblis... saat aku tinggal di dunia ini sebelum pindah kesana, aku tak pernah tau akan hal itu. Tapi sekarang berbeda, monster, roh jahat, semua itu sudah cukup normal bagiku."


Sekolah berakhir seperti hari-hari yang normal, Satoru pergi ke bukit belakang sekolah lagi, di ikuti oleh Ren dan Sena. Saat berada di puncak bukit, Satoru memandangi seluruh kota mencoba untuk mencari lokasi pasti dari kepingan kekuatannya. Ren dan Sena kelihatan bingung dengan apa yang dilakukan oleh Satoru.


"Hei, Satoru. Kenapa kau memanggil kami kesini?" tanya Ren heran.


"Hmmm~ kenapa yah? Ah, benar ada satu hal yang ingin ku tanyakan," jawab Satoru berbalik badan.


Sena dan Ren menatap satu salam lain dengan bingung.


"Apa kalian tau soal, Spirit Control Fan?" ujar Satoru. "Melihat reaksi kalian berdua, sepertinya kalian tau soal itu," sambung Satoru setelah melihat wajah Ren dan Sena yang tampak sedikit tegang.


"A-apa yang kau ingin lakukan dengan senjata itu?!" teriak Sena dengan sikap kuda-kuda yang siap bertarung.


"Maaf Satoru, tapi aku juga tak bisa diam saja setelah kau menanyakan hal itu," sambung Ren yang terlihat siap untuk bertarung juga.


Di puncak bukit, tepatnya di lahan yang cukup luas dengan pepohonan yang mengelilingi sekitar. Terlihat 3 orang yang berhadapan, 2 diantara mereka terlihat siap untuk bertarung, sedangkan 1 nya hanya diam berdiri menatapi kedua orang di hadapannya.

__ADS_1


"Wah, wah, tak kusangka akan ada dua orang dari keluarga besar disini," sela seseorang yang datang di pertengahan situasi.


"Kau ... ?!" Ren dan Sena cukup terkejut saat melihat orang yang datang.


Tamashinohi Miya, seorang pembasmi iblis yang sangat terampil. Dia lahir di keluarga pengusir setan terkemuka, dengan takdir untuk memberantas kejahatan dan menjadikan dunia tempat yang lebih murni dengan kekuatan spiritual bawaannya. Dia bisa melihat hal-hal yang tidak terlihat oleh orang lain. Entah dengan menenangkan mereka dengan lembut, atau dengan melakukan pengusiran setan, dia membawa roh-roh yang tersesat ke surga. Meskipun dia harus terus-menerus menghadapi kegelapan, dia tidak pernah kehilangan semangat dan kebaikannya yang tinggi. Dia ramah kepada semua orang, dan rela membantu mereka yang menderita karena perbuatan jahat setan dan roh.


Namun dia memiliki masalah, yaitu dia sangat kecanduan hiburan, terutama festival dan perjudian. Keluarga Miya memiliki kebiasaan mengadakan festival setelah pengusiran setan yang berhasil. Itu untuk menyenangkan yang hidup, menghibur yang mati dan memberikan kesimpulan yang tepat untuk semua orang, begitu kata para tetua. Miya dulu suka festival ini. Mungkin sedikit terlalu banyak. Miya muda sangat terpikat oleh festival yang dipenuhi dengan lentera terang, musik, kembang api, dan permainan.


Miya memainkan monte tiga kartu sebagai permainan judi pertamanya. Sampai dia diseret pulang, di tangan tetangganya yang bertemu dengan Miya yang terlalu bersenang-senang, dia menang dua kali dan kalah enam kali berturut-turut dan hampir kehilangan semua yang dia miliki. Dia tidak bisa melupakan kegembiraannya begitu saja. Dia diam-diam berlarian bermain game dengan mempertaruhkan harta keluarganya, dan akhirnya kehilangan semua jiwa keluarganya yang berbakti ke seluruh dunia. Neneknya dan para tetua mengusirnya dari rumah dan tidak pernah memerintahkan Exorcist Miya untuk kembali ke rumah kecuali dia dengan semua roh yang hilang. Namun dia masih tidak bisa berhenti berjudi, karena dia yakin dia bisa "menjadi besar dengan satu kesempatan" dan membawa pulang semua roh yang hilang. Dia sering kehilangan semua uangnya yang diperoleh dari pengusiran setan.


"Tak kusangka pembasmi iblis buangah sepertimu ada disini," ucap Sena.


"Tapi, mari kulihat. Dua orang pembasmi iblis dari keluarga besar sedang mengarahkan niat permusuhan pada manusia biasa? Apa kalian tidak malu?" sambung Miya berjalan di depan Satoru dengan niat melindunginya.


"Apa yang ingin kau lakukan?" ujar Ren dengan waspada.


"Tidak ada, aku hanya ingin melindungi orang yang sudah menolongku. Itu saja," jawab Miya dengan senyum simpul.


Satoru memegang pindah Miya. "Hei, apa kau tau soal Spirit Control Fan?" ucap Satoru.

__ADS_1


"Iya, itu ada di markas para pembasmi iblis," jawab Miya. "Eh?! Tu-tunggu! Kenapa kau bisa tau soal itu?!" sambung Miya saat sadar.


Saat menoleh kebelakang Satoru sudah menghilang dan terlihat hanya ada beberapa helai bulu berwarna hitam yang terbang tertiup angin. "Hoi, liat di atas!" ujar Ren menunjuk.


Satoru terbang di langit dengan kedua sayap berwarna hitam pekat dan menatap ketiga orang dibawahnya dengan dingin. Ia menoleh ke arah kota dan melihat semacam dinding penghalang di sebuah kuil. "Disana rupanya." Satoru langsung terbang menuju ke arah sana dengan begitu cepat.


"Lihat apa yang kau perbuat!" teriak Sena dengan ketus.


"Tenanglah gadis Akatsuki! Seharusnya kau tau apa yang lebih penting saat ini bukan?" balas Miya yang terlihat cukup tenang. "Aku tak tau apa yang sebenarnya terjadi, tapi sepertinya Satoru mengincar kipas itu," sambungnya.


"Itu benar, kita harus cepat melaporkan hal ini!" ujar Ren dengan serius.


Mereka bertiga segera turun dari bukit dan melaporkan situasinya lewat shikigami. Pesan itu sampai lebih dulu kepada semua pembasmi iblis sebelum Satoru sampai di markas mereka. Terbang tanpa suara di atas langit, ia bergerak menghantam pelindung itu dengan tangan kosong berkali-kali hingga retak.


Tas!!


"Heh, jadi ini bentuk asli bangunannya," gumam Satoru saat memasuki ruangan pelindung itu.


Terlihat begitu banyak orang berkumpul disana dengan senjata yang di arahkan pada Satoru. Sosok yang tampak seperti manusia tetapi memiliki sepasang sayap berwarna hitam pekat layaknya langit malam tanpa bintang. Semua orang yang melihat sosok itu seperti terkena tekanan kekuatan yang begitu besar hingga membuat mereka gemetar ketakutan. Walaupun begitu mereka tetap berdiri untuk menghadapinya dan melawan rasa takut. Para pembasmi iblis tau jika pekerjaan mereka sangat dekat dengan kematian, jadi tak ada gunanya takut saat melawan musuh yang kuat. Walaupun berakhir mati sekalipun.

__ADS_1


__ADS_2