Kembalinya Sang Pahlawan Penentu Nasib Dunia

Kembalinya Sang Pahlawan Penentu Nasib Dunia
Chapter 31 : Tenseiga


__ADS_3

Setelah pertarungan usai, Satoru terlihat cukup sedih melihat sekitarnya. Orang-orang yang tak berdosa menjadi korban, terlebih lagi tubuh mereka tercerai berai tak beraturan lagi. Desa itu sudah terlihat seperti habis terkena sebuah hujan darah, karena semua rumah hampir menjadi merah akibat cipratan darah.


Satu-satunya yang selamat hanya Charlotte yang saat ini tak sadarkan diri. Lukanya sudah tertutup, namun akibat banyaknya darah yang hilang, tubuhnya masih sangat lemah. Saat hendak mengangkat gadis itu, matanya terbuka secara perlahan.


"J~ jadi kau berhasil menga... lah kan iblis itu...?" Ujarnya dengan terbata-bata.


"Tidak, dia kabur. Sebaiknya kau jangan berbicara dulu, kau kehilangan begitu banyak darah. Walaupun lukamu sudah sembuh, darah yang hilang tak akan kembali" Ujar Satoru dengan wajah sedih serta kawatir.


Air mata menetes di pipi gadis itu, wajahnya terlihat begitu menyesal. "Kenapa jadi seperti ini... kenapa semuanya pergi dengan begitu cepat... padahal kami sudah berjanji akan menjelajahi dungeon selama liburan" Ucap Charlotte dengan begitu sedih.


Satoru yang mendengar serta melihat wajah gadis itu sedih merasa kesal. Ia menurunkan gadis itu dan menatap matanya dengan serius. "Apa mereka benar-benar penting bagimu! apa kau ingin bertemu dan melakukan perjalanan bersama mereka lagi!?"


"T~ tentu saja aku mau! ta~ tapi semuanya sudah berakhir... mereka semua sudah tiada..." Ujar gadis itu meneteskan air matanya.


Satoru mengelap air mata yang keluar dari mata gadis itu dengan jarinya. "Aku akan menanyakan nya sekali lagi, apa kau ingin bertemu dengan mereka lagi!?" Ujar Satoru dengan serius.


"Tentu saja aku mau!! tapi mereka sudah tiada! bagaimana bisa kami bertemu lagi!!" Gadis itu berteriak dengan sangat putus asa.


"Begitu yah, aku mengerti. Siapa namamu?" Tanya Satoru.


"Char..lotte... von Blaise" Ucapnya dengan pelan.


"Charlotte Von Blaise, dengan ini aku ingin kau berjanji untuk merahasiakan apapun yang kau lihat!" Ujar Satoru dengan serius.


Charlotte tak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Satoru, ia hanya melihat lelaki itu dengan tatapan aneh.


Satoru memejamkan matanya dan memikirkan sesuatu.


Sebuah pedang yang memiliki kemampuan untuk menyembuhkan, menarik kembali roh...


etto...

__ADS_1


Ah, itu dia!


"Datanglah dan penuhi panggilanku! Tenseiga!!!" Teriak Satoru dengan keras.


Sebuah katana muncul dihadapan Satoru.


Tenseiga adalah pedang pertama milik Sesshomaru yang terbuat dari taring ayahnya, Inu Daiyokai Toga. Pedang ini berasal dari pedang Totosai yang ditempa kembali menjadi 2 bagian yaitu Tenseiga dan Tessaiga milik Inuyasha.


Kemapuan dari Tenseiga ini juga cukup unik, karena tidak dapat melukai mahluk hidup serta hanya bisa membunuh mahluk dari ranah kematian, menyembuhkan luka dan bahkan dapat menghidupkan 100 orang dari kematian dengan satu kali ayunan.


Ketika memegang pedang itu, Satoru mengalami sakit kepala yang sangat hebat.


Sial... aku tak bisa tumbang sekarang...


Secara perlahan ia menarik pedang itu keluar dari sarungnya. Mengangkat nya keatas dan mengayunkannya.


Sebuah cahaya putih kehijauan muncul menyinari semua mayat yang berserakan. Secara perlahan tubuh mereka bergerak dan mulai menyatu kembali, darah-darah yang keluar tampak mengalir kembali kedalam tubuh mereka.


Satoru tampak sempoyongan dan menahan kakinya agar bisa tetap berdiri. Setelah semua tubuh orang-orang menyatu kembali, mata mereka juga mulai terbuka secara perlahan. Sedangkan Satoru terjatuh pingsan di tempat akibat kelelahan.


Dimana semua orang sudah terbangun layaknya tak terjadi apa-apa, Satoru terbaring pingsan di tanah. Charlotte tampak panik melihat hal itu, ia langsung berlari menghampiri Satoru.


Menggoyangkan tubuhnya "Hei, hei! apa kau baik-baik saja!?" Teriaknya dengan kawatir.


Semua warga terbangun "Apa yang terjadi...? bu~ bukannya kami sebelumnya sudah mati?" Mereka semua bergumam kebingungan.


Tidak ada yang bisa mereka ketahui dan hanya bisa bersyukur karena hidup kembali. Kejadian mengerikan sebelumnya hanya terlihat layak mimpi semata. Para pedagang melanjutkan perjalanan mereka dikawal oleh para kesatria, Satoru yang tak sadarkan diri dirawat oleh Charlotte.


"Hei, hei, Charlotte-sama... kenapa nih? tiba-tiba jadi perhatian banget sama dia? Apa jangan-jangan ketua suka sama dia?" Usil salah satu kesatria bertanya.


"Eh?" Charlotte tampak kaget dan mukanya memerah.

__ADS_1


Melihat muka ketua mereka memerah, semuanya jadi kaget dan berkumpul berbisik "Hei, semuanya... sepertinya aku barusan melihat wajah ketua memerah, apa itu hanya bayanganku?"


"Tidak, tidak, aku juga melihatnya"


"Hmmm... tak kusangka ketua bisa menunjukkan muka seperti itu..."


Melihat teman-teman nya berbisik-bisik, Charlotte tampak penasaran. "Apa yang kalian bisikkan?" Tanyanya dengan wajah heran.


"Ah, tidak ada apa-apa. Sepertinya ketua yang tegas, tetaplah seorang gadis yah" Ujar semua kesatria.


"Hah?" Charlotte tampak kebingungan dengan apa yang dikatakan oleh teman-teman nya.


Setelah sekian lamanya berjalan, mereka akhirnya sampai di kota dungeon, Ruinde. Sebuah kota yang memiliki berbagai macam dungeon, sebuah kota yang dipenuhi oleh banyaknya petualang, hingga disebut sebagai kotanya para petualang.


Niat awalnya, Charlotte dan yang lain ingin segera berangkat kedalam dungeon. Tapi, "Maaf semua, tapi aku ingin merawatnya dulu. Apa kita bisa berangkat setelah dia sadar?" Ujarnya dengan berat hati.


"Ah, soal itu. Tak apa-apa kok, ketua. Jika boleh kami ingin pergi kedungeon duluan, sekalian berlatih. Ketua duduk saja sambil merawatnya dengan baik, dan nikmati waktu kalian" Ucap kesatria yang lain dengan tersenyum.


"Apasih! yasudah, kalau kalian ingin pergi duluan juga gapapa!" Terlihat wajah kesal milik Charlotte, namun disisi lain tangannya dengan lembut menggenggam tangan Satoru secara tak sadar.


"Hahaha, maaf-maaf. Kami akan menunggu ketua kok, jadi jangan marah, yah?" Ujar kesatria yang lain sembari tertawa kecil melihat tingkah tak biasa ketua mereka.


"Kalau begitu kami kembali kekamar kami masing-masing dulu" Ujar mereka keluar secara persatu-satu dari ruangan.


"Ya..." Saat setelah semua orang keluar, Charlotte baru sadar jika tangan kirinya selama ini menggenggam tangan milik Satoru.


Mukanya langsung memerah karena malu, melepaskan genggamannya secara perlahan dan berjalan keluar ruangan. Setiap hari gadis itu terus melihat kondisi Satoru yang terbaring di kasur. Tak jarang juga ia tertidur di kursi saat menjaga Satoru.


Setelah satu minggu berlalu, Satoru akhirnya terbangun dari tidurnya. Di sisi kirinya terlihat seorang gadis cantik dengan rambut pirang tertidur. "Apa aku sudah mati? kenapa bisa ada seorang bidadari disini?" Gumamnya saat terbangun dan terpesona akan kecantikan gadis yang tertidur di sampingnya.


Satoru bangun duduk di atas kasur sembari melihat sekitarnya "Ini dimana? penginapan?" Gumamnya.

__ADS_1


__ADS_2