Kembalinya Sang Pahlawan Penentu Nasib Dunia

Kembalinya Sang Pahlawan Penentu Nasib Dunia
Chapter 54 : Gadis Setengah Vampir


__ADS_3

Di malam yang sunyi, Satoru membawa pulang seorang wanita berambut silver kerumahnya dalam keadaan tak sadarkan diri.


"Aku pulang," ucap Satoru sembari membuka pintu secara perlahan.


"Selamat da-," sambut Yukino. Namun, seketika ia berhenti berbicara saat melihat Satoru menggendong seorang gadis.


"Hei, siapa gadis ini ... ?" tanya Yukino dengan tatapan dingin.


"Aku menemukannya pingsan di jalan tadi, tak mungkin aku meninggalkannya begitu saja, kan?" jawab Satoru dengan tenang.


"Apa itu benar? Kau tak berbohong padaku, kan?" tanya Yukino dengan curiga.


"Aku mengatakan yang sebenarnya, kamu bisa tanya pada Madosi. Dia ikut bersama denganku tadi," ujar Satoru.


Madosi berubah menjadi wujud manusianya dan mengangguk pelan. "Yang dikatakan oleh Ayah itu benar, Ibu."


Gadis itu dibaringkan di atas sofa yang ada diruang tamu. Karena rumah yang mereka tinggali hanya memiliki dua kamar saja, satu kamar dipakai oleh Satoru dan kamar satunya digunakan oleh anak-anaknya.


"Ayah, bukankah lebih baik mengistirahatkannya dikamar?" ujar Madosi memberikan saran.


"Tapi ... ."


"Tak apa, kita bisa tidur bersama di dalam satu kamar!" ujar Madosi dengan bersemangat.


"A-aku tak keberatan," ucap Yukino dengan muka merona.


"Yasudah, aku akan membawa gadis ini kedalam kamar dulu."


Setelah membaringkan gadis itu di atas kasur, Satoru dan yang lainnya keluar dari kamar. Mereka pergi menuju kamar dimana Sabine dan Yuna tidur.


Suasana di dalam kamar terasa menjadi cukup canggung, jantung Yukink berdetak dengan begitu cepat karena gugup dan gelisah. Tidur bersama dengan seorang pria yang baru ia temui belum lewat satu hari, serta ditemani oleh ketiga anaknya, membuat Yukino sulit untuk tidur.


"Apa kamu kesulitan tidur, Yukino?" tanya Satoru sembari melirik kearah perempuan yang tidur bersamanya.


"U-umm, a-aku hanya gugup ... ," jawab Yukino dengan memalingkan mukanya yang memerah.


"Begitu yah, aku akan tidur di ruang tamu. Kamu bisa tidur bersama anak-anak di kasur," ujar Satoru sembari beranjak dari kasur.


Saat itu tanpa sadar tangan Yukino menarik pakaian Satoru. "Tidak, t-tolong tetaplah disini ... ," ucapnya.

__ADS_1


"Baiklah," jawab Satoru sembari memeluk Yukino dengan lembut.


Saat di dalam dekapan itu, Yukino merasakan perasaan yang begitu hangat dan nyaman di hatinya.


Perasaan apa ini? Rasanya begitu hangat dan nyaman saat laki-laki ini memelukku. Dadaku juga terasa sesak dan berdegum dengan sangat cepat. Apa mungkin aku jatuh cinta padanya? Ta-tapi, a-aku baru bertemu dengannya.


"Ada apa Yukino? Wajahmu sangat merah, apa kamu sedang demam?" ujar Satoru sembari menempelkan dahinya pada dahi Yukino.


"A-aa-aaa-aku tak apa-apa!" teriak Yukino dengan wajah yang semerah tomat. Ia memalingkan wajahnya dan masuk kedalam selimut.


Malam itu Satoru dan ketiga anaknya tidur dengan tenang, sedangkan Yukino hampir tak bisa tidur akibat menahan rasa malu. Malampun berlalu dan mentari mulai menyinari dunia kembali.


Saat bangun dari tidurnya, Satoru tidak melihat Yukino dan tercium aroma yang harum dari arah dapur.


"Apa dia sedang memasak sarapan?" gumam Satoru.


Satoru keluar dari kamar dan turun menuju dapur, disana terlihat seorang elf yang tengah memasak dengan senyum hangat di wajahnya.


"Selamat pagi Satoru," sapa Yukino lembut.


"Pagi juga Yukino," sapa balik Satoru.


"Mungkin sebentar lagi, aku akan mengecek wanita kemarin," jawab Satoru, lalu pergi menuju kamar dimana wanita yang ia bawa semalam tidur.


Saat berada di depan pintu kamar Satoru merasakan tekanan aura yang cukup kuat. Perasaan yang dialami olehnya hampir mirip saat merasakan tekanan dari seekor iblis. Tanpa berlama-lama Satoru langsung membuka pintu kamar dengan tingkat kewaspadaan yang tinggi. Namun, dia hanya melihat gadis yang ia bawa kemarin berdiri melihat keluar jendela.


Satoru melihat kesegala arah tapi, tak ada satupun orang lain di dalam ruangan itu. Gadis itu menoleh ke arah Satoru dengan wajah yang terlihat cukup sedih. Tak tau apa yang terjadi, walaupun masih merasakan aura dari seorang iblis Satoru tetap berjalan mendekati wanita itu.


"Apa mungkin kau seorang iblis?" tanya Satoru dengan waspada.


"I-iya... Tapi, bisa dibilang juga bukan... ," jawab gadis itu dengan murung.


"Apa maksudmu?"


Gadis itu menjelaskan soal dirinya kepada Satoru. Gadis berambut silver dengan mata merah yang ada di hadapan Satoru merupakan seorang half vampir (dhampir). Ia datang ke kota ini karena mengejar kakaknya yang merupakan vampir murni namun, saat hendak mencoba menghentikan kakaknya, dirinya dikalahkan dalam sekejap oleh sang kakak.


Ras iblis terbagi menjadi dua kubu yakni, para iblis yang mencoba untuk berdamai dan para iblis yang lebih memilih kehancuran.


"Begitu yah, aku paham," ucap Satoru sembari mengangguk pelan.

__ADS_1


"Kau percaya dengan kata-kataku?" tanya gadis itu dengan tak percaya.


"Benar, kau ada di kubu iblis yang menginginkan perdamaian, kan?" jawab Ferisu sembari memastikan.


"I-iya."


Gadis half vampir itu bernama Pricilia, ayahnya seorang vampir berdarah murni dan ibunya seorang manusia. Ibu Pricilia dan kakaknya berbeda, itulah kenapa kakanya merupakan vampir murni sedangkan Pricilia tidak.


Setelah perkenalan itu, Pricilia ikut turun kebawah untuk sarapan bersama. Saat sedang makan bersama Sabine menatap Pricilia dengan aneh sehingga membuat Satoru heran.


"Ada apa Sabine?" tanya Satoru penasaran.


"Ah, tidak. Wanita ini, Sabine bisa merasakan ada sedikit bau dari Eiji," jawab Sabine.


Mendengar hal itu Madosi dan Yuna terlihat cukup kaget.


"Maksudnya Eiji pernah bertemu dengannya?!" teriak Madosi dan Yuna.


"Iya," saut Sabine.


Pricilia tampak bingung dan tak mengerti dengan apa yang dibicarakan oleh anak-anak itu.


"Siapa Eiji? Aku tak mengenal orang dengan nama itu," ucap Pricilia dengan kebingungan.


"Eiji atau bisa dibilang Ring Of Magic," ujar Sabine.


Saat itu Pricilia sontak terkejut dan terdiam ketika mendengar nama itu. Ring Of Magic merupakan sebuah artifak yang berada di dalam istana kerajaan iblis yang menginginkan kedamaian. Pricilia pernah mencoba untuk menggunakan cincin itu namun, tidak berhasil karena tak diterima oleh sang artifak sebagai tuannya.


Kemampuan dari cincin itu berupa kemampuan penciptaan sihir, dimana pengguna bisa menggunakan berbagai macam jenis sihir hanya melalui imajinasinya saja. Ring of Magic merupakan artifak tipe penciptaan, sama seperti Swortbirth dan Sky Piercing Bow.


Saat mendengar itu Satoru tersenyum kecil. "Sekarang kita tau harus pergi kemana," ujarnya.


"A-apa kau ingin pergi ke wilayah iblis?" tanya Pricilia saat mendengar ucapan Satoru.


"Begitulah, tujuanku adalah mengumpulkan semua artifak yang tersebar," jawab Satoru.


"Ta-tapi tak ada satupun orang yang bisa memakainya, untuk apa kau mengumpulkan mereka?" tanya Pricilia.


"Aku bisa menggunakan kok, bukan hanya satu, tetapi semua artifak," jawab Satoru dengan tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2